"Diet Mulai Besok" Dikompromikan Tanpa Akhir, Apa Akibatnya Bagi Diri?

Ilustrasi diet mulai besok
Ilustrasi diet mulai besok |

Diet mulai besoknya besok besok

Tidak ada yang salah dengan upaya menurunkan berat badan, apalagi jika tujuannya untuk mengelola kesehatan.

Perbincangan seputar diet ini memang selalu menarik. Coba saja masukkan keyword “diet” di kolom pencarian Google, akan muncul banyak artikel mengenai diet – mulai dari jenis-jenis diet hingga mitos seputar diet. Kemudian perbincangan akan semakin panjang jika diet dikaitkan dengan peran gender.

Di tengah ramainya perdebatan mengenai diet, ada sekelompok orang yang selalu berkompromi dengan berat badannya dan berdalih “diet mulai besok”. Tentu kamu pernah mendengar kalimat tersebut. Bahkan “diet mulai besok” dijadikan username sebuah akun Instagram yang kerap mengunggah video dan foto makanan yang selalu merayumu untuk menunda diet.

Ilustrasi diet mulai besok
Ilustrasi diet mulai besok |

Diet memang tidak pernah sederhana. Sulit rasanya mengelola makan, memulai olahraga, dan mengurangi segudang kebiasaan buruk yang tidak menyehatkan. Keengganan untuk diet ini pun dilegitimasi oleh berbagai situasi.

Lifemojo mengungkap beberapa alasan yang biasa digunakan untuk menunda atau bahkan menghindari diet.

Alasan-alasan tersebut adalah “pekerjaan saya menuntut banyak energi, saya harus banyak makan”, “kondisi tubuh saya adalah turunan dari keluarga”, “saya sulit konsenstrasi kalau lapar”, “diet mahal dan saya harus mengumpulkan uang dulu untuk memulai diet”, dan “saya belum punya waktu untuk diet”.

Padahal, setiap alasan tersebut mempunyai solusi jika kamu benar-benar bertekad ingin menurunkan berat badan.

Diet menjadi sulit karena kaitannya dengan mengubah kebiasaan buruk. Job Godino dari Universitas California mengatakan, “Lebih mudah untuk malas bergerak. Lebih mudah untuk makan makanan yang tidak sehat. Jadi mengubah perilaku hanya dengan informasi terkait risiko, tidak cukup”, dikutip dari VOA Indonesia, Senin (11/3).

Ada pendapat yang mengatakan bahwa seseorang akan mudah mengubah gaya hidup sehat jika ia mengetahui risiko genetik yang mereka miliki.

“Pengalaman menjalani tes DNA (untuk mengetahui risiko genetik) bisa menjadi motivasi orang-orang. Mereka akan memikirkan kesehatan mereka dan risikonya,” ujar Robert Green dari Universitas Harvard, penasihat perusahaan uji coba DNA.

Sayangnya, riset dari Universitas Cambridge mengatakan tidak demikian. Studi tersebut memperlihatkan bahwa hasil tes DNA, sekalipun menunjukkan risiko penyakit genetik, tidak bisa serta merta mengubah kebiasaan buruk seseorang.

Allie Manzi, seorang pelatih kebugaran, mengatakan bahwa untuk mengubah perilaku buruk demi kesehatan dibutuhkan perhatian terus-menerus. Menurut Manzi, orang masih mudah bermalas-malasan untuk diet meski tahu risiko penyakit genetik mengintainya.

“Mereka tidak melihat gambarannya secara umum. Mereka hanya menjalani hari demi hari. Mereka akan makan sepotong kue dan tidak berolahraga satu kali. Mereka tidak sadar keputusan kecil seperti ini bisa berdampak bagi kesehatan secara keseluruhan,” jelas Manzi.

Jika kamu masih kesulitan untuk memulai diet padahal tubuhmu sudah mulai merasakan dampak buruk obesitas, kamu bisa meminta bantuan dari ahli gizi.

Ahli gizi akan membantumu mengelola gaya hidupmu, termasuk pola makan. Kamu akan diberikan menu makanan sehari-hari yang jumlah dan jenisnya sudah disesuaikan dengan kebutuhan tubuhmu.

Dengan meminta bantuan ahli gizi, kamu pun akan merasa dietmu “ada yang mengawasi”. Tidak ada lagi alasan diet mulai besok, tidak ada lagi curi-curi gorengan, tidak ada lagi pura-pura sakit untuk menghindari olahraga.

Artikel Lainnya

Kesadaran akan pentingnya mengelola kesehatan harus terbangun sebelum memulai diet. Kesadaran inilah yang akan mengokohkan niatmu untuk mengurangi berat badan dan memulai pola hidup lebih sehat.

Jika tidak ada kesadaran semacam ini, berbagai risiko genetik tidak akan menakutimu dan ahli gizi pun tidak akan bisa membantumu. Jadi, kapan mulai hidup sehat?

Tags :