Peliknya Kebanjiran Undangan Buka Bersama: Risiko Kantong Kering!

Buka Bersama
Undangan buka bersama di bulan puasa |

Buka bersama jadi sarana penghubung silaturahmi, tapi bikin bokek!

Buka bersama menjadi salah satu agenda khusus di bulan Ramadan. Dengan dalih menjalin silaturahmi di bulan yang penuh berkah ini, buka bersama menjadi wadah yang tepat untuk menyambung kembali tali silaturahmi.

Untuk alasan tersebut, maka ajakan dan undangan buka bersama seringkali datang tanpa henti. Apa lagi bagi kita yang masih berada di kota asal dan tidak merantau ke mana-mana. Undangan berbuka bersama bisa datang dari teman TK sekali pun.

Tak jarang pula, undangan buka bersama menjadi satu-satunya ruang bagi kita untuk berkumpul lagi dengan teman-teman lama yang sudah terlanjur termakan kesibukan harian. Karena itu, kita juga nggak bisa protes dengan banyaknya ajakan berbuka bersama.

Buka Bersama
Buber dengan teman-teman jadi alasan kantong merana |

Namun, kondisi keuangan kita pun meronta dengan banyaknya undangan buber. Gaji yang belum seberapa, dengan undangan buka bersama yang begitu banyak dan mengharuskan kita merogoh kocek cukup dalam akan membuat kondisi keuangan kita porak poranda.

Meski dengan kehadiran THR, kerusakan finansial akibat agenda buka bersama yang terlalu sering tidak bisa dipungkiri. Terlebih pengeluaran kita di bulan puasa serta mudik lebaran nanti biasanya turut melonjak. Perayaan memang membuat kita cenderung menghabiskan uang lebih banyak.

Melihat keadaan tersebut, rasanya menolak undangan buka bersama karena kondisi dompet yang tak memungkinkan butuh untuk dilakukan. Pasalnya, kita juga harus mengelola keuangan agar tidak bocor terlalu banyak di bulan Ramadan mengingat kebutuhan di hari raya pun tak sedikit.

Artikel Lainnya

Tidak bisa dipungkiri pula, menolak undangan buka bersama karena keuangan yang menipis itu sering menjadi momok bagi banyak orang. Karena itu, cara lain untuk menolak adalah dengan mengatakan sudah ada janji lain sehingga tak bisa ikut hadir. Tapi, apakah berbohong di saat puasa tidak ikut mengurangi nilai puasa kita sendiri?

Penilaian ini tentunya kembali kepada masing-masing kita, apakah lebih baik kita menolak dengan berbohong atau menolak dengan jujur?

Tags :