Jika Kabut Asap Tak Kunjung Reda, Singapura Akan Tutup Sekolah-Sekolah

Kabut asap di Singapura | nasional.sindonews.com

Kabut asap akibat karhutla telah menyebar ke Singapura dan Malaysia

Kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatra serta Kalimantan tak hanya merugikan masyarakat Indonesia. Warga negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura pun terkena dampaknya. Belum lama ini, Singapura mengatakan bahwa pihaknya akan menutup sekolah jika kabut asap dari karhutla di Indonesia semakin memperburuk kualitas udara.

1.

Singapura akan menutup sekolah

Kabut asap di Singapura | internasional.kompas.com

Kementerian Pendidikan Singapura (MOE) menyampaikan pernyataan bahwa Singapura akan menutup sekolah jika kualitas udara tak kunjung membaik.

“Seperti pada 2015 lalu, kami akan mempertimbangkan menutup sekolah jika perkiraan kualitas udara pada hari berikutnya mencapai tingkat berbahaya,” ungkap Kementerian Pendidikan Singapura melalui situs resminya.

Pada hari Senin, 16 September 2019, PSI di wilayah utara Singapura dilaporkan hanya mencapai angka 77. Sementara itu, di wilayah lain Singapura, angka PSI menembus angka 79 hingga 86. Oleh sebab itu, hingga saat ini pemerintah Singapura memutuskan untuk tetap membuka sekolah karena kualitas udara tidak seburuk pekan lalu.

Baca Juga: Soal Karhutla, Malaysia Tawarkan Bantuan untuk Indonesia

“Ketika sekolah kembali dibuka besok, orangtua dapat tenang karena Kementerian Pendidikan menjamin sekolah siap merespons dan mengambil langkah manajemen asap berdasarkan anjuran Kementerian Kesehatan,” dikutip dari pernyataan MOE.

2.

Kesehatan siswa dijamin

Kabut asap di Singapura | www.cnnindonesia.com

MOE menjelaskan bahwa seluruh ruangan kelas sudah dilengkapi dengan alat penjernih udara. Alat tersebut difungsikan untuk menjamin kesehatan siswa di tengah kondisi yang tidak menentu karena karhutla di Indonesia.

“Guru-guru juga akan terus memantau siswa yang tidak sehat atau memiliki masalah jantung. Karena siswa merespons asap dengan berbeda-beda, orangtua harus memastikan anaknya memiliki obat-obatan, seperti alat bantu pernapasan untuk asma.” ungkap MOE.

Baca Juga: Bertepuk Sebelah Tangan, Satgas Riau Tolak 65 Personel Pemadam Kabut Asap Kiriman Anies!

Pernyataan dari MOE tersebut dirilis setelah indeks Standar Polutan (PSI) di Singapura mulai memasuki kategori tidak sehat. Hal tersebut terjadi pertama kalinya sejak Agustus 2019 lalu yang juga disebabkan oleh karhutla di Indonesia.

3.

Singapura tawarkan bantuan untuk Indonesia

Kabut asap di Singapura | poskotanews.com

Sepanjang akhir pekan lalu, seluruh warga pun mulai sibuk melindungi diri sendiri dari kepungan kabut asap. Terbukti, stok masker di berbagai toko pun dilaporkan habis tak tersisa. Pada hari Minggu pekan lalu, kualitas udara di Singapura dilaporkan sudah mulai membaik.

Meski demikian, masalah kabut asap akibat Karhutla di Indonesia masiih belum teratasi. Masih banyak warga yang terkena dampaknya dan mulai mengeluhkan berbagai masalah kesehatan, seperti batuk dan sesak napas.

Baca Juga: Bantuan Atasi Kabut Asap Ditolak Satgas Karhutla Riau, Anies: Kami Bersyukur

“Seperti biasa, kami siap membantu memadamkan api di lapangan. Singapura sudah menawarkan bantuan pemadam kebakaran teknis ke Indonesia dan siap mengerahkan mereka jika diminta oleh Indonesia,” ujar Masagos Zulkifli, Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Air Singapura.

Artikel Lainnya

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia yang melanda pulau Kalimantan dan Sumatra tidak hanya merugikan manusia. Berbagai satwa pun kehidupannya terancam karena habitat mereka habis dilahap si jago merah. Bahkan, tidak sedikit satwa langka dilindungi yang juga terancam, seperti harimau Sumatra dan burung enggang.

Tags :