Tragedi Penikaman Massal di Jepang, Fenomena yang Berulang?

Penikaman massal
Penikaman massal terjadi di Kawasaki, Jepang, pada 28 Mei lalu |

Jepang telah melewati beberapa kali tragedi penikaman massal sebelumnya

Selasa (28/5) lalu, Jepang mengalami tragedi nahas penikaman massal di halte bus di Kawasaki. Insiden ini bermula saat seorang laki-laki menikam orang-orang yang sedang menunggu bus di halte tersebut pada pukul 07.44 waktu lokal.

Akibat aksinya tersebut, dua orang meninggal dunia dan 19 orang lainnya luka-luka termasuk 12 siswi sekolah dasar yang sedang menunggu bus sekolah datang.

Pelaku penikaman yang belakangan diidentifikasi sebagai pria berusia 51 tahun bernama Ryuichi Iwasaki kini telah meninggal dunia lantaran bunuh diri di tempat kejadian. Kematian pelaku ini membuat pihak kepolisian mengalami kesulitan untuk mendalami motif penikaman yang dilakukan Iwasaki.

Namun ini bukan kali pertama bagi Jepang untuk menghadapi aksi penikaman massal seperti ini. Sebelumnya, sempat terjadi beberapa insiden serupa yang juga menewaskan korban jiwa.

Penikaman massal
Penikaman massal di Jepang |

Tercatat, aksi penikaman massal sempat terjadi di tahun 2001, 2008, 2010 dan 2016. Korban dari aksi penikaman ini pun tidak diskriminatif. Mulai dari anak sekolah hingga orang dewasa menjadi korban dari kekejaman tersebut.

Di insiden terakhir, salah satu dari korban meninggal dunia adalah seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Jepang, Satoshi Oyama.

Baca Juga: Korea Selatan Optimis Pertemuan Ketiga Trump dan Kim Jong Un Akan Buahkan Hasil

Lalu, kenapa insiden penikaman massal ini terjadi berulang di negara dengan tingkat kriminalitas yang rendah dan dicap sebagai salah satu negara paling aman di dunia?

Jika dilihat secara statistik, Jepang memang memiliki angka kriminalitas yang rendah dan cenderung berkurang setiap tahunnya. Akan tetapi, hal ini tidak berbanding lurus dengan persepsi dan ketakutan masyarakat akan insiden kriminalitas.

Dilansir dari Channel News Asia, ketakutan masyarakat Jepang akan aksi kriminal justru meningkat dan mereka percaya bahwa kriminalitas di Jepang mengalami peningkatan.

Baca Juga: Benjamin Netanyahu Kebal Hukum, Ribuan Warga Israel Adakan Aksi Protes

Di sisi lain, Jepang juga memiliki tren lone attack atau penyerangan seorang diri yang berbeda dengan negara lain. Jika di negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Selandia Baru dan lainnya penyerangan itu dilakukan berbasis ideology, di Jepang penyerangan justru dilakukan karena pengucilan dan kurangnya hubungan sosial seseorang.

Hal-hal inilah yang kemudian kerap mendorong seseorang untuk melakukan aksi kriminal seperti penikaman massal.

Artikel Lainnya

Semoga aksi penikaman massal ini dapat diatasi dan ditelaah lebih dalam lagi hingga ke akar permasalahannya. Dibutuhkan aksi preventif yang tidak hanya berupa hukuman dan pengetatan sistem hukum untuk mengatasi permasalahan sosial seperti yang terjadi di Jepang saat ini.

Tags :