Swedia Terapkan Herd Immunity, Warganya Dibiarkan Tertular Corona!

ilustrasi
ilustrasi | google.com

Sebagai kaum yang lebih ahli dalam rebahan, kita hanya bisa berdoa vaksin Covid-19 bisa segera ditemukan

Berbatasan dengan Norwegia dan Finlandia, Swedia merupakan negara yang masyarakatnya sangat menjunjung tinggi toleransi. Negeri tempat Bapak teater August Strindberg lahir dan berkarya ini bahkan dijuluki surga karena kemakmuran rakyatnya. Namun, dalam menghadapi Covid-19 nampaknya Swedia memilih jalan berbeda yang justru lebih berbahaya dibandingkan negara lain, yaitu menerapkan kebijakan untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Dengan kata lain, semakin banyak rakyat Swedia yang terpapar corona, hal itu akan semakin baik karena kekebalan kelompok akan terbentuk secara alami. Sebab, seperti yang kita tahu bahwa hingga saat ini belum ada vaksin untuk infeksi virus Covid-19.

Baca Juga : Kewalahan Hadapi Corona, 3 Negara Ini Sempat Berencana Pakai Herd Immunity!

ilustrasi
(Tangkapan layar) salah satu warga Swedia masih menumui penata rambut di tengah pandemi | Youtube.com

Dalam sebuah video yang diuanggah CNN Indonesia pada Kamis (30/4/2020), terlihat aktifitas masyarakat Swedia masih seperti biasa. Tidak ada lockdown, pemerintah menganjurkan saling menjaga jarak dan membatasi perkumpulan tidak boleh lebih dari 50 orang. Sekolah Dasar masih buka, sedangkan pelajar SMA dan mahasiswa belajar dari rumah.

Beberapa penduduk tampak mengunjungi kafe, bar, restoran dan pusat perbelanjaan. Salon-salon juga masih buka di tengah pandemi yang hebat ini. Pemandangan tersebut berbanding terbalik dengan negara-negara lain yang bahkan menghukum warganya yang berani keluar rumah atau keluyuran.

Cepat atau lambat saya akan terinfeksi corona,

ungkap salah seorang warga yang tengah menemui penata rambut. Ia mengaku pasrah jika harus terpapar Covid-19.

ilustrasi
(Tangkapan layar) Anders Tagnell seorang epidemologis | Youtube.com

Seorang epidemologis Anders Tagnell adalah penanggung jawab atas kebijakan ini, ia mengklaim bahwa dengan kebijakan tersebut ia sanggup menurunkan kurva sehingga jumlah pasien Covid-19 tidak berlebihan alias sesuai dengan kapasitas rumah sakit, dengan begitu para tenaga medis juga bisa bekerja sewajarnya.

Tagnell mengaku sekitar 26 persen penduduk Stockholm telah terinfeksi dan ia menganggap itu adalah hal bagus, sebab secara teori semakin banyak orang yang memiliki imunitas terhadap Covid-19. Itulah bagaimana kekebalan kelompok secara alami akan terbentuk, namun mereka juga harus membayar mahal dengan angka kematian yang tidak sedikit.

Baca Juga : Waspada! Indonesia Diduga Berpotensi Menjadi Episenter Wabah Corona

Swedia memiliki angka kematian yang tinggi dibandingkan negara tetangganya
Swedia memiliki angka kematian yang tinggi dibandingkan negara tetangganya | CNNIndonesia.com

Kendati demikian ia menyatakan bahwa herd immunity bukanlah tujuan akhir, namun untuk memperlambat penyebaran sebanyak mungkin sehingga rumah sakit dapat beroperasi sewajarnya. Lebih dari 2400 penduduk Swedia meninggal dunia, jauh lebih banyak dibandingkan para tetangganya, Denmark 443 jiwa, Finlandia 206 jiwa dan Norwegia 207 jiwa. Swedia dianggap gagal dalam melindungi para manula, sebab setengah dari penduduknya yang tertular dan meninggal merupakan orang-orang dari panti jompo.

Beberapa orang memang menghargai kebijakan pemerintah tersebut, namun tak sedikit yang marah apalagi bagi mereka yang harus kehilangan orang-orang tersayangnya akibat pandemi. Salah satu contohnya adalah Mira Guria, ia mengaku sangat sedih ketika mengingat ayahnya yang kini telah meninggal akibat virus.

Baca Juga : Duh! Cegah Virus Corona Merebak, Penumpang dari Luar Negeri di Juanda Cuma Disuruh Isi Formulir

Artikel Lainnya

Saya minta maaf, sakit rasanya saya menyebut nama ayah saya, ucapnya.

Ayahnya, Gosef dikuburkan pada Senin. Ia berpendapat bahwa mungkin ayahnya beserta korban Covid-19 yang meninggal lainnya masih hidup jika saja pemerintah memberikan penanganan yang tepat dalam menghadapi kasus pandemi tersebut.

Tags :