Sederet Fakta Mengejutkan Robert Maudsley, Pembunuh Berantai Yang Menghabisi Nyawa Para Pedofil

Ilustrasi pembunuh berantai
Ilustrasi pembunuh berantai | www.merdeka.com

Maudsley tak bisa berhenti membunuh bahkan saat berada di dalam sel.

Bagi beberapa orang, membunuh tidak dianggap sebagai sesuatu yang mengerikan. Bahkan dapat dikatakan bahwa mereka ‘menikmatinya’ lantaran selalu mengulang pembunuhan lagi dan lagi. Para pembunuh seperti ini lebih dikenal sebagai serial killer atau pembunuh berantai.

Nah, salah satu di antara sejumlah pembunuh berantai kejam yang ada di dunia ini adalah Robert Maudsley (67), lelaki yang tak bisa berhenti membunuh meski berada di dalam penjara. Berikut ini adalah sederet fakta mengenai Maudsley yang telah dirangkum dari Daily Star (27/8/2020).

BACA JUGA: Psikopat Cilik! 3 Anak di Bawah Umur Ini Jadi Pembunuh Berantai Paling Sadis dan Kejam

1.

Pembunuhan pertama

Ilustrasi pembunuh berantai
Robert Maudsley (67) membunuh beberapa pelaku pedofil | www.dailystar.co.uk

Bisa dikatakan bahwa Maudsley sangat membenci seorang pedofil. Pasalnya ia mulai membunuh pertama kali ketika mengetahui bahwa kliennya, John Farrell, telah melecehkan beberapa anak secara seksual. Maudsley mengetahui hal itu dari foto-foto yang ia lihat.

Pembunuhan pertama yang dilakukan oleh Maudsley merupakan pembunuhan yang sangat kejam. Polisi meyebutkan bahwa korban ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan, bahkan mereka menjuluki korban dengan sebutan “blue” karena memar wajahnya yang membiru.

BACA JUGA: Pesta Pembuahan Massal Wanita Indonesia dan Bule Demi Miliki Keturunan Blasteran Viral di Medsos

Saat itu Maudsley dikirim ke rumah sakit jiwa yang memiliki keamanan ekstra, Broadmoor, yang juga menampung sejumlah tahanan yang sangat berbahaya di negara itu.

2.

Menyiksa narapidana penganiayaan anak           

Maudsley memang sangat membenci pedofil, bukti kuat yang membenarkan pernyataan itu adalah ketika pada tahun 1977 dia bersama narapidana lain, David Cheeseman, menganiaya salah seorang narapidana secara brutal.

David Francis merupakan tahanan dengan kasus penganiayaan anak. Kebrutalan Maudsley dan temannya dilakukan selama 9 jam di dalam sel. Bagian yang paling mengejutkan adalah ketika Maudsley memasukkan sendok ke dalam telinga korbannya sampai ke otak. Hal menjijikkan itu membuat Maudsley dijuluki sebagai Hannibal si Kanibal.

3.

Dimasukkan ke sel berkeamanan maksimum

Ilustrasi pembunuh berantai
Robert Maudsley (67) membunuh beberapa pelaku pedofil | www.dailystar.co.uk

Setelah melakukan pembunuhan itu, Maudsley kemudian dipindahkan ke sel dengan keamanan maksimum HMP Wakefield yang berada di Yorkshire. Namun, ternyata setahun kemudian ia kembali melakukan pembunuhan brutal lainnya.

Menjelang akhir Juli 1978, Maudsley menikam hingga tewas seorang istri dari pembunuh, Salney Darwood, dan menyembunyikan mayatnya di bawah tempat tidur selnya.

BACA JUGA: Sejumlah Potret Korban Pembunuh Berantai Sesaat Sebelum Dieksekusi, Merinding Lihatnya!

4.

Pembunuhan berikutnya

Tidak sampai di situ, ia kembali melakukan pembunuhan terhadap tahanan lain yang bernama Bill Roberts. Narapidana tersebut merupakan tahanan yang dipenjara karena telah melakukan pelecehan seksual terhadap gadis yang berusia 7 tahun.

Tanpa rasa kasihan, Maudsley membenturkan kepala narapidana kasus pedofil tersebut ke dinding sebelum akhirnya menusuk tengkoraknya menggunakan belati.

Setelah yakin korbannya sudah tewas, ia berjalan santai dan menghampiri sipir penjara sambil mengatakan bahwa akan ada sedikit untuk makan malam saat itu.

BACA JUGA: Pembunuh Berdarah Dingin Ini Ungkap Hal Mengerikan Atas Perbuatannya!

5.

Diisolasi ke dalam sel khusus

Staf penjara berpikir bahwa Maudsley terlalu berbahaya untuk tetap berada bersama tahanan lainnya. Maka ia dibangunkan sel khusus yang terletak jauh di dalam penjara. Sel milik Maudsley yang dijuluki sebagai glass cage atau kandang kaca itu mirip dengan sel Hannibal Lecter dalam Silence of the Lambs. Di mana ruangannya hanya berukuran 5,5, m x 4,5 m dengan jendela antipeluru besar yang dapat digunakan untuk mengamatinya.

Pihak penjaga akan memberikan makanan pada Maudsley melalui celah sempit yanga ada di bawah pintu, furnitur yang ada di dalam sel hanya terdiri dari meja dan kursi.

Di dalam sel itu, Maudsley hanya diizinkan keluar selama satu jam ketika latihan, ia juga dilarang untuk berhubungan dengan narapidana lainnya.

Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Maudsley saat itu. Ia hanya sendirian di dalam sel tertutup, dilarang keluar dan berhubungan dengan narapidana lain. Bahkan ia sempat meminta kapsul sianida untuk bunuh diri, namun permintannya ditolak.

6.

Trauma masa kecil

Ilustrasi pembunuh berantai
Maudsley merupakan korban kekerasan ayahnya sendiri | www.dailystar.co.uk

Ternyata kebencian Maudsley yang begitu mendalam terhadap para perofil karena pengalaman pahitnya sendiri di masa lalu. Ketika anak-anak lainnya mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah, ia malah sebaliknya. Maudsley yang lahir di Toxteth, Liverpool tersebut merupakan satu dari 12 anak yang pernah mengalami kasus pelecehan dan kekerasan dari ayah mereka. Maudsley juga pernah dikunci di dalam kamar selama 6 bulan, ia juga sempat terseret kasus narkoba ketika kabur dari rumah pada usia 16 tahun.

Artikel Lainnya

Itu tadi kisah tentang Robert Maudsley yang membuat banyak orang bergidik ngeri. Meski caranya salah, tetapi aksinya untuk melawan kejahatan pedofil patut dipuji.

Tags :