Sedih Bacanya! Derita Pemain Sirkus Abad ke-18 dan 19, Dikucilkan hingga Dijual Ibunya Sendiri

Derita Pemain Sirkus Abad ke-18 dan 19
Derita Pemain Sirkus Abad ke-18 dan 19 | www.pinterest.com

Sedih baca ceritanya, nggak tega :(

Jika kamu terlahir kurang sempurna pada abad ke-18 dan 19, pilihan hidup hanya ada dua, yakni melanjutkan hidup dengan penuh cemoohan dan dikucilkan atau bergabung dengan dunia sirkus yang tengah digandrungi banyak orang pada saat itu.

Beberapa orang cacat pada waktu itu kemudian lebih memilih untuk menjadi bagian dunia sirkus daripada hanya hidup dengan menahan cemoohan orang lain. Meski begitu, hingar bingar dan kepopuleran dunia sirkus tampaknya juga tidak membuat mereka bahagia.

Pada kenyataannya malah sebaliknya. Berikut ini beberapa kisah pilu dari para pemain sirkus pada abad ke-18 dan 19. Sedih deh kalau membaca ceritanya ini.

1.

Schlitze

Derita Pemain Sirkus Abad ke-18 dan 19
Schlitze | funguerilla.com

Schlitze merupakan seorang manusia dengan kecacatan pada tubuhnya. Tingginya tak pernah lebih dari 122 cm serta mengalami gangguan mental dan tidak mengalami perkembangan hingga usianya melewati 3 tahun.

Ia pun sudah rentan terhadap penyakit sedari kecil. Tidak ada yang tahu siapa orang tua, kapan, dan di mana ia dilahirkan.

Schlitze lahir tahun 1901 (tidak ada catatan tentang tanggal persisnya) dengan membawa penyakit microcephalus, yakni suatu kondisi di mana dahi lebih miring, kepala lebih kecil, dan otak lebih kecil daripada manusia normal.

Ia tidak mampu mengucapkan kalimat dengan sempurna dan selama tur sirkusnya, ia diwajibkan untuk mengenakan pakaian wanita. Setelah berpuluh-puluh tahun menjadi bintang di arena sirkus, ia kemudian seakan dibuang saat juru periksanya meninggal pada tahun 1960.

Ia pun diasingkan di rumah sakit sendirian tanpa teman. Sebagai seorang pemain sirkus yang telah terbiasa dengan suasana ramai tentu keadaan di rumah sakit yang sepi sangat mengganggu Schlitze.

Nah, untungnya ada satu orang pemain sirkus lainnya mengetahui kondisi Schlitze. Akhirnya ia pun dibebaskan dari rumah sakit dan kembali melanjutkan tur sirkusnya hingga meninggal di usia yang ke-70 pada tahun 1971.

2.

Annie Jones

Derita Pemain Sirkus Abad ke-18 dan 19
Annie Jones | www.hintmag.com

Pada tahun 1865, seorang bayi wanita lahir ke dunia. Namun, bukannya berbahagia, kedua orangtuanya malah takut setengah mati lantaran sang bayi terlahir dengan banyak rambut pada bagian dagunya.

Bayi yang bernama Annie Jones itu kemudian tumbuh dengan banyak rambut. Bahkan, pada usia 5 tahun, kumis dan jenggot pun telah tampak tumbuh di wajahnya layaknya orang dewasa.

Melihat kondisi anaknya tersebut, akhirnya sang ibu setuju jika anaknya muncul di acara sirkus Ringling Bros dan Barnum & Bailey Circus. Ia pun kemudian memiliki nama panggung “The Infant Esau” yang bermakna ‘bayi berbulu’ dalam bahasa Ibrani.

Selain diejek dan dijauhi teman-temannya sedari kecil, kisah sedihnya berlanjut ketika memasuki dunia sirkus. Ia sempat diculik oleh ahli frenologi lokal untuk dijadikan sebagai bahan pameran pribadi.

Ia pun akhirnya dapat kembali bertemu dengan ibunya saat sang penculik memamerkan dirinya ada acara pameran gereja di Upstate New York. Dengan tekanan yang begitu besar membuat Annie kemudian jatuh sakit dan meninggal di usianya yang masih 37 tahun.

3.

Daisy dan Violet Hilton

Derita Pemain Sirkus Abad ke-18 dan 19
Daisy dan Violet Hilton | allthatsinteresting.com

Daisy dan Violet Hilton merupakan anak yang terlahir kembar siam pada awal 1900-an di Inggris. Tubuh mereka menyatu pada bagian pinggul dan bokong yang masing-masing memiliki organ tersendiri.

Mengingat alat medis pada saat itu belum secanggih sekarang, jadinya kedua anak tersebut harus menyatu selama masa hidupnya karena dikhawatirkan kalau dipisah, mereka berdua akan meninggal.

Kepedihan dari kedua anak tersebut tidak berhenti di situ. Setelah mereka lahir, sang ibu bahkan tega menjual mereka kepada seorang wanita bernama Mary Hilton. Dengan kondisi Daisy dan Violet yang terlahir cacat, Mary kemudian melihat sebuah peluang untuk mendapatkan pundi-pundi uang.

Ia pun memajang mereka di ruang belakang sebuah kafe Inggris dan meminta imbalan setiap ada orang yang ingin melihat dan mengetahui apakah benar-benar kedua anak kembar tersebut menyatu.

Setelah Mary meninggal, bisnis haramnya dijalankan oleh sang anak, Edith. Si kembar dilarang untuk berkomunikasi dan keluar secara bebas karena ditakutkan akan mengganggu Edith dalam menghasilkan uang.

Selama hidupnya, si kembar dipaksa untuk bermain saksofon dan biola selama berjam-jam tanpa diizinkan untuk mendapatkan pendidikan. Jika mereka membangkang, “si empunya” tak sungkan untuk memukulinya.

Meski kehadiran Daisy dan Violet begitu populer dan menghasilkan uang banyak, namun tidak sepeser pun uang yang diberikan kepada mereka. Setelah sekian lama menjadi kacung, akhirnya mereka bisa dibebaskan dari kontrak mereka dan segera menggugat manajemen lama (Edith sekeluarga) sebesar $100.000.

Ketika usia mereka tak lagi muda, si kembar pun kehilangan daya tariknya. Tepatnya pada tahun 1961, si kembar memilih untuk meneruskan hidupnya dengan menjadi kasir di sebuah toko kelontong.

Pada tahun 1969, si kembar terserang flu hebat yang mengakibatkan mereka meninggal. Daisy terlebih dahulu menghembuskan nafas terakhirnya, disusul Violet yang meninggal beberapa hari kemudian. Mereka pun meninggal di usia yang ke-60 tahun.

Artikel Lainnya
4.

Frank Lentini

Derita Pemain Sirkus Abad ke-18 dan 19
Frank Lentini | www.franklentini.it

Pernahkah kamu membayangkan manusia dengan tiga buah kaki? Zaman sekarang mungkin tidak ada, namun pada abad ke-18 dan 19, hal yang seperti itu nyata adanya. Seperti kisah dari seorang anak bernama Frank Lentini.

Lahir pada tanggal 18 Mei 1889, Frank ditakdirkan untuk memilliki 3 kaki, 16 jari kaki, dan 2 alat kelamin. Kecacatan tersebut bahkan membuat bidan yang membantu persalinan Frank lari ketakutan ketika melihatnya.

Ketika beranjak muda, Frank merasa depresi dengan kondisi tubuhnya. Hal itu diperparah dengan sikap para dokter yang enggan mengangkat kaki ketiga Frank karena dapat menyebabkan komplikasi yang lebih serius.

Orangtua Frank pun tidak diam tangan. Mereka terus berusaha agar Frank tidak lagi depresi dengan kondisi tubuhnya. Pada tahun 1898, Frank bertemu dengan seorang dalang bernama Magnano.

Dalang tersebut kemudian membawa Frank dan orangtuanya ke Amerika Serikat untuk bergabung bersama grup sirkus yang bernama Ringling Brothers Circus. Dengan kondisinya yang seperti itu, ia pun mendapat julukan “The Great Lentini”.

Ketika beraksi, ia sering menggunakan kaki ketiganya untuk menendang bola. Kebiasaan ini membuat ia mendapat julukan lain, yakni “the Three-Legged Football Player”.

Nah, dari sanalah semangatnya untuk hidup kembali muncul. Ia akhirnya tersadar kalau di luar sana masih banyak orang dengan kondisi cacat tubuh yang ternyata lebih kurang beruntung dari dirinya.

Itu dia kisah mengharukan dari empat pemain sirkus di era abad ke-18 dan 19. Pada intinya, sudah sepatutnya kita untuk selalu mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan. Tetaplah berpikir positif dan bersyukurlah karena di luar sana masih ada orang yang lebih kurang beruntung daripada kita.

Tags :