Isu HAM Uighur Dibantah, Muhammadiyah Tegaskan Tidak Ada Kamp Penahanan Sadis di China!
08 Maret 2019 by Titis Haryo
Yakin nggak ada kamp konsentrasi di Uighur?
Isu pelanggaran HAM di Uighur akhirnya mulai menampakan titik terang. Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agung Danarto menegaskan jika pemerintah China tidak membangun kamp penahanan sadis pada muslim Uighur seperti yang banyak diberitakan.
Bantahan pelanggaran HAM ini disampaikan Agung setelah dirinya melakukan kunjungan ke China dan menemui muslim Uighur di Provinsi Xinjiang.
Lalu, akankah pernyataan resmi Muhammadiyah ini menghilangkan segala tudingan terhadap pelanggaran hak asasi muslim Uighur di China?
Banyak pihak menganggap bahwa muslim Uighur mendapatkan pelanggaran HAM

Muslim Uighur sempat gencar diberitakan mendapatkan diskriminasi dan persekusi dari pemerintahan China. Mereka dilarang untuk beribadah bahkan dipaksa untuk meninggalkan kepercayaannya.
Indonesia sebagai negara mayoritas muslim pun bereaksi keras ketika berita ini beredar luas. Berbagai aksi dukungan pun cukup banyak digelar agar pemerintah memberikan perhatian pada muslim Uighur.
Salah satu yang keras menyoroti muslim Uighur adalah Gay McDougall, Anggota Komite PBB untuk Penghapusan Diskriminasi Rasial. Dirinya pun sempat mengklaim jika daerah Uighur telah disulap menjadi kamp penahanan interniran.
“Ada 11 juta masyarakat ditahan. Mereka melihat Uighur sebagai kelompok yang berpotensi menjadi ekstremis dan teroris,” ucap McDougall dikutip dari Nowthisnews, 16 Oktober 2018 lalu.
Isu liar memanas karena sikap tertutup China

Isu adanya kamp penahanan muslim Uighur pun semakin liar berputar. Seluruh dunia pun mengeluarkan kecaman dari Indonesia hingga Turki.
Liarnya isu ini ditanggapi dengan ketertutupan pihak pemerintah China pada dunia dalam menangani masalah muslim Uighur.
Stigma China makin negatif setelah mereka dikabarkan melakukan penyiksaan dan persekusi pada muslim Uighur dengan tidak memperbolehkan kegiatan beribadah serta segala bentuk ajaran Islam.
Indonesia pun bereaksi dengan mengirimkan perwakilan Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia untuk melakukan kunjungan dan melihat langsung situasi ke Xinjiang.
Muhammadiyah menemukan tidak adanya kamp penahanan seperti yang dituduhkan

Tuduhan adanya kamp interniran bagi muslim Uighur di mana mereka akan dicuci otak sehingga lepas dari Islam terbantahkan setelah kunjungan Muhammadiyah berakhir.
Agung pun menemukan jika tidak ada yang namanya kamp penahanan, melainkan tempat yang nyaman dan layak huni untuk para muslim Uighur.
“Dari segi tempat, kamp, asrama, dan ruang kelas nyaman dan sangat layak sekali, tidak seperti penjara,” tegas Agung yang dirilis dalam situs resmi Muhammadiyah, Rabu (6/3).
Kunjungan ini juga membenarkan pernyataan resmi pemerintah China jika kamp tersebut merupakan kamp pelatihan SDM dan bukan kamp penahanan.
Benarkan kamp tersebut sebagai upaya penghilangan radikalisasi

Muhammadiyah juga membenarkan jika kamp pelatihan yang dibangun pemerintah China di Xinjiang sebagai bentuk penghilangan radikalisme.
Kamp pelatihan ini juga digunakan sebagai fasilitas peningkatan kualitas SDM di Xinjiang yang terkenal sebagai daerah paling miskin di China.
Cara ini juga merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menghilangkan trauma pada aksi terorisme yang cukup banyak terjadi pada tahun 2000-2015 lalu.
Ëntah itu meledakkan bom di bus, pasar, dan jalan sehingga tampaknya China memiliki trauma tersendiri terhadap terorisme dan separatis,” ucap Agung dilansir dari CNN Indonesia, Kamis (7/3).
Kunjungan Muhammadiyah juga buktikan adanya kebebasan beragama terjadi China

Bukan hanya membantah adanya kamp penahanan muslim Uighur. Muhammadiyah juga menegaskan jika pemerintah China memberikan kebebasan beragama dan tidak anti Islam.
Salah satu bukti yang diungkapkan Agung adalah berdirinya masjid dan 23 ribu imam yang mendapatkan gaji dari pemerintahan.
“Mau beragama apa aja boleh, mau tidak beragama juga nggak apa-apa, tapi fasilitas milik negara memang tidak boleh digunakan untuk kegiatan keagamaan termasuk beribadah,” tambah Agung.
Isu panas mulsim Uighur memang menjadi perdebatan tiada henti. Banyak komunitas muslim di dunia termasuk Indonesia mengecam keras tindakan pemerintah China yang dianggap sadis.
Namun, setelah kunjungan yang dilakukan Muhammadiyah ini, setidaknya muncul kelegaan bagi umat muslim bahwa saudara-saudara muslim di Uighur sana tidak mendapatkan penyiksaan seperti yang diberitakan.
Jadi, nggak perlu aksi demo lagi ya!