Acara Festival Musik di Alam: Ingin Melestarikan, Tapi Malah Merusak!

Festival musik
Festival musik di alam menyisakan persoalan sampah |

Persoalan sampah masih jadi PR bagi acara di alam

Beberapa waktu lalu warganet berbondong-bondong berkeluh kesah di kolom komentar akun Instagram salah satu akun penyelenggara festival musik tahunan. Pasalnya panitia festival musik tersebut dianggap gagal mengelola acara akbar tersebut dan banyak pengunjung yang merasa dikecewakan.

Salah satu isu yang banyak diperbincangkan adalah bagaimana festival musik yang dihelat di alam tersebut gagal mengenalkan kelestarian alam dan justru cenderung merusak alam.

Memang belakangan ini konsep acara musik yang diselenggarakan di alam makin ramai. Tercatat ada beberapa festival yang selalu melangsungkan acara musiknya di alam, seperti acara Jazz Gunung, Jazz Atas Awan, Prambanan Jazz dan Lalala Festival.

Acara musik di alam ini biasanya diselenggarakan selain untuk menikmati musik namun juga untuk lebih mengapresiasi alam dan kelestariannya. Namun ternyata dalam Lalala Festival yang dilangsungkan akhir Februari kemarin persoalan kelestarian alam agaknya dikesampingkan.

Festival musik
Lalala Fest yang dihelat akhir Februari lalu disebut meninggalkan banyak sampah di venue acara |

Hal ini diwartakan oleh komentar-komentar para pengunjung yang menyatakan bahwa festival ini menyisakan banyak sampah karena minimnya tempat sampah di venue acara.

Dilansir dari Kumparan.com, beberapa berpendapat bahwa kondisi sampah yang bertebaran disebabkan karena hujan dan venue yang gelap membuat pengunjung enggan mencari tempat sampah dan memilih membuangnya begitu saja ke tanah.

Padahal dari konferensi pers Lalala Festival yang diselenggarakan di Mercure Hotel, Bandung (22/2), Co-Founder Orchid Forest Maulana Akbar menyatakan ia bersedia menjadi tempat perhelatan Lalala Fest untuk mengenalkan wisata alam pada anak muda sekaligus menumbuhkan kesadaran tentang membuang sampah di tempatnya.

Sayang, Lalala Festival justru berakhir dengan pengunjung yang kecewa dan hutan yang penuh sampah.

Artikel Lainnya

Perihal penyelenggaraan festival musik di alam ini memang kerap meninggalkan permasalahan sampah. Dilansir dari Asumsi.co, Lalala Festival bukan satu-satunya acara yang berakhir mengusik alam alih-alih melestarikannya. Dieng Culture Festival pada tahun 2018 lalu juga mengalami persoalan yang sama.

Lalu bagaimana solusinya agar festival musik di alam bisa berjalan dengan baik tanpa mengotori dan merusak alam? Hal ini mungkin bisa kita kembalikan pada kesadaran kita untuk membuang sampah di tempatnya atau menyimpan dulu sampah kita jika tidak menemukan tempat sampah di sekitar.

Selain itu, panitia juga perlu menyiapkan titik tempat sampah yang banyak dan tersebar merata sehingga pengunjung tidak kesulitan untuk membuang sampah. Ada baiknya juga jika panitia mengimbau pengunjung agar meminimalisir sampah dan membuangnya di tempat yang sudah disediakan.

Tags :