Dulu Jadi Buah untuk Main Pasar-Pasaran, Kini Ciplukan Dijual Mahal di Supermarket!

Ciplukan
Dulu ciplukan tumbuh liar di berbagai lahan terbuka |

Siapa yang dulu suka ngemilin ciplukan?

Sebagai masyarakat Indonesia yang tinggal di tengah berbagai kekayaan alamnya, kita pasti menyadari terjadinya perubahan yang diam-diam namun pasti di lingkungan kita. Tidak hanya terkait modernisasi dan pembangunan yang kini memang digalakkan, namun juga pergeseran kondisi alam.

Dulu, ketika masih banyak sawah dan kebun, kita kerap menemukan bermacam jenis tanaman liar yang kita tidak ketahui namanya. Salah satunya adalah buah ciplukan.

Tanaman yang banyak tumbuh liar di lahan terbuka ini dulu sering digunakan untuk main pasar-pasaran oleh anak-anak. Buah ini pun disebut dengan nama yang berbeda di beberapa daerah, seperti Cecendet di Jawa Barat dan Ciplukan di Jawa Tengah.

Ciplukan
Ciplukan telah mengalami perubahan besar karena perkembangan zaman |

Ciplukan awalnya dibawa ke Indonesia oleh orang-orang Spanyol pada masa penjajahan. Tanaman ini kemudian tumbuh merajalela seperti gulma di ladang dan kebun masyarakat. Buah ciplukan ini kabarnya digunakan oleh penjajah untuk menjadi bahan makanan atau diolah menjadi selai.

Tidak hanya ke Indonesia, buah ciplukan pun diperkenalkan ke berbagai negara lain dan terbukti mampu bertahan hidup dalam berbagai musim serta cuaca.

Saat kita kecil pun mungkin kita kerap memakan buah ciplukan saat main dengan teman-teman mengingat buah ini memang berada di mana-mana. Saat lelah habis bermain, kita bisa dengan santai memetiki buah ciplukan dan memakannya.

Sayangnya, kini ciplukan sudah jarang kita temui di lingkungan sekitar. Kini kita malah justru banyak menemukannya di supermarket dengan harga yang menjulang tinggi.

Artikel Lainnya

Iya, buah kecil yang dulu tumbuh liar ini memang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Di berbagai supermarket di Jakarta, harganya dapat mencapai 500.000 Rupiah per kilogram. Di Brunei Darussalam, satu biji ciplukan dapat dihargai hingga 10.000 rupiah.

Apakah alam kita sudah berubah? Sesuatu yang dulu bisa kita dapatkan dengan mudah tanpa membayar kini jadi komoditas yang hanya bisa kita temui di supermarket besar. Atau justru komodifikasi ini yang lantas membuat ciplukan jadi jarang ditemui lagi di sekitar kita?

Tags :