Listrik Mati Massal Buat Kualitas Udara Jakarta Membaik, Mungkinkah Jadi Solusi?

Sebelumnya Jakarta beberapa kali duduk di peringkat atas kualitas udara terburuk

Padamnya listrik masal pada Minggu 4 Agustus lalu di wilayah Jabodetabek tentu memberikan beberapa dampak terhambatnya aktifitas masyarakat. Mulai dari komunikasi, transportasi, sampai ke pekerjaan ikut terkena imbasnya.

Ternyata tak hanya hal-hal tersebut yang kena imbas padamnya listrik massal, tapi udara di DKI Jakarta juga ikut terdampak. Diketahui kualitas udara Jakarta membaik pada Senin 5 Agustus pagi.

Suasana padamnya listrik di Jabodetabek | www.google.com

Jakarta yang biasanya menduduki peringkat atas wilayah dengan kualitas udara buruk, usai padamnya listrik masal dari pantauan Air Visual pada pukul 08.04, peringkat kualitas Jakarta turun sampai peringkat 22.

Baca juga: Mati Lampu Terburuk Jakarta-Jawa Barat Diramaikan Isu Sabotase, Ini Kata PLN!

Skornya mencapai 75 atau kategori moderat setara dengan parameter pm 2.5 dengan konsentrasi 23.5 µg/m³.

Sedang yang menduduki peringkat pertama wilayah dengan kualitas udara terburuk adalah Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), dengan skor 160. Lalu disusul oleh Hanoi, Vietnam dengan nilai 147. Setelahnya ada Santiago, Chile dengan skor 144.

Meski begitu, beberapa waktu lalu dikabarkan bahwa pembangkit listrik yang ada di Jakarta dan sekitarnya dinilai tak berkontribusi besar dalam buruknya kualitas udara di Jakarta.

Hal itu karena sebagian besar pembangkit listrik yang digunakan di Jakarta adalah gas alam yang memiliki kandungan pencemaran yang rendah,

Baca juga: Jangan Panik! Begini Cara Selamatkan Diri Saat Terjebak di Lift yang Mati

Dilansir melalui Liputan6.com, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batubara yang ada, sudah dilengkapi dengan continous emission monitoring system (CEMS) yang berfungsi untuk memonitor emisi secara berkelanjutan.

"Kebijakan pengembangan ketenagalistrikan di Indonesia sangat memperhatikan kebijakan penurunan emisi dan Gas Rumah Kaca (GRK) Nasional," kata Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Wanhar di Jakarta, Sabtu (3/8/2019).

PT PLN (Persero) menegaskan, tingginya tingkat polusi udara yang ada di Jakarta bukanlah berasal dari PLTU, karena letak infrastruktur yang jauh dari Jakarta.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN I Made Suprateka, karena menurutnya emisi yang dihasilkan dari pembangkit listrik di Jakarta relatif kecil.

"Kalau lihat ke atas gedung-gedung itu asap semua. Katanya salah satu kontributor polusi Jakarta adalah PLTU. Setelah berdiskusi bukan PLTU," kata Made, di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Kamis (1/8/2019).

Seorang netizen di media sosial Twitter dengan nama akun @kachaww_ membandingkan kalau mati listrik 19 jam lebih bisa mengatasi polusi ketimbang menggunakan kendaraan umum, mengurangi konsumsi plastik atau menanam tumbuhan lidah mertua.

Artikel Lainnya

Beberapa netizen pun menanggapi cuitan tersebut, beberapa mengaku setuju jika hawa dan udara di Jakarta lebih membaik.

nino 👩‍ ⚖‏ @europenextyears seriously tho pagi2 bangun kyk di desa hawanya, btw aku depok sie

melia‏ @melanmelancholi

Serius nih kemaren magrib hawanya juga rada segeran di bekasi.. tapi parahnya orang2 pada keluar jalan raya sampe macet..

Sebelumnya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah mengeluarkan instruksi Gubernur guna menekan polusi udara. Diantaranya adalah, pembatasan usia kendaraan umum di Jakarta, paling tua 10 tahun. Pengetatan uji emisi kendaraan umum maupun pribadi, perluasan ganjil genap dan penaikan tarif parkir.

Sebenarnya banyak yang bisa menjadi faktor buruknya kualitas udara di Jakarta. Tapi melihat membaiknya udara Jakarta usai padam listrik massal menurutmu gimana guys?

Tags :