Urban Death Project, Proyek Gila yang Jadikan Manusia Menjadi Pupuk Kompos!

Urban Death Project, Proyek Mengomposkan Manusia!
Urban Death Project, Proyek Mengomposkan Manusia! | www.floridaforensicscience.com

Idenya bener-bener menarik sih, tapi juga jadi proyek gila!

Pada umumnya ketika manusia mati, maka orang-orang akan menguburkannya di dalam tanah. Entah itu dengan menggunakan peti mati ataupun hanya berbalut kain kafan saja. Manusia yang telah mati ini lama-kelamaan akan membusuk seiring dengan perjalanan waktu. Ada yang masih utuh, namun ada pula yang telah lenyap dimakan tanah.

Nah, berkaitan dengan mayat, salah seorang peneliti asal Amerika Serikat yang bernama Katrina Spade memiliki ide gila dengan menjadikan mayat manusia sebagai bahan dari pembuatan pupuk kompos. Seperti apa latar belakang serta pelaksanaan dari ide gila tersebut?

1.

Urban Death Project

Urban Death Project, Proyek Mengomposkan Manusia!
Urban Death Project | www.sciencemag.org

Katrina Spade mengusung nama Proyek Kematian di Perkotaan (Urban Death Project) sebagai nama dari proyek tidak wajar yang akan dilakukannya. Spade berencana akan membangun tempat perkomposan mayat pertama di wilayah Seattle pada tahun 2023 mendatang.

Apabila semuanya berjalan sesuai dengan harapan, maka tempat tersebut akan menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi mereka yang telah meninggal sekaligus menjadi tempat di mana mayat bisa dimanfaatkan untuk kepentingan alam dan umat manusia lainnya.

“Saya rasa ada nilai-nilai dalam mendirikan tempat di mana kita senantiasa berpikir soal kematian dan perannya dalam kehidupan kita,” kata Spade seperti yang dilansir dari Wired.

Baca juga: 5 Fakta Mengejutkan Tentang Ladang Mayat

2.

Bagaimana cara kerja dari tempat pengomposan mayat ini?

Urban Death Project, Proyek Mengomposkan Manusia!
Bagaimana cara kerja dari tempat pengomposan mayat ini? | hyperallergic.com

Menurut Spade, kunci dari sukses atau tidaknya proses pengomposan mayat terletak pada proses penguraian. Oleh sebab itu, ia pun bekerja sama dengan pakar tanah dan mendirikan bangunan khusus berbahan semen untuk mewujudkan proses penguraian tersebut.

Bangunan ini bisa dideskripsikan sebagai menara lumbung setinggi tiga lantai yang terisi oleh serpihan kayu. Rencananya, tubuh jenazah akan diletakkan di bagian atas menara dan didiamkan selama empat hingga enam minggu.

Selama waktu tersebut, tubuh jenazah secara berangsur-angsur akan terurai dan bergerak dengan sendirinya ke arah bawah. Hal itu disebabkan semakin mengentalnya bahan-bahan yang ada di dalam menara.

Langkah selanjutnya adalah dengan mengambil jenazah yang telah terurai tersebut di menara bagian bawah. Dijelaskan bahwa ketika telah mencapai lantai paling dasar, jenazah tersebut akan terlihat menyerupai tanah akibat proses penguraian.

3.

Jenazah manusia dijadikan pupuk kompos? Apakah mungkin?

Urban Death Project, Proyek Mengomposkan Manusia!
Jenazah manusia dijadikan pupuk kompos? Apakah mungkin? | www.seattletimes.com

Pada dasarnya kegiatan serupa telah dilakukan oleh Lynne Carpenter-Boggs, pakar tanah asal Universitas Negeri Washington. Meski hanya menggunakan daging hewan ternak, tapi proses penguraiannya dinilai sama.

Nah, pada saat itu, Boggs menggunakan hewan-hewan ternak yang ada di jurusan peternak. Hewan-hewan ternak yang diambil tentu saja yang telah mati. Bangkai dari hewan-hewan ini kemudian dibawa ke semacam bilik khusus untuk diuraikan menjadi pupuk kompos.

Hanya dalam rentang waktu satu hingga dua bulan, bangkai tersebut telah terurai. Bahkan bagian tulang serta giginya pun mengalami pelapukan dengan menggunakan metode ini.

Meski demikian, tidak ada jaminan bahwa dengan menggunakan metode yang sama, jenazah manusia akan terurai dengan sempurna. Terlebih dengan menempatkannya di dalam sebuah menara.

4.

Skema bangunan rancangan Spade

Urban Death Project, Proyek Mengomposkan Manusia!
Skema bangunan rancangan Spade |

Seperti yang telah dijelaskan di atas, Spade berencana untuk menguraikan jenazah di dalam sebuah menara yang menjulang tinggi. Nah, Spade pun telah memiliki skema untuk bangunan tersebut.

Bangunan ini rencananya akan memiliki ketinggian kurang lebih 7 meter dan mampu menampung enam mayat sekaligus. Agar mayat-mayat yang ada di dalam menara dapat membusuk dan mengurai lebih cepat, Spade pun menambahkan semacam penyejuk udara di dalam menara.

Penyejuk udara ini sendiri bekerja dengan cara menghisap udara pada bagian sisi bangunan, lalu mengalirkannya ke dalam bagian inti bangunan dan keluar melalui lubang ventilasi yang telah dipasangi semacam filter. Selain udara, air dan larutan gula pun dapat digunakan melalui saluran yang sama agar bakteri pengurai dapat bekerja dengan lebih optimal.

Menurut Spade dan Boggs, ketika campuran mayat dan materi pengurai telah mencapai dasar menara, bentuknya akan menjadi seperti tanah liat dan tidak terlihat lagi seperti mayat manusia.

Selanjutnya, petugas menara di lantai dasar akan melakukan proses akhir agar kompos yang keluar menjadi lebih halus dan bebas dari benda-benda lainnya semacam potongan gigi dari mayat tersebut.

Begitu proses pengomposan selesai, keluarga jenazah bisa membawa pulang sebagian tanah dari menara tersebut. Namun, karena mayat yang telah diuraikan lebih dari satu, maka tidak ada jaminan bahwa tanah yang dibawa benar-benar berasal dari keluarga mereka.

Artikel Lainnya

Spade sangat berharap kelak di kemudian hari akan semakin banyak tempat penguraian jenazah yang didirikan. Ia juga berharap agar masing-masing tempat penguraian jenazah memiliki keunikan tersendiri.

Misalnya tempat penguraian jenazah yang ada di Texas berbeda dengan yang ada di Tokyo, dan semacamnya. Hmm, kira-kira bakalan benar-benar terwujud nggak ya ide kontroversial seperti ini? Ya kita lihat saja nanti.

Tags :