WHO Beberkan Alasan Kenapa Penyintas Corona Bisa Terinfeksi Lagi, Ternyata Karena ini!

ilustrasi
ilustrasi | google.com

Ahli mengatakan itu adalah bagian dari fase penyembuhan

Beberapa orang yang sebelumnya terinfeksi virus corona lalu sembuh dan dikabarkan positif lagi. Hal itu sangat membuat khawatir karena menimbulkan pertanyaan besar seputar kekebalan terhadap virus tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memaparkan penyebab pasien sembuh yang akhirnya positif kembali bukan karena terinfeksi lagi.

Melansir dari KOMPAS.com pada Rabu (13/5/2020), penyebab pasien sembuh lalu dinyatakan positif lagi saat dites adalah karena pasien masih mengeluarkan sisa-sisa sel virus corona dari paru-paru.WHO menyampaikan penelitian tersebut pada AFP, Rabu (5/5/2020).

Baca Juga : Virus Corona Terus Bermutasi Ribuan Kali, Pengembangan Vaksin Diperkirakan Terhambat

ilustrasi
Juru Bicara WHO Christian Lindmeier | downtoearth.org.in

Berawal dari sejumlah kasus pasien sembuh yang positif lagi, seperti yang dilaporkan oleh Korea Selatan bahwa ada 100 kasus lebih yang seperti itu di bulan April lalu.

Kami menyadari, ada beberapa pasien yang dinyatakan positif lagi setelah mereka sembuh secara klinis, ungkap juru bicara WHO kepada AFP tanpa menyinggung Korea Selatan sebagai referensi khusus.

Dalam hal ini pihaknya mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan oleh keluarnya sisa-sisa sel mati, dan hal itu merupakan fase pemulihan.

Dari apa yang kami ketahui saat ini, dan didasarkan pada data terbaru, tampaknya itu karena paru-paru pasien masih mengeluarkan sisa-sisa sel virus mati corona. Ini merupakan bagian dari fase pemulihan, tambah WHO.

Baca Juga : Para Ahli Prediksi Virus Corona Akan Menginfeksi 70 Persen Populasi Dunia!

ilustrasi
Istilah-istilah dalam Covid-19 | kompas.com

Menurut penelitian, orang yag terpapar virus corona baru penyebab Covid-19 (SARS-CoV-2) memiliki antibodi setelah sekitar satu minggu gejala muncul atau terinfeksi. Akan tetapi mengenai tubuh dapat membentuk kekebalan yang cukup untuk menangkal virus di masa mendatang ternyata belum diketahui secara pasti, apalagi mengenai rentang waktu berapa lama kekebalan akan bertahan.

WHO menuturkan perlunya diadakan penelitian lebih lanjut mengenai pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh lalu beberapa minggu kemudian dites dan positif lagi.

Kami membutuhkan pengumpulan sampel yang sistematis dari pasien yang pulih untuk lebih memahami berapa lama virus hidup benar-benar hilang, ungkap sang juru bicara.

Selain itu penelitian juga bertujuan untuk mengetahui apakah pasien tersebut masih bisa menularkan virus ke orang lain atau tidak.

Kita juga perlu memahami apakah ini berarti mereka (pasien sembuh yang dites positif) masih dapat menularkan virus corona ke orang lain. Karena memiliki virus hidup tidak selalu berarti dapat menularkannya ke orang lain, imbuhnya.

Baca Juga : Hampir Temukan Informasi Penting Soal Corona, Profesor Asal China Tewas Dibunuh

ilustrasi
ahli epidemiologi penyakit menular Maria Van Kerhove | time.com

Di sisi lain, Maria Van Kerhove yang merupakan ahli epidemiologi penyakit menular dari Program Keadaan Darurat Kesehatan WHO menyampaikan tentang “sel virus mati” dalam sebuah wawancara dengan BBC.

Saat pari-pari sembuh, ada bagian paru-paru yang merupakan sel-sel kulit mati yang muncul. Ini adalah bagian dari paru-paru yang sebenarnya dinyatakan positif, terangnya.

Maria menambahkan bahwa hal tersebut adalah bagian dari fase penyembuhan dan tidak menularkan virus. Akan tetapi, ia mengaku belum tahu pasti apakah mereka yang telah terinfeksi virus corona (Covid-19) akan memiliki kekebalan dan perlindungan yang kuat terhadap infeksi ulang.

Artikel Lainnya

Sedangkan untuk virus seperti campak, mereka yang tertular akan memiliki kekebalan seumur hidup. Sedangkan coronavirus seperti SARS, mereka yang terinfeksi akan memiliki kekebalan dlam rentang waktu tertentu, sekitar beberapa bulan hingga beberapa tahun.

Tags :