Dituding Jual Data Lokasi Pengguna ke Militer Amerika, Aplikasi Muslim Pro Beri Jawaban Ini

Aplikasi Muslim Pro | www.idntimes.com

Sebuah perusahaan yang diduga bekerja sama dengan Aplikasi Muslim Pro mengalirkan data pengguna ke militer AS.

Sebuah kabar mengenai bocornya data pengguna aplikasi Muslim Pro merebak baru-baru ini. Hal tersebut diduga terjadi karena militer Amerika Serikat membeli data para pengguna dari sebuah perusahaan yang bekerja sama dengan pengembang aplikasi Muslim Pro.

Pengembang aplikasi panduan ibadah umat Islam itu akhirnya buka suara dan memberikan klarifikasi terkait tudingan tersebut. Pihaknya berusaha membantah tudingan tentang jual beli data pengguna yang pernah diungkap dalam sebuah investigasi yang dilakukan media asal Amerika Serikat. Tak tanggung-tanggung, demi menunjukkan integritasnya pada publik, pengembang Muslim Pro juga akan memutus kerja sama dengan perusahaan lain bernama X-Mode.

BACA JUGA: Minta Petunjuk Tuhan di Depan Ka'bah, Millen Cyrus Mantap Hidup Sebagai Wanita Transgender

1.

Sebut privasi pengguna sebagai prioritas mereka

Aplikasi Muslim Pro | jatimtimes.com

Pengembang Muslim Pro menegaskan bahwa pihaknya sangat memprioritaskan privasi pengguna. Mereka mengaku telah mematuhi standar privasi dan regulasi terkait perlindungan data pengguna. Pengembang aplikasi ini menolak tudingan membagikan identitas dan informasi pribadi pengguna pada pihak manapun.

"Privasi pengguna adalah prioritas utama Muslim Pro. Sebagai salah satu aplikasi Muslim paling tepercaya selama 10 tahun terakhir, kami mematuhi standar privasi dan peraturan perlindungan data yang paling ketat, dan tidak pernah membagikan identitas pribadi apa pun," kata pihak Muslim Pro dikutip dari Kompas.com.

BACA JUGA: Tak Punya Uang, Pria Miskin Ini Obati Kanker dengan Membakar Tubuhnya

2.

Pastikan pengguna dapat beribadah dengan tenang

Aplikasi Muslim Pro | inet.detik.com

Menanggapi lepasnya data pribadi dan lokasi para penggunanya, pengembang Muslim Pro menyebut pihaknya akan terus melakukan tindakan-tindakan tertentu untuk memastikan para pengguna dapat beribadah dengan tenang tanpa ada pikiran negatif. Mereka juga akan memutus hubungan kerja sama dengan pihak ketiga, salah satunya ialah perusahan X-Mode yang bergerak di bidang pengelolaan data lokasi.

"Kami akan terus mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk memastikan bahwa pengguna kami dapat menjalankan ibadah mereka dengan ketenangan pikiran, yang tetap menjadi satu-satunya misi sejak Muslim Pro dibuat," lanjut pihak Muslim Pro dikutip dari Kompas.com.

BACA JUGA: Rezeki Siapa yang Tahu, Inilah 4 Mantan Asisten Artis yang Kini Jadi Selebritas Terkenal

3.

Jual beli data pengguna ponsel di Amerika Serikat

Ilustrasi | unsplash.com

Motherboard, sebuah media asal Amerika Serikat sempat melakukan sebuah investigasi dan menemukan bukti bahwa Muslim Pro telah mengirimkan data lokasi tersebut kepada X-Mode dan konon data tersebut dialirkan ke beberapa pihak penadah termasuk militer Amerika Serikat.

Dilansir dari Kompas, Senator AS, Ron Wyden mengatakan kepada Motherboard bahwa X-Mode menjual data lokasi para pengguna ponsel di kawasan Amerika Serikat kepada militer.

"Dalam panggilan telepon September lalu, pengacara X-Mode mengonfirmasi bahwa perusahaan telah menjual data yang dikumpulkan dari pengguna ponsel di Amerika Serikat ke militer AS melalui departemen pertahanan," ungkap Wayden dikutip dari Kompas.com.

4.

Respons Dewan Islam Amerika

Ilustrasi | republika.co.id

Menanggapi kabar ini, Dewan Islam Amerika meminta kongres agar melakukan penyelidikan mendalam terkait peristiwa ini. Muncul pula imbauan agar umat Islam berhenti menggunakan aplikasi tersebut.

"Kami menyerukan kepada Kongres melakukan penyelidikan publik menyeluruh yang menargetkan komunitas Muslim di sini dan di luar negeri, termasuk apakah data tersebut digunakan secara ilegal memata-matai Muslim Amerika," kata Direktur Eksekutif CAIR, Nihad Awad dilansir di Al Aaraby, Rabu (18/11) dikutip dari Republika.co.id.

Artikel Lainnya

Reaksi juga ditunjukkan oleh umat Islam di Indonesia. Dilansir dari Detik.com, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengaku kecewa dengan adanya kabar mengkhawatirkan ini. Ia lantas menghapus aplikasi tersebut seraya menyarankan umat Islam agar sementara waktu beralih ke aplikasi lainnya demi menjaga privasi dan kerahasiaan data pribadi.

Tags :