Terbit Kebijakan Bayar Plastik 200 Perak, Memangnya Efektif Kampanyekan Diet Plastik?

Ilustrasi plastik berbayar
Ilustrasi plastik berbayar |

Nggak gratis sih, tapi cuma bayar seharga permen!

Kebiasaan menggunakan plastik sekali pakai merupakan ancaman besar bagi manusia dan lingkungan. Namun tidak bisa disangkal bahwa sangat sulit untuk tidak menggunakan plastik. Kepraktisan dan kemudahan adalah salah satu alasan yang membuat manusia tidak bisa berpaling dari plastik.

Tidak hanya itu, menggunakan plastik adalah salah satu budaya sopan santun di Indonesia. Misal, setiap kita membeli makanan, minuman, atau barang apapun, kita selalu ditawari plastik pembungkus. Hal ini pun membuat plastik seolah mustahil untuk berhenti digunakan karena kaitannya dengan aspek sosial masyarakat.

Mungkin manusia memang tidak bisa hidup tanpa plastik, sebagaimana yang dikatakan oleh Enri Damanhuri, Guru Besar dari Teknik Lingkungan Insititut Teknologi Bandung (ITB). Namun seperti yang dikatakan oleh Enri juga, bahwa manusia bisa berupaya untuk bijak mengolah sampah plastik sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Ilustrasi plastik berbayar
Ilustrasi plastik berbayar |

Kesadaran akan bahaya sampah plastik pun kian meluas. Berbagai upaya mulai digalakkan agar masyarakat semakin bijak menggunakan plastik dan belajar mengolah sampah plastik. Tidak hanya aktivis lingkungan yang getol mengampanyekan diet plastik, pihak perusahaan pun turut mengupayakan hal tersebut.

Seperti yang dilakukan oleh Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) yang menerapkan aturan Kantong Plastik Tidak Gratis (KPTG). KPTG ini mewajibkan konsumen untuk membayar minimal Rp 200 jika ingin menggunakan plastik.

Sayangnya, upaya dari Aprindo ini disambut banyak kritik dari berbagai pihak. Salah satu yang buka suara adalah Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, menyebut bahwa kebijakan KPTG dari Aprindo adalah sesat dan tidak efektif mengurangi penggunaan plastik karena hanya mengenakan nominal Rp 200.

Jika dirasa-rasa kembali, memang benar bahwa kebijakan KPTG bukanlah solusi tepat untuk pengurangan sampah plastik. Apalagi jika kantong plastik hanya dihargai Rp 200. Membeli 10 hingga 20 kantong plastik pun rasanya masih sanggup.

Bahkan sepertinya belum ada konsumen yang protes karena kantong plastik dihargai Rp 200. Demi kepraktisan dan kemudahan, nominal Rp 200 tentu sangatlah murah meriah.

Alih-alih menjual kantong plastik dengan harga Rp 200, YLKI memberi saran agar sebaiknya asosiasi semacam Aprindo ini menetapkan kebijakan penggunaan plastik yang direkomendasikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Badan Standardisasi Nasional (BSN), yakni plastik yang mudah terurai.

Artikel Lainnya

Lantas sebagai individu, apa yang harus kita lakukan untuk mendukung diet plastik? Tentunya hal pertama yang bisa dilakukan oleh setiap individu adalah hidup ramah lingkungan. Caranya? Meminimalisir penggunaan plastik.

Mulailah dengan membawa dan menggunakan tas belanja yang reusable. Beberapa supermarket dan minimarket sudah menjual tote bag khusus untuk berbelanja. Kemudian usahakan selalu membawa tempat makan dan minum agar tidak menggunakan plastik.

Banyak hal-hal lain yang bisa kamu lakukan untuk ikut diet plastik. Jika belum bisa mengolah sampah plastik seperti melakukan recycle, setidaknya kita sudah berusaha untuk lebih bijak dalam menggunakan plastik.

Ikut menyebarkan edukasi mengenai ancaman sampah plastik pun bisa kamu lakukan.Atau mungkin jika kamu ingin bergerak dengan skala lebih besar, kamu bisa bergabung menjadi relawan di Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik.

Tags :