Kisah Toleransi Seorang Romo Katolik Menuntun Pasien Muslim Ucapkan Kalimat Syahadat
07 Juli 2021 by Amadeus Bima
Namun, sebelumnya ada pergolakan batin di dalam dirinya
Pria yang bernama Romo Boni ini adalah seorang Rohaniwan Katolik. Meski begitu, dia yakin bahwa toleransi kepada sesama adalah sebuah keharusan. Tidak perlu memandang agama, ras, jenis kelamin, dll. Suatu ketika, Romo Boni membesuk salah satu tetangganya yang dirawat di salah satu rumah sakit di Purwokerto. Ketika itu, petugas medis mendatanginya dan mengatakan bahwa ada pasien yang tengah sekarat.
Petugas medis itu bertanya apakah Romo Boni mengenal seseorang yang bisa menuntun pasien tersebut menghadapi ajal, dengan cara Islam. Fyi, saat seorang muslim akan meninggal, diharapkan ada pendamping baginya agar menuntun mengucapkan kalimat Allah dan syahadat. Hal ini membuat Romo Boni gundah karena dia hanya datang sendirian, dan tidak bersama orang lain beragama muslim.
Kalau dia yang membantu menuntun, maka Romo Boni pasti akan mengucapkan kalimat syahadat, sebuah syarat masuk dalam agama Islam. Dalam ajaran Katolik tentu saja hal ini sesuatu yang salah. Dia juga merasa tidak kompeten menuntun orang yang beragama lain mengucapkan kalimat suci. Namun, karena tak ada orang lain yang bisa menolong, dia terus bergumul dengan nuraninya.

Akhirnya, dia memutuskan menolong saudara muslimnya tersebut menghadapi ajal. Dia menuntun pasien muslim tadi untuk mengucapkan kalimat syahadat sebagai persiapan menghadapi ajal, dan bukan karena dia ingin masuk dalam agama Islam.
“Saya berulang-ulang mengucapkan Asyhadu Allaa Ilaahaillallaah, Wa Asyhadu Anna Muhammadarrosulullah. Saya ingin agar ia berada dalam keimanannya,” ucap pastor Gereja Santa Theresia, Majenang, Kabupaten Cilacap ini.
Usai membimbing pasien tersebut menghadapi kematian dengan mengucapkan kalimat suci di Al-Quran, Romo Boni kembali ke kamar tetangga yang dibesuknya. Selang dua jam kemudian, pasien muslim yang dituntunnya menghadapi ajal tadi telah meninggal dunia. Romo Boni pun mendoakan semoga dia meninggal dunia dalam keimanan yang dia percaya dan bisa masuk surga.


Romo Boni percaya bahwa apa yang dilakukannya tersebut tak salah, karena dia tulus dan murni ingin menolong seorang saudara yang berbeda agama dengannya. Menurutnya, agama adalah jalan menuju Tuhan. Perbedaan agama berarti jalan tersebutlah yang berbeda, namun tujuan akhirnya tetap sama, yaitu Tuhan yang Maha Esa. Setiap agama juga diyakininya mengajarkan kebaikan dan toleransi.
Agama tidak menyebabkan kita berkelahi. Dalam agama kita diajarkan untuk saling menghormati,” ujar Romo Boni.

Setuju banget nih sama Romo Boni. Perbedaan agama tidak seharusnya menghalangi kita berbuat kebaikan terhadap mereka yang menganut kepercayaan berbeda dengan kita. Tapi, kalau kamu punya pendapat lain, silakan tulis di kolom komentar, ya.