Awas! Di Tulungagung, Beredar Tabung Oksigen Palsu Berisi Udara Kompresor Tambal Ban

tabung oksigen palsu
tabung oksigen palsu |

Waspada! beredar tabung oksigen palsu yang malah berisi udara biasa dari kompresor tambal ban

Waspada! beredar tabung oksigen palsu yang malah berisi udara biasa dari kompresor tambal ban. Peristiwa penipuan ini dilaporkan oleh anggota kelompok peternak ikan koi asal Kabupaten Tulungagung Jawa Timur.

Mereka melaporkan bahwa ikan hias mereka malah mati karena menggunakan tabung oksigen palsu tersebut. Awalnya, para peternak hias itu hendak membeli tabung oksigen untuk menaruh ikan hias mereka ke dalam kantong plastik yang diisi udara.

Menurut pengakuan salah satu anggota kelompok peternak ikan koi bernama Alipin (35), ia dan para peternak ikan hias lain menjadi khawatir sebab tabung oksigen tersebut malah justru membuat ikan-ikan mereka mati saat dipakai. Alipin menambahkan, awalnya beberapa ikan koi yang ada di satu kantong plastik mati dalam tempo kurang dari 15 menit. Hanya selang beberapa menit setelah pengisian tabung oksigen, ikan-ikan itu sempat terlihat megap-megap kehabisan udara segar oksigen.

"Kami menyadari oksigen yang kami dapat (beli) palsu setelah ikan dalam kantong plastik yang telah diisi udara dari tabung oksigen itu mati, hanya selang beberapa menit setelah pengisian," kata Alipin (35), dikutip dari Suara Jatim Rabu (21/7).

Baca Juga: 5 Karya Anak Bangsa yang Sempat Bikin Keder Orang Asing, Tapi Malah Dicuekin di Negeri Sendiri

tabung oksigen palsu
tabung oksigen palsu |

Sadar bahwa ada yang salah dengan ikan-ikan hias milik mereka, Alipin kemudian menguji tabung hitam yang ia curigai berisi oksigen palsu dengan oksigen asli. Ia hendak menguji adakah perbedaan diantara keduanya.

Caranya, udara dari dua tabung oksigen itu dimasukkan dalam kantong plastik. Kantong yang berisi oksigen asli langsung terbakar saat disulut api. Sedangkan yang berisi oksigen palsu sama sekali tak terbakar.

"Kalau dibakar kelihatan jelas sekali," katanya, ungkapnya.

Perbedaan lainnya adalah suhu tabung. Oksigen palsu dalam tabung hitam itu terasa lebih hangat, dibanding oksigen asli. Saat dihirup, oksigen asli terasa lebih segar. Sedang oksigen palsu seperti udara biasa.

Baca Juga: Rekomendasi 20 Film Animasi Jepang Terbaik Sepanjang Masa, Ada yang Bikin Nangis!

tabung oksigen palsu
www.suaramerdeka.com

Alipin menduga, tabung hitam berisi oksigen palsu itu diisi dengan udara biasa dari mesin kompresor tambal ban. Alipin mengaku mendapat oksigen itu dari temannya pada Senin (19/7), itu pun dengan harga yang cukup tinggi.

"Kalau biasanya Rp 25 ribu, saya dapatnya sekitar Rp 100 ribu," ujarnya.

Awalnya ada tiga tabung oksigen. Dari tiga tabung itu, dirinya membeli satu tabung. Sedang dua tabung rencananya akan digunakan untuk orang sakit. Begitu tahu tabung yang barusan didapat dari orang Pacitan palsu, Alipin segera memberitahu temannya agar tabung oksigen yang dibawa tidak digunakan (untuk manusia/orang sakit)," katanya.

Ada dugaan bahwa peredaran oksigen palsu itu terjadi di tengah kelangkaan oksigen sejak serangan pandemi COVID-19 kembali meningkat seiring persebaran virus corona varian delta.

Peternak dan pedagang koi yang sangat bergantung pada ketersediaan oksigen untuk mengirim ikan hidup ke luar daerah, bahkan luar pulau, kesulitan mendapat bahan baku udara segar itu lantaran tingginya kebutuhan oksigen untuk kepentingan medis.

Artikel Lainnya

Imbasnya, banyak peternak dan pedagang ikan koi, juga jenis ikan hias lain yang tidak bisa mengirim paket ikan hidup ke luar daerah.

Keuntungan mereka pun otomatis menurun drastis, hingga sekitar 40-50 persen. Untuk jenis ikan koi, pedagang biasanya mengirim dengan tujuan kota-kota besar di wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, Bali, dan sebagian Kalimantan.

Naasnya, hal ini dijadikan celah bagi para oknum yang tak bertanggung jawab untuk mengeruk keuntungan sebanyak mungkin di tengah kelangkaan. Hingga kini, belum diketahui apakah Alipin dan kelompok peternak ikan koi lainnya akan melaporkan peristiwa penipuan ini ke pihak berwajib.

Tags :