Pemerintah Indonesia Berikan Bantuan dan Latih Perempuan Palestina Berwirausaha
24 April 2019 by Lukyani
Menlu Retno dedikasikan hari perempuan untuk perempuan Palestina
Pemerintah Indonesia memberikan bantuan untuk para perempuan Palestina yang mengungsi di Amman, Yordania. Kali ini bukan bantuan barang yang diberikan, melainkan kursus wirausaha agara perempuan Palestina lebih mandiri secara finansial.
Menteri Rento mendedikasikan Hari Perempuan Internasional untuk perempuan Palestina

Pemberian bantun berupa pelatihan wirausaha untuk perempuan Palestina ini digagas oleh Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi. Menteri Retno mendedikasikan Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret untuk perempuan Palestina.
“Tanggal 8 Maret adalah Hari Perempuan, saya ingin dedikasikan hari tersebut untuk perempuan Palestina, bagi peran mereka dalam perdamaian dan keamanan,” ujar Menteri Retno kepada CNN Indonesia, Rabu (6/3).
Menteri Retno mengatakan bahwa Palestina membutuhkan bantuan dan dukungan dari masyarakat dunia untuk kembali membangun bangsanya. Dukungan dan bantuan tersebut lebih dibutuhkan untuk sumber daya manusia yang mereka miliki.
Menteri Retno berharap program pembangunan kapasitas ini bisa menjadi tonggak untuk membangun pemerintahan yang kuat dan bermartabat. Menteri Retno pun mengharapkan program khusus ini bisa memberikan kesempatan lebih luas dan memunculkan kembali harapan untuk kehidupan yang lebih baik di luar kamp pengungsian.
Indonesia memberikan bantuan dana untuk Palestina

Menteri Retno bersama Komisioner Jenderal Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Pierre Krahenbuhi, menanda tangani perjanjian untuk memberikan bantuan kemanusiaan bagi mantan warga Gaza yang ada di Kamp Jerash, Yordania.
Sebelumnya, Indonesia telah memberikan sumbangan sebesar USD 200 ribu atau setara dengan Rp 2,9 miliar untuk UNRWA. Jumlah ini dua kali lipat lebih besar dari jumlah sumbangan Indonesia pada tahun 2012 hingga 2014, yani sekitar USD 100 ribu atau Rp 1,45 miliar. Sumbangan ini pun lebih banyak 40 kali lipat dari sumbangan yang diberikan tahun 2016, yakni USD 5000 atau Rp 74,5 juta.
Menteri Retno dan Kemlu RI tidak memberikan keterangan mengenai rincian bantuan yang akan diberikan Indonesia untuk UNRWA di tahun ini. Sejak awal tahun 2018, UNRWA sendiri sedang mengalami krisis pendanaan. Apalagi sejak Amerika Serikat menarik seluruh bantuannya untuk organisasi ini. Padahal, AS adalah penyumbang utama.
UNRWA masih kekurangan dana untuk program 2019

UNRWA pun memberikan laporan bahwa mereka mengalami kekurangan dana yang cukup banyak. Mereka kekurangan dana sekitar USD 211 juta untuk program-program mereka selama tahun 2019 ini. Bantuan dana untuk UNRWA ini sangat berarti. Dengan demikian, mereka bisa menjalankan program-program yang juga untuk keberlangsungan para pengungsi Palestina.
Sementara itu, lebih dari 2 juta, dari total 5 juta pengungsi asal Palestina, sangat bergantung pada bantuan dari UNRWA. Adapun organisasi UNRWA dibentuk pada tahun 1949 silam. Pendirian organisasi UNRWA dilakukan setelah pendirian negara Israel setahun sebelumnya, yakni di tahun 1948.
Semoga bantuan yang diberikan Indonesia, baik berupa dana maupun pelatihan kewirausahaan, benar-benar bisa membantu kehidupan pengungsi Palestina lebih baik lagi. Sebagaimana dikatakan oleh Menteri Retno, bantuan yang diberikan diharapkan mampu memunculkan kembali harapan hidup yang lebih layak.