Aksi Bagi-bagi Sembakonya Dibubarkan, Politikus Ini Mengamuk!
05 Mei 2020 by Amadeus Bima
Lagi wabah corona, kok malah mengumpulkan massa sih, pak?
Ketika pemerintah pusat dan daerah sedang berupaya sekeras mungkin mengatasi pandemi virus corona, malah ada segelintir orang yang ngeyel mendatangkan kerumunan. Salah satunya adalah mantan anggota DPR bernama Epyardi Asda. Politikus dari partai PAN ini, marah-marah kepada aparat polisi dan satpol PP ketika kegiatan bagi-bagi sembakonya dibubarkan.
Peristiwa ini diketahui terjadi di Jorong Gantiang, Nagari Sirukam, Kabupaten Solok, Sumatra Barat (Sumbar), Kamis (30/4/2020). Epyardi yang maju sebagai calon bupati Solok ini ngotot kalau dia tidak melanggar aturan. Dia menuduh petugas menakut-nakuti masyarakat. Padahal, petugas hanya menerapkan aturan karena Sumbar sudah menjadi daerah PSBB.
15 tahun saya jadi anggota DPR RI, saya wakil rakyat secara sah, saya tahu undang-undangnya. Jangan orang kampung ditakuti, saya pembela rakyat, tidak ada aturan yang saya langgar, amuk Epyardi kepada petugas.
Dia lalu mengusir semua petugas yang datang untuk membubarkan kegiatannya. Dia sesumbar kalau terpilih sebagai bupati nanti, maka semua personel yang membubarkan kegiatannya tidak akan digunakan lagi jasanya. Dia mengklaim bahwa rakyat akan setuju dengan tindakannya tersebut, karena dia adalah bagian dari orang-orang benar.
Arogan
— Den-Mase-Pupunk-??-?? (@arjuno_ireng01) May 3, 2020
Politisi PAN Ngamuk Ketika Dibubarkan Gugus Tugas Covid19
Politisi PAN ini akan mencalonkan diri sebagai Bupati Solok, Sumatera Barat pada Pilkada 2020. Dia kumpulkan massa saat PSBB, Politisi PAN Epyardi Asda ngamuk ketika dibubarkan Gugus Tugas Covid-19. pic.twitter.com/qTg9XXuV8r
Bubar enggak Satpol PP ini semuanya, kenapa kalian di kampung kecil ini, kumpul kalian, katanya dengan nada tinggi.
Berdasarkan keterangan dari Kepala Satpol PP dan Damkar Kabupaten Solok Efriadi Sikumbang, mereka hanya menindaklanjuti informasi dari kepolisian. Mereka kala itu juga hanya mengimbau, tapi Epyardi sudah keburu marah-marah.
Sudah ada informasi dari Pak Kapolres, akan ada rencana pengumpulan massa. Dilakukan pengalangan di bawah mulai camat, wali nagari, tokoh masyarakat, bahwa kita dalam masa PSBB harus physical distancing dan sosial distancing, jangan banyak berkumpul dan jaga jarak. Mereka setuju,”bebernya.
Beliau emosi. Bahkan kami tidak bubarkan, jadi penerima diingatkan, sudah terima langsung pulang, tapi yang bersangkutan emosi dan tidak terima, ujarnya.
Efriadi menuturkan kala itu Epyardi mengumpulkan lebih dari 50 orang. Karena itulah, dia sudah melanggar aturan PSBB. Warga sendiri langsung mengerti setelah dijelaskan oleh petugas. Mereka bubar usai menerima bantuan. Hanya Epyardi sendiri yang tetap ngamuk-ngamuk sebelum dan sesudah membagikan sembako tersebut.
Baca Juga: Heboh Politikus Senior Gerindra Serukan Revolusi, Kini Diadukan ke Polisi!
Sudah tahu UU malah ikutan koplak nih politisi PAN??? pic.twitter.com/SYRhGHFjFV
— Den-Mase-Pupunk-??-?? (@arjuno_ireng01) May 3, 2020
Sebelum dibubarkan petugas, Epyardi Asda di tengah massa sempat mengatakan bahwa warga Kabupaten Solok tidak satupun terkena virus Corona kecuali dibawa oleh perantau.@AlvinoLulu @Aprilaza9 @Galihzainur1 @Je_Ly pic.twitter.com/lC51evQBGK
— Ary Prasetyo (@Aryprasetyo85) May 1, 2020
Di lain pihak, Epyardi mengklaim bahwa hanya ada 20 orang yang hadir di kegiatan itu untuk menerima sembako secara simbolis. Dia sudah menyiapkan 800 paket sembako untuk dibagikan ke warga yang terdampak corona. Pembagian sembako turut dihadiri Wakil Bupati Solok Yulfadri Nurdin, wali nagari, dan tokoh masyarakat setempat.
Yang saya tidak suka mengapa masyarakat ditakut-takuti dengan corona, nanti meninggal. Saya merasa Satpol PP menakut-nakuti masyarakat. Waktu sudah jam tiga dan saya belum salat zuhur, saya emosi melihat Satpol PP, arogan sekali," katanya. ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (1/5).
Epyardi mengaku menggelontorkan uang sebanyak Rp 5 miliar untuk kegiatan bagi-bagi sembako tersebut. Dia juga memberikan masker sebanyak 40 ribu paket untuk warga Kabupaten Solok. Tapi, dia membantah kegiatan ini sebagai bagian kampanye, agar terpilih dalam Pilkada Kabupaten Solok. Epyardi menegaskan ini adalah murni bantuan kemanusiaan.
Mungkin karena orang tahu bahwa saya mau maju sebagai calon bupati, dikaitkan dengan pilkada, silakan saja. Yang penting niat saya ikhlas. Kalau saya mau kampanye, kenapa tidak saya tunggu saat mau pilkada? ujarnya.
Baca Juga: 3 Politikus Demokrat Minta Prabowo Bukti Kemenangan 62%, Prabowo Berdosa Kalau Tak Buktikan!
Bupati nya memble...
— Ary Prasetyo (@Aryprasetyo85) May 1, 2020
Sementara, Wakil Bupati Yulfadri Nurdin tampak tak berkutik saat pembubaran itu. Seolah ikut melegitimasi pelanggaran yang dilakukan selama PSBB, bahkan ikut membagi-bagikan kantong bantuan kepada massa yang dikumpulkan.https://t.co/525OpqkC26 pic.twitter.com/Apkve3mjpf
Bagi-bagi sembako itu baik, kok. Warga saat ini emang lagi butuh bantuan karena roda perekonomian tersendat. Tapi, ya nggak perlu sampai mengumpulkan massa, apalagi ngamuk-ngamuk juga. Bagaimana menurutmu?