Seni Menumpuk Batu, Ritual Estetis khas Warga Desa Sirahan

Seni Menumpuk Batu dengan Teknik "Rock Balancing" | www.cumaberita.com

Tumpukan batu estetis

Plato mengatakan bahwa dalam kehidupannya, pemikiran manusia dilandasi oleh bentuk-bentuk ideal yang berangkat dari dimensi ide yang universal. Lewat dimensi yang disebut Plato dengan istilah Idea inilah manusia mengorganisasi hidupnya sendiri melalui akal atau kekuatan rasio yang menjadi ciri khas dari manusia itu sendiri.

Pada gilirannya, akal ini dapat menghasilkan bentuk-bentuk estetis yang dapat dimanifestasikan dalam bentuk karya seni dalam bentuk yang konkret, misalnya lukisan, patung, dsb.

Semua karya seni pada dasarnya merupakan materi alami yang dikonversi menjadi bentuk baru setelah mengalami dialektika dengan bentuk-bentuk ideal yang berada dalam pikiran manusia.

Materi-materi yang terlihat sangat sederhana pun dapat berubah menjadi bentuk yang memiliki hakikat keindahan jika sudah mengalami perubahan bentuk semacam ini, bahkan seonggok batu sekalipun.

Seni menumpuk batu yang dikategorikan sebagai balancing art | redaksiindonesia.com

Berbicara soal batu yang bisa dimodifikasi menjadi karya seni, warga Desa Sirahan, Kecamatan Cluwak, Jawa Tengah, memiliki ritual seni yang cukup unik, yakni menumpuk-numpukkan batu menjadi sebuah tatanan yang estetik.

Baca juga: Miris, Wanita Nepal Meninggal Karena Ritual Menstruasi

Dikutip dari Suara Merdeka, seni menumpuk batu tidak hanya dijadikan sebagai komoditas yang bisa diperjualbelikan seperti halnya lukisan atau patung. Ritual ini dikenal sebagai permainan yang kerap dijajal oleh anak-anak di desa tersebut.

Permainan yang menuntut kesabaran tinggi ini didasari oleh apa yang disebut oleh narasumber, Masruri, sebagai “ilmu keseimbangan”.

Seorang anak di Desa Sirahan yang bermain seni menumpuk batu di Kali SIrahan | www.suaramerdeka.com

Masruri terinspirasi untuk mempopulerkan permainan yang nyeni ini setelah ditemukannya batu-batu yang tersusun secara estetis di Sungai Cidahu, Sukabumi, Jawa Barat pada tahun 2018 silam. Temuan yang sempat menimbulkan kontroversi karena dianggap sebagai simbol perbuatan musyrik itu membuat Masruri penasaran untuk mencoba.

Tentunya percobaan Masruri tidak langsung berhasil karena menyusun batu dengan ukuran dan bentuk yang berbeda-beda tanpa menggunakan perekat tentunya bukanlah pekerjaan yang mudah.

Setelah mencoba ratusan kali, akhirnya dia berhasil menemukan formula yang tepat untuk membuat tumpukan batu dengan visual yang mengandung nilai estetis.

Onggokan batu bisa dapat menjadi karya seni | qubicle.id

“Tanda-tanda seseorang itu sudah profesional atau belum dalam menyusun bebatuan, adalah bagaimana dia memilih ukuran batu yang ditempatkan di paling atas. Yang sudah ahli pasti akan menyusun dengan struktur batu-batu kecil di lapisan bawah, dan makin ke atas ukurannya makin besar,” ujar pria yang telah menulis beberapa buku tentang metafisika itu kepada Suara Merdeka.

Artikel Lainnya

Setelah Masruri mengunggah karya-karyanya, banyak orang yang mulai tertarik untuk mencoba permainan yang digemari juga di negara-negara lain itu. Tidak hanya dari Indonesia, banyak orang-orang dari mancanegara yang sampai menghubungi Masruri karena ketertarikan mereka.

“Manfaat lebih besar, seperti yang saya baca dari analisis dr Frandy Susiata SapS dari RS Siloam Kebon Jeruk di detik.com adalah mencegah pikun, mencegah tremor, melatih konsentrasi, melatih kesabaran, dan melatih rasa percaya diri,” tutup Masruri.

Tags :