Mengerikan! Langit Sampai Hitam, Palembang Diselimuti Kabut Asap Parah

Kabut asap tebal selimuti Palembang
Kabut asap tebal selimuti Palembang | news.detik.com

Palembang diselimuti kabut asap parah akibat karhutla

Kabut asap kembali menyelimuti Palembang, Sumatera Selatan. Dalam foto-foto yang tersebar di media sosial, terlihat kabut asap tebal hingga menyebabkan langit tampak hitam. Kabut asap dampak Karhutla yang terjadi di Palembang ini dilaporkan BMKG menjadi yang terparah sepanjang 2019.

Kabut asap ini mengganggu aktivitas warga Palembang, bahkan tak ada kapal berlalu lalang di sungai Musi. Kapal-kapal itu terpaksa tak beroperasi karena terhalang kabut asap. Selain itu, aktivitas pendidikan juga terpaksa diliburkan.

1.

Kabut asap terburuk sepanjang 2019

Kabut asap tebal selimuti Palembang
Jembatan Ampera Palembang diselimuti kabut asap tebal | news.detik.com

Dilansir dari Detik.com, Senin (14/10/19), kabut asap sisa kebakaran lahan menyelimuti kota Palembang dan sekitarnya pagi ini. BMKG menyebut jika ini kabut asap terekstrem di tahun 2019. Kabut asap yang menyelimuti Palembang pada hari Senin (14/10/19) ini disebabkan oleh karhutla.

BMKG menyebut, kabut asap ini diperparah dengan kecepatan angin permukaan dari arah Timur-Tenggara yang mencapai 5-10 Knot (9-37 Km/Jam), sehingga kabut asap masuk sampai Palembang dan sekitarnya.

Baca juga: Tinjau Lokasi Karhutla, Kapolri Keheranan Karena Hal Ini

"Kondisi ini menjadikan kondisi terekstrem selama berlangsungnya Karhutla dengan indikasi kuantitas dan jarak pandang yang terjadi," kata Kasi Observasi dan Informasi BMKG stasiun SMB II Palembang, Bambang Beni dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Senin (14/10/2019).

Di wilayah Sumatera Selatan terdapat 260 titik panas di Palembang, 139 titik panas di Ogan Komering Ilir, dan 67 titik panas di Banyuasin. BMKG menghimbau kepada masyarakat untuk selalu menggunakan masker karena kabut asap bisa berdampak terhadap kesehatan.

2.

Upaya untuk mengurangi dampak karhutla

Kabut asap tebal selimuti Palembang
Helikopter saat lakukan water bombing | www.cnnindonesia.com

Sebelum kabut asap semakin tebal, pemerintah telah melakukan upaya untuk memadamkan titik api di Palembang. Helikopter dari Riau pada hari Jumat (11/10/19) lalu bertolak ke Sumatera Selatan untuk melakukan water bombing.

Baca juga: Jika Kabut Asap Tak Kunjung Reda, Singapura Akan Tutup Sekolah-Sekolah

"Riau dinilai sudah tidak banyak karhutla, status siaga darurat juga sudah dicabut di sana. BNPB menambahkan 1 helikopter dari Riau ke Sumsel. Hujan memang terjadi di Sumsel tapi sporadis dan kebanyakan bersifat lokal. Daerah yang terbakar malah tidak semua terdampak hujan," kata Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Ansori, Jumat (11/10).

Teknik Modifikasi Cuaca (TMC) juga sudah dilakukan dengan cara menyemai garam di awan, namun hal ini belum efektif karena awan penghujan belum juga muncul di Sumatera Selatan. Hingga sampai saat ini titik api masih banyak tersebar di Sumatera Selatan yang menyebabkan kabut asap tebal. Diketahui jarak pandang di Palembang tidak lebih dari 50 meter.

3.

Aktivitas warga terganggu

Kabut asap tebal selimuti Palembang
Kapal-kapal tak beroperasi | news.detik.com

Salah satu akibat dari kabut asap karhutla ini yaitu aktivitas warga menjadi terganggu. Kabut asap tersebut menyebabkan sesak napas hingga mata perih. Warga terpaksa tinggal di dalam rumah untuk mengurangi dampak kesehatan yang disebabkan kabut asap.

Baca juga: Soal Karhutla, Malaysia Tawarkan Bantuan untuk Indonesia

Seluruh aktivitas belajar mengajar juga terpaksa diliburkan. Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Palembang, Ahmad Zulinto menghimbau para siswa untuk belajar di rumah.

"Untuk hari ini seluruh sekolah mulai dari TK sampai SMP, baik negeri atau swasta sederajat semua diliburkan," kata Zulinto kepada wartawan, Senin (14/10/2019).

Tak hanya aktivitas pendidikan saja yang terhambat, kapal-kapal yang biasa berlalu lalang di sungai Musi juga terlihat tak melintas.

"Ini yang terparah sejak tahun 2019, ini tidak bisa lihat apa-apa. Kabut asapnya parah sekali," kata seorang juru kemudi kapal, Mariana, saat ditemui di detikcom Jembatan Ampera, Senin (14/10/2019).

Artikel Lainnya

Pemerintah menghimbau warga untuk tak banyak beraktivitas di luar ruangan dan selalu menggunakan masker karena dampak kabut asap ini bisa berbahaya bagi kesehatan.

Tags :