Mengecewakan Aktivis Uighur, Mohammed bin Salman Bela China Soal Kamp Penahanan Uighur
25 Februari 2019 by LukyaniSikap MBS tidak sesuai dengan yang diharapkan aktivis Uighur
Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, melanjutkan kunjungannya ke negara Asia berikutnya, China. Sama seperti kunjungan di negara-negara sebelumnya, MBS membahas kerja sama Arab Saudi dan China. Tidak hanya itu, MBS pun mengeluarkan pernyataannya mengenai kamp konsentrasi untuk muslim Uighur di China.
MBS mendukung kamp penahanan Uighur
MBS memberikan dukungan pada China untuk penahanan di kamp konsentrasi bagi muslim Uighur di Cina. MBS mengatakan, “China mempunyai hak untuk upaya anti-terorisme dan de-ekstremisasi demi keamanan nasionalnya,” dikutip dari Tempo.co, Minggu (24/2).
Presiden Xi Jinping pun mengatakan kepada MBS bahwa China dan Arab Saudi harus menguatkan kerja sama untuk de-radikalisasi agar penyebaran ideologi ekstrem bisa dicegah.
Berdasarkan laporan PBB dan kelompok HAM, saat ini China sudah menahan sekitar satu juta warga Uighur di kamp penahanan. Otoritas China menolak kamp tersebut disebut sebagai kamp penahanan.
China menyebutnya sebagai kamp penjuruan dan kamp pelatihan kerja, pusat re-edukasi untuk melawan ekstremisme.
China menuduh kelompok minoritas di wilayah Xinjian Barat mendukung aksi terorisme. Oleh sebab itu, China secara ketat mengawasi mereka. Salah satunya adalah dengan mendirikan kamp penahanan.
Aktivis Uighur meminta MBS memperjuangkan nasib Uighur
Middle East Eye melaporkan, Omer Kanat, Direktur Uyghur Human Rights Project, organisisasi pembela hak asasi Uighur yang berbasis di AS, sebelumnya memohon kepada MBS agar turut memperjuangkan nasib penduduk muslim di Uighur selama kunjungannya di China.
Kanat mengatakan, “Ketika Partai Komunis menghancurkan masjid dan merobohkan lambang bulan sabit di puncak masjid, seluruh pemimpin Muslim harus bertindak,”.
Kanat pun merasa kecewa karena Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) tidak bergerak untuk memperbaiki nasib muslim Uighur. Termasuk salah satu tokoh yang sangat vokal mengecam China, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Erdogan yang sempat menekan China atas kasus Uighur, kini semakin menjalin hubungan mesra dengan China di ranah diplomatik dan ekonomi. Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, mengaku tidak banyak mengetahui kondisi Uighur.
Turki minta China hentikan kamp konsentrasi
Mengenai kamp penahanan Uighur, otoritas Turki memang sudah memberikan desakan agar China segera menutupnya. Hami Aksoy, Menteri Luar Negeri Turki, mengatakan bahwa China sudah semena-mena menahan satu juta lebih Uighur di kamp penahanan.
Menurut Aksoy, perlakuan China terhadap Uighur Turki yang sewenang-wenang bukan lagi rahasia. Oleh sebab itu, otoritas Turki telah meminta agar China menghormati hak asasi Uighur Turk dengan menutup kamp konsentrasi.
Xinjiang China merupakan rumah bagi 10 juta warga Uighur. Sekitar 45 persen dari populasi Xinjiang adalah Muslim Turki. Diskriminasi budaya, agama, dan ekonomi terhadap etnis Xinjiang diduga dilakukan di pemerintah China.
Tindakan diskriminatif China sudah menjadi pemberitaan dunia. Panel ahli PBB pada tahun 2018 mengatakan bahwa mereka sudah mendapatkan laporan yang kredibel mengenai penahanan warga Uighur di kam “re-edukasi”.
China pun terus melontarkan bantahan bahwa warga Uighur ditahan secara paksa. Mereka mengatakan bahwa kamp ini merupakan fasilitas pelatihan “sukarela” yang dirancang untuk memberikan pelatihan kerja dan membasmi ideologi “ekstrimis”.