Digandrungi Perempuan, Berewok Jadi Simbol Maskulinitas dan Dominasi Pria

Ilustrasi laki-laki berewok dan klimis
Ilustrasi laki-laki berewok dan klimis |

Pria berewok atau klimis?

Ketika seorang bayi lahir dengan kelamin yang menandakan bahwa ia adalah laki-laki, secara otomatis ia akan “dianugerahi” sederet aturan dan atribut kelelakian. Pola asuh dan proses sosial sehari-hari yang berpedoman pada budaya patriarki pun membuatnya kian lekat dengan citra diri tunggal sosok laki-laki, yakni maskulin.

Stereotipe laki-laki maskulin mencakup berbagai aspek, seperti karakter, peran, penampilan fisik, hingga orientasi seksual. Untuk penampilan fisik, aturan yang dikalungkan pada laki-laki pun tidak kalah ribet dari perempuan. Tubuh tinggi, kekar, dan berewok adalah sederet beauty standard bagi laki-laki.

Ilustrasi laki-laki berewok dan klimis
Ilustrasi pria berewok dan klimis |

Laki-laki dengan berewok diasosiasikan dengan karakter percaya diri, macho, dan tentunya maskulin. Banyak yang menilai laki-laki yang memiliki berewok memiliki pesona lebih dibandingkan laki-laki yang “bersih”.

Rupanya hal ini pun diimani oleh sebagian laki-laki yang akhirnya memutuskan untuk menumbuhkan berewok, bahkan dengan bantuan obat penumbuh rambut sekalipun.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di Archives of Sexual Behavior memaparkan bahwa laki-laki menumbuhkan berewok atau jenggot dengan tujuan agar tampak lebih maskulin dan dominan. Bahkan, rambut yang menghiasi wajah laki-laki ini dianggap memiliki peran penting dalam kehidupan sosioseksual laki-laki.

Julian Oldmeadow, seorang peneliti dari Swinbourne University of Technology pun memiliki pendapat yang senada. Menurut Julian, berewok dipelihara sebagai simbol maskulinitas dan dominasi.

“Pria yang memegang pandangan lebih patriarkal cenderung memperkuat maskulinitas dan dominasi mereka dengan menumbuhkan rambut pada wajahnya,” ujar Julian.

John Beynon dalam bukunya yang berjudul Masculinities and Culture mengelompokkan sejumlah konsep maskulin dalam setiap dekade. Laki-laki yang mengidamkan penampilan fisik yang dominan, seperti menumbuhkan berewok, adalah laki-laki yang masih menganut konsep maskulinitas sebelum tahun 1980an.

Menurut Beynon, sebelum tahun 1980an, sosok maskulin adalah figur laki-laki kelas pekerja dengan bentuk tubuh dan perilaku dominan, terutama terhadap perempuan. Akhirnya laki-laki pada masa ini pun kerap diidentikkan dengan penguasa, kepala keluarga yang bisa memimpin perempuan dan anak-anaknya.

Bukan rahasia lagi bahwa budaya patriarki yang menelurkan heteroseksualitas mewajibkan perempuan yang feminin berpasangan dengan laki-laki yang maskulin. Oleh sebab itu, tidak heran jika banyak perempuan yang mengidam-idamkan laki-laki berewok sebagai pasangannya.

Namun sebaiknya perempuan berpikir kembali mengenai hal ini. Pasalnya, sebuah studi yang berjudul The Association Between Men’s Sexist Attitudes and Facial Hair’ mengungkapkan temuan yang cukup mengejutkan terkait hubungan kepimilikan berewok pada laki-laki dengan perilakunya terhadap perempuan.

Penelitian yang melibatkan 500 laki-laki dengan rentang usia dari 18 tahun hingga 72 tahun tersebut memperlihatkan bahwa laki-laki dengan berewok cenderung berperilaku seksis lebih buruk dibandingkan laki-laki yang rutin mencukur berewoknya.

Sebelumnya tim peneliti membagi seksisme menjadi dua kelompok, yakni seksis baik dan seksis buruk. Seksis baik adalah sikap laki-laki yang mengunggulkan dirinya dengan cara menyanjung perempuan, seperti membukakan pintu atau membayar makanan. Sementara seksis buruk adalah tindakan yang lebih merendahkan perempuan.

Artikel Lainnya

Dengan demikian, sesuai dengan pendapat Julian Oldmeadow, laki-laki dengan berewok cenderung lebih patriarkis salah satunya dengan memperkuat simbol maskulinitas dan dominasi mereka.

Bagaimana menurutmu? Apakah kamu setuju dengan pendapat Julian Oldmeadow?

Tags :