Cerita Mistis Dibalik Batu Unu di Sulsel, Konon Ada Masjid Besar nan Megah!

Batu Unu
Tumpukan Batu Unu | www.tagar.id

Banyak hal-hal aneh yang terjadi saat pembangunan pelabuhan di sana

Bisa dikatakan, sejarah mampu bercerita dengan segala caranya. Baik melalui keajaiban yang susah dinalar, juga melalui kesaksian serta mimpi-mimpi. Hal itulah yang terjadi di Pelabuhan Bantaeng.

Pelabuhan yang berada di Desa Bonto Jai, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan ini menyimpan segala kisahnya lewat Batu Unu.

Seperti dilansir Tagar.id pada 4 Maret 2020, bebatuan gunung berwarna hitam itu berserakan di tengah lautan. Pada awalnya orang-orang yang baru datang akan merasa biasa saja karena memang tempat tersebut dijadikan tempat untuk memancing.

Batu Unu
Perahu nelayan Desa Bonto Jai | www.tagar.id

Batu-batu yang ada di lautan itu, bukanlah batu karang. Uniknya, banyak yang memercayai bahwa bebatuan tersebut memiliki saudara, ada di Kelurahan Campaga, ada pula di Gunung Bawakaraeng.

Baca Juga: Dikaitkan dengan Kerajaan Gaib, Kisah Gunung Salak Ini Menyimpan Banyak Misteri!

Cerita itu bahkan menjadi buah bibir di mana-mana. Masyarakat setempat menyebut bebatuan berwarna merah (yang disebut 'saudara' dari bebatuan hitam) yang ada di sana dengan nama Batu Ejayya.

Para pemancing pun kadang mengalami hal-hal yang unik. Seperti saat pancingannya tertarik kuat padahal arus di atas tenang-tenang saja, di sana seperti ada pusaran arus bawah.

Hal itu dikatakan oleh Ikbal, 26 tahun, warga setempat. Bahkan, dia tidak berani memancing mendekati Batu Unu itu.

Baca Juga: Pulau Ini Punya Sejarah Kelam Perang Dunia II, Konon Kerap Terdengar Langkah Kaki Tentara!

"Waktu itu ombak besar sekali datang, tapi di bagian itu saja yang ada bebatuan. Pernah juga tiba-tiba seperti ada pusaran air di bawah laut, pancingan tertarik kuat sekali padahal di atasnya air tenang-tenang saja," jelasnya.

Pelabuhan Bantaeng
Para pengunjung melakukan swafoto di Pelabuhan Bantaeng | www.tagar.id
Artikel Lainnya

Selain itu, ada cerita yang menyeramkan saat pembangunan pelabuhan di sana. Sampai-sampai ekskavator rusak, pembangunan juga kian lama, dan terpaan ombak menjadi sisi lain pembangunan yang memerlukan bantuan dari paranormal. Hal tersebut diungkapkan oleh Mukhlis, 30 tahun, seorang yang tinggal di dekat pelabuhan.

"Setelah dipotongkan Tedong Bonga baru bisa rampung dikerjakan," ucap Mukhlis.

Baca Juga: Geger! Uang Hilang Secara Misterius, Warga Tasikmalaya Menduga karena Ulah Tuyul

Perlu diketahui bahwa Tedong Bonga adalah bahasa lokal dari Kerbau Belang. Kerbau tersebut memiliki warna kulit cokelat tua bercorak putih.

Rupanya menurut mata gaib, pada tumpukan Batu Unu tersebut adalah masjid yang begitu besar dan megah. Hingga tidak sedikit orang yang mengeramatkan tempat tersebut.

Walaupun demikian, tempat itu masih ramai pengunjung untuk menikmati sore hari atau sekadar melakukan swafoto.

Tags :