Rapat Parlemen Hong Kong Dilempari Cairan Busuk Mirip Feses, Duh!
09 Juli 2020 by Lukyani
Parlemen Hong Kong rapat membahas RUU lagu kebangsaan China
Rapat pembahasan soal rancangan undang-undang lagu kebangsaan China di gedung parlemen Hong Kong diwarnai insiden mengejutkan. Ketika rapat tersebut berlangsung, cairan berbau busuk dilemparkan ke ruangan rapat dan membuat cukup membuat para peserta panik.
Cairan busuk di tengah rapat parlemen

Dilansir oleh Reuters, cairan berbau busuk itu dilemparkan oleh anggota dewan pro-demokrasi Hong Kong, Eddie Chu dan Ray Chan. Eddie dan Ray berlari ke depan ruangan rapat dan melemparkan cairan berwarna cokelat dalam jumlah banyak.
Menurut Reuters, cairan yang dilemparkan Eddie dan Ray mengeluarkan bau busuk yang sangat menyengat. Setelah kejadian ini, petugas keamanan gedung dewan langsung membekuk Eddie dan Ray.
Baca Juga: Berhasil Merdeka, Timor Leste Justru Jadi Negara Termiskin di Dunia
Keduanya langsung diusir keluar dan petugas pemadam kebakaran pun dipanggil untuk segera membersihkan lokasi dan rapat itu pun diberhentikan sejenak. Eddie dan Ray menyebut aksi mereka ini dilakukan untuk mengingatkan pembantaian di Lapangan Tiananmen, Beijing, yang terjadi pada 31 tahun silam.
Peringatan tragedi Tiananmen, Beijing

Adapun RUU lagu kebangsaan China ini nantinya akan menghukum mereka yang menghina lagu kebangsaan China dengan hukuman penjara tiga tahun dan/atau denda hingga HKD 50 ribu atau Rp 95 juta. Selain itu, RUU ini juga akan mewajibkan siswa di bangku SD dan SMP untuk mempelajari lagu kebangsaan China.
RUU ini dicetuskan setelah lagu kebangsaan China dirasa sudah dilecehkan di Hong Kong. Ketika lagu kebangsaan China bergema di berbagai acara, misal pertandingan sepak bola, warga Hong Kong kan menyorakinya.
Baca Juga: Hasil Penelitian Ini Ungkap Corona Sudah Muncul Sejak Maret 2019 di Spanyol!
Cairan berbau busuk yang berbentuk seperti feses itu disebut oleh Eddie sebagai lambang dari negara pembunuh.
“Negara pembunuh berbau busuk selamanya. Apa yang kami lakukan untuk mengingatkan kepada dunia untuk tidak memaafkan Partai Komunis China untuk pembunuhan rakyatnya sendiri 31 tahun lalu” ungkap Eddie.
Adapun tragedi pembantaian di Lapangan Tiananmen yang terjadi pada 4 Juni 1988 adalah noda hitam dalam sejarah pemerintahan China. Saat itu, pemerintah China mengerahkan tank untuk menghentikan aksi unjuk rasa mahasiswa di Lapangan Tiananmen.
Baca Juga: Arab Saudi Darurat! Corona Menyebar di Istana, 150 Keluarga Kerajaan Terinfeksi
Peringatan tragedi Tiananmen dilarang

Dalam tragedi yang mengerikan ini, ratusan hingga ribuan orang meninggal dunia. Korban kematian dalam tragedi ini tidak bisa dipastikan karena pihak China memilih menutupnya rapat-rpat.
Sementara itu, tragedi Tiananmen seolah tak pernah kembali terdengar di China. Tragedi ini tidak dikisahhkan dalam pelajaran sejarah, pencarian di jagat maya di sensor, bahkan rakyat China pun segan untuk mengungkit kembali tragedi ini.
Berkat “satu negara dua sistem”, Hong Kong menjadi satu-satunya wilayah di China yang bisa memperingatkannya akan tragedi Tiananmen. Biasanya, peringatan tragedi Tiananmen dilakukan di Victoria Park yang dihadiri puluhan ribu orang.
Untuk tahun ini, aparat Hong Kong melarang peringatan tragedi Tiananmen dengan alasan menghindari infeksi virus corona. Meski demikian, masyarakat Hong Kong tetap melakukan peringatan dengan menyalakan lilin di beberapa titik.