Tak Lagi Sembunyi-sembunyi, Ornamen Natal Dijual Terang-terangan di Arab Saudi

Ornamen Natal di Arab | international.sindonews.com

Disebut terjadi setelah pihak berwenang memotong kekuasaan para ulama penegak tradisi konservatif.

Sebuah pemandangan langka terjadi di Riyadh, Arab Saudi saat beberapa toko suvenir menjual pernak-pernik dan berbagai ornamen Natal. Mulai dari pohon cemara, hiasan, hingga lampu yang berkilauan. Pemandangan ini terjadi tiga tahun terakhir setelah sebelumnya benda-benda tersebut hanya bisa dijual secara sembunyi-sembunyi.

Hal ini terjadi karena adanya pelonggaran dari Putra Mahkota Mohammad bin Salman (MBS) yang berjanji akan menjadikan negaranya lebih terbuka dan moderat. Melansir dari Sindonews.com, pihak berwenang juga disebut telah memotong kekuasaan ulama yang sudah sejak lama menegakkan tradisi konservatif sehingga ornamen dan pernak-pernik Natal bisa dijual secara terang-terangan di negara tempat kelahiran Nabi Muhammad tersebut.

BACA JUGA: Tagar #TangkapAnakPakLurah Trending, Gibran Disebut Terseret Skandal Korupsi Bansos

1.

Terjadi tiga tahun terakhir

Ilustrasi | international.sindonews.com

Dilansir dari Sindonews.com, Dijualnya pernak-pernik Natal secara terbuka di Arab Saudi dalam tiga tahun belakangan ini disebut merupakan penanda pelonggaran pembatasan sosial. Hal tersebut terjadi setelah Putra Mahkota Mohammad bin Salman berjanji untuk mengarahkan kerajaan Teluk konservatif itu menuju ke 'Negara Islam terbuka dan moderat'.

“Saya tidak pernah membayangkan saya akan melihat ini di Arab Saudi," kata seorang penduduk Riyadh di Toko yang menjual pohon natal dan pernak-perniknya, dikutip dari AFP.

"Saya terkejut," kata warga lain yang menolak disebutkan namanya.

BACA JUGA: Dari Tri Rismaharini Hingga Djarot Syaiful, Berikut 5 Nama Calon Menteri Sosial Usulan PDIP

2.

Selama ini dijual secara diam-diam

Ilustrasi penjualan ornamen Natal di Arab Saudi | en.baaghitv.com

Para pendatang dari Filipina, Lebanon, dan beberapa negara lain selama beberapa dekade menjalankan perayaan Natal secara diam-diam dan tertutup bersama kelompok diasporanya masing-masing. Begitu pula dengan penjualan barang-barang yang mendukung perayaan Natal. Mereka mendapatkannya secara diam-diam dan biasanya merupakan barang-barang yang didatangkan dari Lebanon dan Suriah.

"Sangat sulit untuk menemukan barang-barang Natal seperti itu di kerajaan," kata Mary, seorang ekspatriat Lebanon yang berbasis di Riyadh.

“Banyak teman saya biasa membelinya dari Lebanon atau Suriah dan menyelundupkannya ke negara ini,” lanjutnya.

BACA JUGA: Oknum Polisi Bali Peras Wanita Open BO, Dipaksa Oral Seks dan Setor Uang Bulanan

3.

Tidak hanya ornamen Natal tapi juga Halloween

Hiasan Natal | www.arabnews.com

Dilansir dari Sindonews.com, seorang manajer toko di Riyadh bernama Omar mengatakan bahwa toko tempat ia bekerja tak hanya menjual ornamen Natal, ornamen-ornamen Helloween pun tersedia di toko tersebut. Hal ini sedikit mendobrak keyakinan tradisi konservatif yang melihat Halloween sebagai tradisi Amerika yang melenceng dari ajaran Islam.

Dengan kebijakan yang dijanjikan oleh Putra Mahkota, polisi agama yang dulu sangat kuat kini sedikit terpinggirkan. Penyelenggaraan konser musik berbagai aliran, bioskop, dan hiburan lain telah dihadirkan meskipun pembangunan gereja dan kuil masih dilarang.

4.

Masuk daftar hitam soal kebeasan beragama versi Amerika

Ilustrasi | pressfrom.info

Amerika Serikat, lewat Departemen Luar Negeri kembali menyebut bahwa Arab Saudi merupakan salah satu negara yang masuk daftar hitam kebebasan beragama. Negara dalam daftar tersebut disebut melakukan pelanggaran berat terhadap kebebasan beragama.

"Negara-negara tersebut dituduh terlibat atau menoleransi pelanggaran sistematis, berkelanjutan, pelanggaran berat terhadap kebebasan beragama," kata Departemen Luar Negeri AS dalam laporan tahunannya dikutip dari Sindonews.com.

Artikel Lainnya

Meskipun begitu, dicatat pula bahwa negara yang dipimpin oleh Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud ini telah menunjukkan beberapa kelonggaran. Menjadi tuan rumah para pejabat yang terkait Vatikan dan Yahudi dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu bukti. Begitu pula dengan komitmen pejabat lokal yang sejalan dengan Putra Mahkota yang mengampanyekan perang melawan ekstremisme di dunia pendidikan yang menyebut non-muslim dengan sebutan 'babi' dan 'kera'.

Tags :