Obsesi Media Sosial Buat Pengguna Ketar-ketir dengan Jumlah Follower

Ilustrasi obsesi media sosial
Ilustrasi obsesi media sosial |

Hari ini sudah memeriksa jumlah followermu?

Aktivitas mengunggah foto di Instagram, cuitan di Twitter, atau status di Facebook menjadi rutinitas keseharian bagi sebagian orang. Akhirnya banyak yang jatuh cinta dengan sensasi mendapat like, komentar dari teman-teman, hingga diikuti oleh orang-orang di jagat maya.

Tentu hal demikian tidak melulu salah, tetapi jika kamu sudah mulai terobsesi hingga rela menghabiskan banyak waktu untuk mendapatkan hal-hal tersebut, ini bukan lagi kebiasaan yang baik.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Joseph Grenny dan David Maxfield, kebutuhan manusia akan media sosial saat ini sudah mengkhawatirkan. Banyak pengguna media sosial yang terobsesi dengan like, pujian dari netizen, dan jumlah follower.

Studi Grenny dan Maxfield memperlihatkan 58 persen pengguna media sosial kehilangan momen penting dalam hidup mereka karena sibuk mengunggah di media sosial demi meraih like, pujian, maupun follower.

Ilustrasi obsesi media sosial
Ilustrasi media sosial |

Ada perbedaan antara kecanduan media sosial dan terobsesi dengan media sosial. Direktur Klinis Center fot Internet Addiction Recovery, Kimberly Young, PsyD. mengatakan masyarakat saat ini lebih banyak yang mengalami obsesi media sosial dibandingkan kecanduan media sosial.

“Baru disebut kecanduan media sosial jika orang tersebut kerap memantau akunnya dan merasa senang ketika melakukannya. Jadi, disebut kecanduan jika otak mencari zat tertentu seperti dopamin atau serotonin agar muncul rasa bahagia,” jelas Young.

Orang-orang yang kecandua media sosial pun akan mengunggah foto atau konten apapun setiap saat tanpa mempertimbangkan apakah kontennya penting atau tidak. Mereka menggunakan media sosial sebagai pelarian dari realita dan akan merasa sangat gelisah jika tidak mengakses media sosial. Meski berbeda, kecanduan maupun obsesi media sosial bukanlah kebiasaan yang baik.

Salah satu bentuk obsesi media sosial adalah obsesi terhadap jumlah follower. Setiap hari, kamu akan memeriksa jumlah followermu. Apakah bertambah atau berkurang. Jika tiba-tiba jumlah followermu berkurang, kamu akan panik dan segera mencari tahu siapa pengguna yang sudah unfollow kamu.

Kamu pun akan sering memeriksa siapa saja pengguna yang kamu follow dan tidak followback. Bahkan, kamu sampai menggunakan aplikasi tertentu untuk mengetahui pengguna yang follow dan unfollow kamu.

Terkait hal ini, CEO Twitter Jack Dorsey, mengatakan agar para pengguna media sosial Twitter tidak terobsesi dengan jumlah follower dan sebaiknya lebih fokus pada peningkatan kualitad diskusi di media sosial. Dilansir oleh Slashdot, Dorsey dan pendiri Twitter lain; Noah Glass, Biz Stone, dan Evan Williams, tidak berpikir mengenai jumlah follower saat pertama kali merilis media sosial Twitter di tahun 2006 silam.

Dorsey menjelaskan bahwa Twitter memang agar orang-orang di jagat maya bisa saling mengikuti dan pendiri Twitter memang merancang fitur jumlah follower menjadi menonjol, namun saat itu mereka tidak sadar hal ini akan memunculkan obsesi pada jumlah follower.

Sangat setuju dengan imbauan CEO Twitter! Pengguna media sosial seharusnya lebih fokus pada konten yang mereka unggah dan diskusi berkualitas dibandingkan harus bolak-balik memeriksa jumlah follower. Hal tersebut akan membuat media sosial menjadi lebih sehat dan bermanfaat bagi publik.

Artikel Lainnya

Meski demikian, imbauan dari CEO Twitter ini tidak mudah dilakukan bagi orang-orang yang sudah terlanjur terobsesi dengan jumlah follower. Melihat jumlah follower yang kian bertambah adalah kebahagiaan tersendiri bagi sebagian orang, sehingga rasanya tidak mudah untuk keluar dari obsesi ini.

Dilansir oleh Kompas.com, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengendalikan diri di media sosial. Pertama, batasi waktu penggunaan media sosial.

Kedua, mencari sumber informasi lain selain dari media sosial. Ketiga, mencari aktivitas yang bisa mengalihkan dari media sosial. Mungkin ketiga cara ini pun sedikit demi sedikit bisa mengurangi kadar obsesi media sosial dan menjadikannya lebih sehat dan bermanfaat.

Tags :