Kasus Perkosaan Reynhard Sinaga Curi Perhatian, Susah-susah S3 Kok Jadi Psikopat?
09 Januari 2020 by Titis Haryo
Bagaimana bisa kaum terpelajar jadi psikopat ya?
Nama Reynhard Sinaga sedang menjadi perbincangan hangat publik setelah kasus pemerkosaannya pada 159 pria di Inggris terbongkar. Dia bahkan dijuluki sebagai pemerkosa paling buruk dalam sejarah dunia.
Mahasiswa pasca sarjana University of Leeds itu kini telah divonis hukuman penjara seumur hidup yang dijatuhkan oleh Pengadilan Manchester.
Lalu, bagaimana bisa seorang yang memiliki pendidikan tinggi malah jadi psikopat yang mengerikan ya?
Kasus Reynhard Sinaga perkosa 159 pria

Publik gempar ketika Pengadilan Manchester menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup pada seorang mahasiswa pasca sarjana asal Indonesia bernama Reynhard Sinaga.
Keputusan mengejutkan ini diberikan pada Reynhard setelah terbukti melakukan kekerasan seksual hingga pemerkosaan pada 159 orang.
Baca Juga: Chat WA ini Ungkap Cara Reynhard Sinaga Gagahi Pria, Pakai "Ilmu Hitam!"
Polisi bahkan meyakini jika korban dari kebrutalan Reynhard mencapai lebih dari 190 orang. Hukuman berat pada Reynhard pun sepertinya sangat pantas diberikan jika melihat begitu kejinya perbuatannya.
Reynhard sendiri mendapatkan julukan sebagai psikopat hingga ‘pemerkosa terbesar di dunia’ oleh sebagian besar media-media di Inggris.
Hal ini tidak lepas dari sikap Reynhard yang tampak merasa tak bersalah dengan aksinya itu. Dia pun sempat membantah jika kekerasan seksual yang dilakukannya merupakan paksaan.
Namun, semua itu terbantahkan setelah polisi menemukan bukti kuat berupaka rekaman video aksi pemerkosaan yang dilakukan Reynhard yang tersimpan dalam dua handphone miliknya.
Gilanya lagi, rekaman video cabul yang dilakukan oleh Reynhard diklaim kepolisian Manchester setara dengan rekaman 1.500 DVD.
Dalam rekaman tersebut juga digambarkan jika Reynhard memperkosa para korbannya saat berada dalam keadaan tidak sadar.
Polisi lantas menemukan obat bius yang dinamakan ‘magical black poison drip love’ setelah melakukan penyelidikan mendalam.
Baca Juga: Sosok Reynhard Sinaga, "Satanis Gay" Dalam Kasus Pemerkosaan Terbesar di Inggris
Ramuan bius itu akhirnya diketahui sebagai sebuah obat keras bernama gamma hydrozbutrate atau GBH.
Kepolisian semakin yakin jika para korban dibius sebelum menjadi pelampiasan hasrat seksual mahasiswa yang kini sedang menempuh pendidikan di jurusan Sosiologi University of Leeds itu.
Benarkah kaum terpelajar rawan jadi psikopat?

Reynhard sendiri bukanlah kalangan sembarangan, dia adalah seorang terpelajar yang lahir dalam keluarga yang berkecukupan.
Lihat saja dari catatan pendidikannya yang sangat mentereng, pada tahun 2006 dia menyelesaikan pendidikan arsitektur di Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Setahun kemudian dia merantau ke Inggris untuk melanjutkan studi di Manchester. Jeniusnya, dia berhasil meraih tiga gelar magister dengan mulus.
Reynhard lantas melanjutkan studi doktoral di University of Leeds hingga akhirnya ditangkap dalam kasus pemerkosaan sadis.
Baca Juga: Misteri Kematian Hakim PN Medan Terbongkar, Dihabisi Istri Pakai Jasa Pembunuh Bayaran!
Orang tuanya juga diketahui sebagai salah satu pengusaha yang cukup ternama yang bergerak dalam beberapa bidang usaha.
Dalam kasus pemerkosaan ini, Reynhard sendiri menunjukkan sejumlah gejala psikopat dimana diantaranya membantah telah melakukan kekerasan seksual pada korbannya dan merasa tidak menyesal.
Dia juga diketahui merampas sejumlah harta benda pribadi para korbannya seperti handphone dan digunakan sebagai ‘tropi kenang-kenangan’ usai melampiaskan nafsunya.
Namun, sebuah pertanyaan besar lantas terngiang dalam benak kita ketika melihat latar belakang seorang Reynhard. Bagaimana bisa seorang yang memiliki ‘pendidikan terpelajar’ bisa menjadi psikopat?
Beberapa ahli menilai jika sikap psikopat seperti yang dilakukan Reynhard bisa dipicu dari berbagai hal. Diantaranya adalah pola asuh yang diterima saat dalam masa pertumbuhan hingga adanya trauma pada perilaku kekerasan menyimpang.
Dikutip dari NYPost.com, seorang peneliti asal Norwegia bernama Dr Aina Gullhagen menjelaskan jika para penjahat yang memiliki sikap psikopat biasanya memiliki masa lalu yang kelam.
“Tanpa pengecualian, para penjahat terebut telah menjadi korban pelecehan buruk di masa kecil mereka”,
Melihat penjelasan Aina, jelas hal ini bisa menjelaskan bagaimana bisa seorang yang memiliki catatan pendidikan yang baik tetap bisa menjadi seorang psikopat dan bertindak jahat.
Selain itu ada juga pengaruh dari pola asuh orang tua yang berdampak dalam menumbuhkan bibit psikopat pada diri seseorang.
“Banyak orang tua yang berada di tengah antara terlalu mengabaikan atau terlalu posesif. Tapi tidak bagi para psikopat, dari hasil penelitian menunjukkan mereka mendapatkan pola asuh yang berlebihan dari dua cara tersebut,” jelasnya.
Hal ini juga cukup menguatkan jika anak-anak yang terpelajar mungkin saja memiliki tekanan tersendiri akibat pola asuh dalam keluarganya yang mungkin saja terlalu abai atau bahkan terlalu mengekang.
Baca Juga: Pakai Narkoba dan Nekat Rekam Polwan Mandi, 2 Oknum Polisi Diciduk Rekan Sendiri!
Bila sudah seperti ini, para peneliti pun memastikan para psikopat akan mencoba untuk melancarkan aksi-aksi brutal pada orang disekitarnya demi mendapatkan kepuasan dan juga rasa balas dendam.
Belum lagi kaum terpelajar juga memiliki kemampuan dalam memanipulasi seseorang dengan kata-katanya.
Para peneliti pun mendapati sebuah fakta jika sebagian besar pemerkosa psikopat memiliki tampilan yang menarik hingga kemampuan komunikasi yang di atas rata-rata. Sebuah kemampuan yang sebagian besar dimiliki oleh sosok yang terpelajar.
Kasus serupa yang tak kalah mengerikan

Pola kejahatan yang dilakukan oleh Reynhard sebenarnya juga memiliki kemiripan dengan seorang pembunuh berantai asal Jepang, Joji Obara.
Joji merupakan salah satu pembunuh berantai paling keji setelah didakwa atas kasus pemerkosaan dan pembunuhan 400 perempuan selama tahun 1992 hingga 2000.
Kasusnya pun menjadi salah satu yang paling mendapat sorotan dunia dan membuat pemerintahan Jepang mendapatkan tekanan yang begitu besar.
Kenapa bisa ada kemiripan antara kasus Reynhard dan Joji? Hal ini tidak lepas dari background keduanya yang memiliki catatan pendidikan yang mentereng.
Baca Juga: Misteri Penculikan Suami Saat Hari Ulang Tahun Istri di Malang, Ternyata Cuma Prank!
Joji semasa hidupnya berada dalam kemewahan setelah keluarganya yang merupakan kolektor mendapatkan kekayaan melimpah dari bisnis properti dan perabot pachinko.
Dia lantas mengenyam pendidikan di sebuah sekolah private di Tokyo. Tak lama kemudian, Joji melanjutkan pendidikannya di sekolah menengah bergengsi hingga ke Keio University.
Gelar sarjana politik dan hukum pun didapatkan dengan mudah oleh Joji. Namun, masa kelam Joji mulai muncul saat orang tuanya meninggal dan dirinya mulai bermain investasi bodong. Dirinya juga terjerumus dalam kegelapan dunia gangster Yakuza.
Hal ini akhirnya membuat Joji menjadi kriminal hingga pemerkosa psikopat. Banyak wanita jadi sasaran nafsu birahinya, bahkan dirinya juga membunuh para wanita-wanita tersebut. Yang terburuk, Joji selalu merekam adegan pemerkosaannya dengan modus memberikan obat bius pada para korbannya.
Joji pun berhasil ditangkap dan mendapat 10 dakwaan terkait kasus pemerkosaan yang dilakukannya. Pengadilan Tinggi Jepang pun memberikan hukuman penjara seumur hidup pada Joji hingga akhirnya diketahui korban pemerkosaan Joji lebih dari 400 orang.
Kasus pemerkosaan yang dilakukan Ryenhard Sinaga memang sangat membuat banyak orang di Indonesia bahkan dunia menjadi gempar.
Ratusan pria jadi korban aksi cabul Reynhard yang akhirnya dijuluki sebagai pemerkosa psikopat terburuk dalam sejarah.
Memang kejahatan seseorang kurang bisa dikaitkan dengan latar belakang pendidikannya, namun sejumlah fakta di atas menjadi bukti bahwa penjahat itu tidak melulu dilakukan oleh orang yang kekurangan dalam segi harta tapi juga bagi mereka yang tak mendapatkan perhatian secara emosi.