Suasana Politik Kian Panas Mendekati Pemilu, Pertanyaan “Milih Siapa” Makin Marak!

Ilustrasi wawancara
Pertanyaan pilihan politik, apakah etis? |

Memangnya kenapa kalau beda pilihan politik?

Situasi politik mendekati pemilu tanggal 17 April 2019 mendatang kian memanas. Nggak hanya panas di panggung debat capres dan gedung-gedung pemerintahan saja, hawa panas itu bahkan juga terasa di kehidupan sehari-hari.

Obrolan mengenai kedua capres dan kubunya serasa menjadi bahan perbincangan sehari-hari yang tidak bisa dielakkan.

Memang nggak bisa kita pungkiri politik akan selalu menjadi bagian dari hidup kita. Mau nggak mau, siapa pemimpin kita akan mempengaruhi jalannya negara dan kehidupan kita di dalamnya.

Karena itu wajar saja jika semua orang patut peduli pada perkembangan politik dan melek terhadap wacana-wacana yang mengiringinya.

Tapi saat situasi politik sedang panas-panasnya seperti sekarang, kehidupan kita yang ikut panas pun membuahkan berbagai hal yang ngeselin dan berpotensi menimbulkan perpecahan atau kerugian.

Ilustrasi wawancara
Pertanyaan tentang pilihan politik di ranah profesional |

Contohnya dengan pertanyaan "Kamu milih siapa?" yang muncul kapan pun, di mana pun, dan dari siapa pun. Bukan hanya teman atau keluarga saja, kadang orang asing pun menanyakan pilihan tersebut.

Tapi kita juga harus tahu diri dan tahu tempat. Jangan asal menanyakan pilihan politik seseorang. Apalagi di latar acara atau tempat di mana kita mestinya bersikap profesional, menanyakan pilihan capres seseorang itu tidak etis dan berpotensi memicu pertikaian.

Nggak hanya di ranah professional, kadang di ranah personal pun pertanyaan ini dilempar di saat-saat yang nggak tepat. Misalnya seperti saat bertemu calon mertua, saat baru berkenalan dengan seseorang, atau saat di tengah kerumunan orang yang berbeda pilihan capres.

Keadaan-keadaan seperti ini nih yang sering bikin pusing

Artikel Lainnya

Karena itu, coba yuk selain melek politik, kita juga latih diri agar lebih terbuka terhadap perbedaan dan peka terhadap etika yang berlaku. Politik itu penting, tapi jangan sampai menjadi pemicu perpecahan ketika seharusnya politik itu menyatukan.

Tags :