Unik! Bukan Pria Atau Wanita, Inilah Jenis Kelamin Ketiga di Meksiko

Huxes, Meksiko
Huxe | Juchitan | dazedimg-dazedgroup.netdna-ssl.com

Juchitan sebuah kota yang toleran?

El Karmoya adalah band asal Bandung-Jatinangor yang umurnya relatif muda, dan kini hangat dipergunjingkan. Alasannya sederhana, menghibur. Dengan eksentrik El Karmoya mengusung langgam Latin-Meksiko.

Mereka merangsang tubuh kita untuk bersalsa-ria. Sementara, sosok jenaka sang vokalis, El Pablo alias Sufy. S. Moethahar, memaksa kita untuk terus melepaskan tawa.

Memutar lagu-lagu El Karmoya, sontak mengingatkan kita pada negara Latin paling besar itu, Meksiko. Namun, kali ini tidak membicarakan mereka atau musik Amerika Latin. Tapi ini tentang sebuah kota kecil, di pelosok selatan Meksiko.

Sebuah kota yang masyarakatnya memiliki jenis kelamin ketiga. Ya, mereka percaya bahwa jenis kelamin tidak hanya dua. Ada yang di antara pria dan wanita. Lantas, apakah itu?

Huxes, Meksiko
El Pablo | El Karmoya | i.ytimg.com

Kelamin Ketiga: Muxe

Ada pria dan ada wanita dan ada yang berada di antaranya, itulah saya. Kami adalah jenis kelamin ketiga," begitu ucap seorang warga Juchitan, Felina, kepada wartawan BBC.

Di Juchitan, secara tradisional, gender terbagi ke dalam tiga kategori: wanita, laki-laki dan Muxe. Klasifikasi ini telah dikenal dan juga dirayakan sejak masa pra-Hispanik, sebelum kolonisasi Spanyol.

Seorang antropolog Meksiko, Pablo Céspedes Vargas lewat artikelnya Muxes at work:between community belonging and heteronormativity in the workplace, menjelaskan bahwa klasifikasi gender dalam perspektif barat, seperti laki-laki-perempuan transvesti, laki-laki-perempuan transeksual, “gay feminin” atau “gay maskulin” tampaknya termasuk dalam kategori Muxe.

Secara ringkas dan sederhana, seorang warga Juchitan, Lukas Avendano alias Angel, menjelaskan demikian:

Pada dasarnya, Muxe adalah siapa saja yang lahir sebagai laki-laki tetapi tidak bertingkah laku secara maskulin," katanya.

Muxes, Meksiko
Muxe | Ola Synowiec | ichef.bbci.co.uk

Riwayat Kudus Muxes: Tas Ketiga Santo Vicente yang Bocor

Gereja utama di kota itu adalah Parroquia de San Vicente Ferrer (Paroki San Vicente Ferrer) yang berasal dari abad ke-17. Ada kisah kudus yang menarik antara Muxes dan santo Vicente Ferrer.

Konon, kita semua seperti tanaman, berawal dari suatu bibit. Pada suatu hari, santo Vicente Ferrer melalukan sebuah perjalanan. Ia membawa tiga tas berisi banyak sekali bibit.

Satu tas berisi bibit wanita, tas kedua berisi bibit pria dan tas ketiga isinya bibit campuran. Menariknya, saat berada di Juchitan tas ketiga bocor. Bibit-bibit campuran tumpah berjatuhan.

Bibit campuran tersebut, tumbuhlah menjadi Muxes. Itulah sebabnya mengapa ada banyak Muxes di tanah Juchitan. Meskipun begitu, Felani berpendapat, bahwa sebetulnya keberadaan Muxes itu tidak banyak, akan tetapi penerimaan sosial dari masyarakatlah yang memunculkan keberadaan mereka.

Huxes, Meksiko
Huxe | Zofia Radzikowska | www.bbc.com

Muxes Lestari di Tanah Matriarkat yang Toleran, Kuat dan Penuh Berkat: Juchitan!

Juchitan de Zaragoza adalah sebuah kota kecil di Istmo de Tehuantepec, negara bagian Oaxaca, Meksiko. Juchitan menjadi kota Meksiko pertama yang pro-pemerintahan soasialis sayap kiri. Pada perkembangan sejarah, para wanita Juchitan kemudian mendukung kelompok komunis, COCEI.

Politik progresif dan etos kerja yang kuat di kawasan ini telah menumbuhkan tradisi wanita tangguh. Pada pertengahan 1860-an, misalnya, wanita Juchitan bergabung dengan kelompok pemberontak untuk melawan pemerintah.

Menurut Blossoms, wanita Juchitan mengisi rok mereka dengan batu yang akan digunakan untuk melempari para tentara. Di saat banyak kelompok lain memilih kompromi dengan pemerintah, wanita Juchitan tetap teguh bangkit melawan pemerintahan yang represif itu.

Bagi banyak orang, kota Juchitan di Meksiko mungkin adalah utopia. Wanita aktif berkegiatan politik, bisnis, kebudayaan, dst. Selain itu, semangat toleransi untuk peran gender alternatif pun mengakar di masyarakat dengan begitu kuat. Gay dan lesbian sepenuhnya diterima dan didukung.

Peran wanita mungkin merupakan aspek terkuat dalam tubuh kebudayaan mereka. Mereka tahu bagaimana menjaga diri mereka sendiri."

Kecantikan wanita Juchitan adalah ketangguhan. Ini menjadi roh yang mengilhami wanita Meksiko generasi-generasi selanjutnya, seperti Sergei Eisenstein, ataupun juga Frida Kahlo. Dalam tanah matriarkat yang toleran, kuat dan penuh berkat inilah Muxes diperlakukan dengan terhormat.

Huxes, Meksiko
Muxe | Zofia Radzikowska | www.bbc.com

Para Muxes yang Duduk dengan Terhormat di Meja Makan Masyarakat

Vela de Las Intrepidas merupakan Parade yang diselenggarakan untuk merayakan keberadaan para Muxes. Dalam parade yang diadakan setiap bulan November, para Muxes akan turun ke jalan bersama masyarakat yang lain membawa aneka kerajinan, nyanyian, dan bunga-bunga yang semerbak. Mereka berjalan dalam suasana kebersamaan yang hangat.

Selain parade, biasanya diadakan pula sebuah pesta. Pada pesta itu masyarakat akan duduk dan makan bersama. Di meja-meja yang indah dengan dekorasi dan aneka ragam bunga, makanan dan minuman tradisional, para Muxes duduk dengan terhormat bersama masyarakat dari kalangan lainnya.

Masyarakat Meksiko percaya bahwa Muxes juga anak-anak Tuhan. Mereka dianggap piawai merawat orang sakit dan melayani lansia. Ini adalah alasan mengapa orang tua di Juchitan tidak keberatan jika anak-anak mereka memilih gender ketiga. Keberadaan mereka sama sekali tidak dianggap suatu penyakit apalagi aib.

Masyarakat Juchitan menganggap Muxes tidak hanya memiliki dimensi gender seksual, tapi juga gender sosial. Mereka dianggap memiliki peran yang juga penting dalam komunitas.

Dalam suatu kesempatan, Noe Diaz, seorang warga Juchitan, menerangkan mengenai peran sosial para Muxes. Sebagian para pria Juchitan berada di laut atau di ladang, sementara para perempuan banyak yang sibuk di pasar, maka tidak ada yang mengurus rumah dan keluarga. Kekosongan itulah yang diisi oleh Muxes.

Memiliki seorang anak laki-laki Muxes yang sukarela membantu mengurus rumah dan adik-adiknya adalah suatu berkah bagi seorang ibu. Namun, mengurus rumah bukan satu-satunya peran yang mesti diemban oleh para Muxes.

Masyarakat Juchitan tidak melarang Muxes untuk memainkan peran sosial yang lain. Misalnya, tak sedikit dari mereka yang berbisnis kerajianan seni rakyat, membuka tempat kecantikan, menjadi guru sekolah dasar, atau seperti Lukas Avendano yang menjadi sutradara dan sekaligus pemain di sebuah kelompok teater.

Salah satu pementasan teater Avedano yang mendunia adalah Réquiem para un Alcaraván (Requiem for a Alcaravan), pementasan yang banyak menekankan tradisi Katolik dan indentitas Muxes

Artikel Lainnya
Huxes, Meksiko
Zofia Radzikowska | www.bbc.com

Belajar dari Sebuah Khotbah: Muxes, Gereja, dan Padri Panchito

Para Muxes selalu memiliki peran penting di gereja Katolik setempat. Biasanya, merekalah yang mendekorasi gereja untuk acara-acara tertentu. Para Muxes memiliki kelompok persaudaraan di gereja. Gereja secara bijak mengakomodasi tradisi gender ketiga yang sudah berakar pada budaya lokal.

Padri Panchito adalah julukan bagi Arturo Francisco Herrera Gonzalez. Ia seorang padri paroki. Pandangan ia terhadap Muxes begitu terbuka. Sikap penerimaan terhadap keberadaan Muxes, bagi Padri Panchito, adalah bagian dari sikap menghormati keberagaman sifat yang diciptakan oleh Tuhan.

Dalam sebuah khotbah, ia pernah menyampaikan bahwa bagi dia Tuhan menciptakan alam yang pada gilirannya “memutuskan” bagaimana manusia-manusia itu. Dia menciptakan alam, serta manusia, lengkap dengan sifat-sifatnya. Dan di antara itu semua banyak sekali kaum yang berbeda-beda, dan hal tersebut benar-benar natural.

Ia menambahkan, bahwa Tuhan menciptakan kita sesuai dengan kehendak-Nya, dan masing-masing dari kita unik. Tidak ada dua individu yang benar-benar identik. Kita harus menghormati itu.

huxe
www.nvinoticias.com

Haruskah Kita Menjadi Toleran?

Kondisi yang terjadi di Juchitan kiranya merupakan suatu kondisi yang langka atau bahkan susah untuk terselenggara di sini. Namun, begitulah adanya, Muxes adalah suatu realitas sosial yang ada di belahan dunia sana, Juchitan.

Hingga kini, isu LGBT memang menjadi salah satu pembicaraan yang kerap panas di ruang-ruang publik. Setiap orang tentu memiliki pandangan dan penerimaan yang berbeda-beda. Perbedaan itu, sebagaimana tadi kata Padri, sangat natural dan harus dihargai.

Patutkah kita belajar dari Juchitan? Setujukah kamu dengan pandangan Padri Pachinto? Bagaimana kamu menilai Muxes atau kaum minoritas yang lainnya? Kita punya hak yang sama untuk berpendapat, maka bagaimana pendapatmu?

Tags :