Lulus S2 Cum Laude, Gadis Anak Tukang Becak Sudah Jadi Dosen di Usia 22 Tahun
29 Juli 2019 by Dea Dezellynda
Herayati anak tukang becak yang berprestasi
Herayati seorang anak tukang becak yang berhasil lulus dari ITB kini menarik perhatian masyarakat lagi. Menjadi anak seorang tukang becak dengan penghasilan tak menentu lantas tak membuat Hera berkecil hati. Ia tetap mengutamakan pendidikan hingga berhasil masuk ke ITB dan mendapat beasiswa bidik misi.
Belum genap satu tahun ia lulus S1, kini Hera telah menyelesaikan kuliah S2 hanya dalam waktu 10 bulan saja. Dirinya kini bahkan telah menjadi dosen di usianya yang baru menginjak 22 tahun.
Terinspirasi dari sang guru

Keinginan berkuliah di salah satu universitas terbaik di Indonesia sudah ada sejak Hera duduk di bangku SMP. Berawal dari cerita sang guru yang merupakan alumni ITB dan dulunya kuliah dengan beasiswa full. Hal ini yang membuat Hera terpacu untuk masuk ITB.
“Saya emang udah punya keinginan masuk ITB sejak kelas 9 MTs, di MTs Pulomerak waktu itu saya sekolah,” kata Hera dilansir dari Kompas.com.
Anak pasangan Sawiri (67) dan Durah (63) mulai mempersiapkan diri sejak masuk SMA. Ia belajar mandiri hingga berhasil mendapat beasiswa bimbel karena ketekunannya. Berawal saat Hera duduk di kelas 12, ia mengikuti try out yang diadakan ITB yang membuatnya berhasil mendapat bimbel gratis.
“Alhamdulillah waktu itu nilai saya tertinggi keempat dari seluruh peserta tes yang ikutan. Nah jadi untuk yang peringkat 1 sampai 5 itu kami diberikan beasiswa bimbel di salah satu lembaga bimbel, dari beasiswa itulah saya ikut bimbel, soalnya kalau biaya sendiri saya nggak punya sih,” ujar Hera.
Baca juga: Ayah Hadiri Wisuda untuk Gantikan Putrinya yang Meninggal, Videonya Bikin Netizen Nangis!
Lulus dengan predikat cum laude

Lulus dari MAN, Hera mengatakan pada orangtuanya untuk masuk ITB. Meski sempat ragu, namun orangtua Hera mendukung penuh keputusan anaknya tersebut. Hera berhasil masuk ITB Prodi Kimia melalui jalur SBMPTN. Selama kuliah Hera bersyukur mendapat beasiswa bidik misi sehingga bebas biaya kuliah.
Selama duduk di bangku kuliah. Hera juga mengikuti beberapa kegiatan yang membanggakan, salah satunya yaitu ia pernah menjadi delegasi Indonesia dalam acara Asia Pacific Future Leader Conference pada tahun 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Hera mengatakan ia mensyukuri bisa masuk ke ITB dengan cara berkuliah dengan sebaik-baiknya dan selalu teringat perjuangan orangtua.
“Motivasi berprestasi di ITB karena orangtua. Karena 'kan saya kuliah jauh, jadi ya sudah seharusnya saya melakukan yang terbaik di sana,” katanya dilansir dari Tribunnews.com.
Perempuan kelahiran Cilegon tahun 1997 ini kembali membanggakan orangtuanya karena berhasil lulus dari ITB dengan predikat cum laude. Hera juga mendapatkan predikat cum laude dengan IPK 3,77.
Berhasil lulus S2 dalam waktu 10 bulan

Usai lulus S1 Hera langsung melanjutkan S2 melalui program fast track. Hanya dalam 10 bulan saja Hera menyelesaikan pendidikan S2-nya di ITB dengan prodi yang sama.
"Sebenarnya nggak 10 bulan banget. Jadi memang saya ngambil fast track waktu S1 beberapa mata kuliah S2 sudah diambil, jadi pas S2 tinggal meneruskan saja begitu," kata Hera saat berbincang dengan Detik.com Kamis (25/7/2019).
Hera yang pernah berkesempatan ikut pertukaran pelajar di Thailand ini lagi-lagi lulus dengan predikat cum laude dan meraih IPK 3,88.
"Hari Sabtu kemarin wisuda, Alhamdulillah sekarang sudah lega, sudah lulus S2," ujarnya.
Baca juga: Ikut Wisuda, Mahasiswa Ini Cuma Bisa Bawa Gabus Bergambar Ibunya yang Telah Tiada
Ditawari menjadi dosen

Sejak lulus S1 tahun 2018 lalu, Hera ditawari menjadi dosen di Universitas Sultan Agung Tirtayasa, Banten. Sementara syarat menjadi dosen minimal S2, untuk itulah Hera kembali termotivasi untuk segera menyelesaikan studinya.
“2018 lalu saya diminta datang ke Untirta, tapi saat itu saya baru lulus S1, sementara jadi dosen minimal S2,” imbuh Hera.
Hera yang menyukai dunia pendidikan mengaku tertarik untuk menjadi tenaga pendidik dan juga peneliti.
"Suka mengajar dan suka meneliti Hera rasa yang cocok dua kesukaan itu ya jadi dosen itu," kata dia.
Hera akan mulai mengajar di Untirta pada bulan September nanti. Hera bermimpi bahwa ia suatu saat bisa menjadi PNS dan dosen tetap.
“Maunya jadi dosen tetap, tapi harus PNS, sambil menunggu penerimaan, jadi dosen luar biasa dulu sementara di teknik untuk kimia dasar, mulai ngajar bulan September ini,” tutup Hera.
Kedua orangtua Hera sangat bangga dengan pencapaian anaknya. Hera pun merasa bahagia dan berharap bisa mengangkat derajat kedua orangtuanya serta memperbaiki ekonomi keluarganya. Dari Hera kita belajar meskipun hidup berkekurangan bukan alasan untuk tidak berprestasi.