Pemerintah China Dituduh Menyiksa Musisi Ternama Uighur Sampai Meninggal
24 Februari 2019 by Lukyani
Cina mendapat banyak kecaman dan kritik
Kabar mengenai penyanyi dan musisi ternama Uighur yang meninggal dunia tengah menjadi perbincangan. Penyanyi tersebut ditahan dan diduga telah mengalami penyiksaan selama penahanan hingga akhirnya ia menghembuskan napas terakhir pada hari Sabtu pekan lalu di usia 55 tahun.
Diduga disiksa selama dua tahun

Abdurehim Heyit, penyanyi dan musisi Uighur, diduga mendapat penyiksaan brutal selama dua tahun. Penyiksaan tersebut dilakukan di wilayah Otonomi Uighur Xinjian China bagian barat laut, sebagaimana diwartakan oleh Yeni Safak, salah satu media Turki, pada 14 Februari 2019.
Dilaporkan bahwa Heyit ditangkap karena salah satu lagunya. Lagu tersebut berjudul “Atilar” yang dalam bahasa Inggris “Forefather” yang berarti leluhur atau nenek moyang. Heyit ditahan di Urumqi sejak tahun 2017 di “kamp pendidikan ulang” tanpa dakwaan.
Respons pemerintah Cina

Terkait santernya kabar meninggalnya Heyit dan tuduhan penyiksaan oleh pemerintah Cina, pihak pemerintah telah merilis sebuah video untuk membantahnya.
Video ini dirilis beberapa jam setelah kabar kematian Heyit menyebar dan mendorong Turki mengutuk Beijing telah melakukan perbuatan yang “sangat memalukan bagi kemanusiaan”.
Seperti diwartakan oleh South China Morning Post, Kamis (14/2), dalam video berdurasi 25 detik, seorang pria yang mengaku bahwa dirinya adalah Abdurehim Heyit mengatakan ia dalam proses penyidikan dan dalam kondisi baik-baik saja.
“Saya sedang dalam proses penyelidikan karena melanggar hukum nasional. Saya sekarang dalam keadaan sehat,” jeda sejenak dan menambahkan, “saya tidak pernah diperlakukan buruk”, ujar Heyit dalam video tersebut.
Kritik dari aktivis dan analis

Alih-alih memadamkan tuduhan terhadap Cina, video tersebut justru semakin mengundang kritik dan kecaman dari para aktivis dan analis.
Alip Erkin, aktivis Uighur, mengatakan bahwa pria dalam video tersebut tampak tertekan dan seolah sulit berbicara hingga bibirnya gemetar. Menurut Erkin, “Itu bukan Abdurehim Heyit yang kita kenal,”.
Patrick Poon, peneliti China dari Amnesty International pun menyangsikan video tersebut. Menurut Poon, tidak jelas kapan video tersebut direkam.
Poon mengusulkan jika pemerintah Cina ingin benar-benar membantah tuduhan, izinkan Heyit berbicara lansung dengan keluarga, rekan, dan para jurnalis secara langsung.
Kamp tahanan untuk Muslim Cina

Adapun Uighur merupakan kelompok etnis Turki bagian dari populasi Xinjiang. Uighur menuduh pemerintah China memberlakukan kebijakan yang represif dan juga menghambat kegiatan beragama, budaya, dan komersial mereka.
Beijing telah mengembangkan pembangunan kamp-kamp tahanan dalam tiga bulan terakhir. Kamp tersebut diperluas dengan tambahan laha 700.000 meter persegi dengan dalih pendidikan ulang politik bagi kelompok Muslim China.
Kamp penahanan Muslim China yang dibuat oleh pemerintah China ini sebenarnya sudah mendapatkan banyak kritik dari berbagai komunitas Internasional. Beijing sendiri terus-menerus menyangkal dan menolak tuduhan adanya sikap represif terhadap kelompok minoritas Uighur.
Pemerintah China pun menyebut kamp tersebut bukan sebagai kamp penahanan, melainkan kamp vokasi atau pelatihan kerja.
Wilayah Xinjian merupakan rumah bagi sekitar 10 juta populasi Uighur. Sekitar 45 persen kelompok Muslim Turki yang menjadi bagian dari Xinjiang telah lama melontarkan tuduhan bahwa pemerintah China melakukan tindakan represif dan diskriminatif terhadap agama, budaya, dan ekonomi kelompok Uighur.