Keimanan dan Tuntutan Professionalitas, Inilah Dilema Pesepak Bola Muslim Eropa di Bulan Ramadan

Inilah Dilema Pesepak Bola Muslim Eropa di Bulan Ramadan
Inilah Dilema Pesepak Bola Muslim Eropa di Bulan Ramadan | www.muslimoderat.net

Kalau kamu jadi mereka, kamu lebih memilih yang mana?

Menjadi pesepak bola yang hebat tentu membutuhkan latihan keras yang terus menerus alias continue. Kamu nggak akan bisa jadi pesepak bola hebat hanya dengan menjalani latihan keras sebanyak satu kali. Hal itulah yang membuat para pesepak bola dapat terus berlari selama 90 menit waktu normal ketika bertanding.

Kondisi fisik yang prima menjadi salah satu faktor penting yang menentukan kecemerlangan penampilan dari seorang pemain. Mungkin ketika di bulan-bulan biasa, semua pemain dapat melahap semua porsi latian berat yang diberikan oleh para pelatih. Namun, apa jadinya ketika memasuki bulan Ramadan?

Tentu bagi mereka yang beragama non-Islam, bulan Ramadan bukanlah menjadi suatu penghambat. Akan tetapi, bagaimana dengan para pemain yang merupakan seorang muslim? Apakah mereka akan tetap menjalani puasa di tengah ketatnya kompetisi? Atau malahan memilih untuk tidak berpuasa dan menggantinya di bulan yang lain ketika kompetisi tengah libur?

1.

Durasi puasa lebih lama

Inilah Dilema Pesepak Bola Muslim Eropa di Bulan Ramadan
Durasi puasa lebih lama | www.football5star.com

Tidak seperti di kawasan Asia, pesepak bola muslim yang merumput di Eropa harus berhadapan dengan durasi puasa yang lebih lama. Kalau di Asia, para pesepak bola muslim harus menahan haus dan lapar selama kurang lebih 12 jam.

Sementara kalau di Eropa, mereka harus menahan haus dan lapar selama 16 hingga 22 jam. Tentu hal tersebut bukanlah perkara yang mudah. Ditambah dengan kenyataan bahwa mereka harus menunjukkan sikap professional yang mana dituntut harus terus menunjukkan performa terbaiknya ketika berada di lapangan.

2.

Berbohong demi bisa berpuasa

Inilah Dilema Pesepak Bola Muslim Eropa di Bulan Ramadan
Berbohong demi bisa berpuasa | www.dreamteamfc.com

Pengalaman nyata tentang dilema antara keimanan dan tuntutan professionalitas pernah dirasakan oleh mantan penyerang Wigan asal Mesir bernama Amr Zaki. Ia menjadi bagian dari skuad Wigan Athletic pada musim kompetisi 2008/2009.

Pelatih Wigan pada saat itu, yakni Steve Bruce, meminta kepadanya untuk memilih antara berpuasa atau bermain. Ia pun merasa dilema. Di satu sisi ia ingin tetap berpuasa seperti umat muslim lainnya. Namun, di satu sisi ia ingin terus bermain di setiap pertandingan yang dijalani oleh timnya.

Alhasil, ia pun berbohong kepada Bruce dengan mengatakan kalau ia ingin bermain dan tidak berpuasa. Padahal kenyataannya, ia tetap menjalani ibadah puasa.

3.

Menangguhkan puasa di bulan Ramadan

Inilah Dilema Pesepak Bola Muslim Eropa di Bulan Ramadan
Menangguhkan puasa di bulan Ramadan | seriau.com

Mungkin ini merupakan pilihan yang cukup banyak diambil oleh para pesepak bola muslim yang merumput di Eropa, terutama yang bermain di Liga Inggris, Italia, ataupun Spanyol.

Mereka akan menangguhkan puasa di bulan Ramadan dan menggantinya di bulan yang lain ketika musim kompetisi tengah memasuki masa libur. Hal tersebut dilakukan oleh gelandang jenius milik The Gunners, Mesut Ozil.

Pemain berdarah Turki tersebut lebih sering menangguhkan puasanya ketika memasuki bulan Ramadan. Selain Ozil, ada juga Nicolas Anelka, Marouane Chamakh, Nathan Ellington, serta beberapa nama lainnya yang melakukan hal sama dengan Ozil.

Sebenarnya para pesepak bola muslim yang merumput di Eropa masih bisa untuk tetap berpuasa kalau sang manager tidak keberatan dengan hal tersebut. Namun, pada beberapa kasus, mereka harus rela untuk tidak berpuasa. Seperti dengan kasus yang dialami oleh penyerang Liverpool asal Mesir, Mohammed Salah.

Ketika Liverpool berhasil melaju ke final Liga Champions tahun 2018 yang lalu, Salah terpaksa tidak berpuasa. Pada awalnya, ia memang berniat untuk tetap melaksanakan puasa.

Namun, masukan dari beberapa pihak, seperti sang pelatih, Jurgen Klopp membuat ia memutuskan untuk tidak berpuasa.

Terutama karena pertandingan tersebut merupakan final dan lawan yang harus mereka hadapi adalah raksasa asal Spanyol, Real Madrid. Salah pun harus rela menangguhkan puasanya sejak persiapan menjelang pertandingan final.

4.

Duo pemain Ajax memilih berpuasa di semifinal Liga Champions

Inilah Dilema Pesepak Bola Muslim Eropa di Bulan Ramadan
Duo pemain Ajax memilih berpuasa di semifinal Liga Champions | www.sportbible.com

Baru-baru ini, muncul pemberitaan yang mengabarkan kalau dua orang pemain Ajax Amsterdam, yakni Noussair Mazraoui dan Hakim Ziyech, tetap berpuasa ketika melakoni pertandingan semifinal leg kedua Liga Champions melawan Tottenham Hotspur.

Kedua pemain asal Maroko ini tertangkap kamera berbuka puasa pada menit ke-22 dengan mengonsumsi asupan berenergi (mungkin semacam minuman/yoghurt).

Tentu saja hal tersebut membuat kagum para pecinta sepak bola, terutama yang beragama Islam. Bagaimana tidak jika di tengah pertandingan besar, mereka tetap taat menjalankan ibadah puasa. Terlebih mereka baru berbuka puasa sekitar pukul 9 malam waktu setempat.

Artikel Lainnya

Meski cara pemain berbeda-beda untuk dapat tetap fit selama kompetisi berlangsung, namun bukan berarti mereka yang memilih untuk tidak berpuasa dilabeli sebagai muslim yang kurang taat.

Perihal ketaatan tentu hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Tapi yang jelas, untuk mereka yang tetap menjalani puasa di tengah ketatnya kompetisi, itu merupakan tindakan yang luar biasa.

Tags :