Sobat Ambyar Berduka: Selamat Jalan Godfather of Broken Heart, Karya-karyanya Abadi Menemani Patah Hati

Didi kempot meninggal
Didi kempot meninggal | news.detik.com

Lagu Didi Kempot apa saja yang menjadi soundtrack hidupmu?

Puluhan bahkan ratusan muda-mudi secara serempak menyanyikan lagu Stasiun Balapan Solo di depan panggung. Lagu itu berbahasa Jawa dan tak ada kecanggungan bagi muda-mudi yang mayoritas millenial itu untuk menyanyikannya. Bagi mereka yang tak bisa berbahasa jawa tetap bisa menikmati alunan musik yang memiliki iringan gendang yang kental sehingga asyik untuk bergoyang.

Waktu menunjukkan pukul 23.30 dan semakin malam suasana semakin semarak. Didi Kempot berhasil membius ratusan sobat ambyar (sebutan penggemarnya) untuk bernyanyi bersama dengan lirik-lirik patah hati yang mengiris nadi di panggung Synchronize Festival 2019.

Tapi pemandangan sesemarak itu tak akan terulang lagi. Didi Kempot meninggal di Usia 53 tahun di RS Kasih Ibu, Surakarta, akibat gangguan jantung, pada Selasa tanggal 5 Mei 2020. Kepergian penyanyi yang mendapat julukan The Godfather of the Broken Heart dari sobat ambyar memang begitu mendadak terlebih di tengah pandemi Corona.

Awal mula sebutan Godfather Of Broken Heart dan Lord Didi Kempot

Didi kempot meninggal
Godfather Of Broken Heart | www.vidio.com

Sebelum mendapat sebutan Godfather Of Broken Heart dan Lord, Didi Kempot sudah terkenal sebagai penembang pop pria berbahasa jawa, mungkin yang terpopuler. Karir Didi Kempot seolah mengalami kebangkitan kembali setahun belakangan setelah lagu-lagu campursarinya digemari kalangan millenial.

Pada titik inilah lagu-lagunya menjangkau segmen yang lebih muda dan berhasil menembus batas bahasa, meski ia telah berkarir sejak puluhan tahun lalu. Sepanjang karirnya ia telah menghasilkan 700 lagu dan 23 album. Berbagai tembang andalannya yang biasa mewarnai hari-hari pendengarnya sebut saja Stasiun Balapan, Cidro, Sewu Kutho, Eling Kowe, Suket Teki, Tanpa Sliramu, dan lagu hits lainnya.

Fenomena demam Didi Kempot diawali dengan sebuah video yang diposting akun twitter Agus Magelang @AgusMagelangan dan seketika menjadi viral. Agus pula yang memberikan julukan Godfather Of Broken Heart untuk Didi Kempot.

Dari video itu tampak sekelompok anak muda yang menghayati lagu-lagu Didi Kempot dan video itu kembali diunggah oleh akun Instagram @sobatambyar pada 12 Juni 2019.

Meneruskan aji mumpung video yang viral itu, popularitas Didi Kempot semakin melambung ketika menjadi bintang tamu dalam Vlog Ngobam garapan Gofar Hilman. Dari sinilah berbagai istilah yang disematkan pada Didi Kempot bermunculan seperti Godfather of Broken Heart, Sobat Ambyar, Sadboys, Sadgirls, Lord Didi, dan Bapak Loro Ati Nasional.

Baca juga: Heboh Fans Didi Kempot Menangis di Lantai RS, Warga Justru Lakukan Tindakan Tak Pantas Ini.

Popularitas Didi Kempot semakin tak terbendung dan berhasil merebut hati kalangan milenial ketika tampil di Synchronize Fest 2019. Di festival yang mayoritas dihadiri milenial itu kehadiran Didi Kempot menjadi magnet mampu membuat orang-orang dari berbagai golongan menikmati lagu campursari.

Didi Kempot juga berhasil menggelar konser di Live Space dan The Pallas SCBD pada September dan Desember 2019. Kedua tempat itu biasanya digunakan untuk konser musisi kekinian dan Didi Kempot menjadi penyanyi campursari pertama yang menggelar konser di sana. Itu sekadar bukti betapa kuat gaung Didi Kempot menjangkau generasi milenial yang memiliki selera musik heterogen.

Baca juga: Momen Haru Presiden Jokowi dan Didi Kempot.

Daya magis lagu Didi Kempot sebagai soundtrack patah hati

Daya magis lagu Didi Kempot sebagai soundtrack patah hati
Daya magis lagu Didi Kempot sebagai soundtrack patah hati | voi.id

Sebenarnya apa yang menjadi kekuatan dari lagu-lagu Didi Kempot? Pernyataan Agus Mulyadi, salah satu sobat ambyar bisa mewakili jawaban atas pertanyaan itu.

“Didi Kempot membuktikan patah hati bisa menjadi hal yang menggembirakan. Menjadi hal yang tak perlu ditangisi, tapi justru harus dijogeti.”

Almarhum juga menautkan berbagai tempat yang menjadi transit transportasi umum seperti stasiun, terminal, dan juga tempat wisata, dalam lagu-lagunya. Tempat-tempat itu seolah menjadi penanda luka sekaligus kenangan sehingga lagu-lagu Didi Kempot menjadi lebih berpijak khususnya bagi orang yang punya kenangan di tempat itu.

Selain itu Didi Kempot tak membiarkan pendengarnya berhenti hanya sebagai subjek patah hati yang statis saja, tapi juga harus bangkit, patah kembali kemudian bangkit lagi. Cinta dan patah hati seolah menjadi satu paket lengkap yang tak bisa dipisahkan. Seseorang yang melakukan permainan asmara harus siap patah hati dengan segala konsekuensinya.

Baca juga: Cerita Keluarga Sebelum Kematian Didi Kempot, Keponakan: Suka Sesak Napas dan Ngos-Ngosan.

Kegelisahan semacam itu yang semangatnya bisa ditangkap oleh generasi millenial, salah satunya oleh Rizki. Menurutnya lagu-lagu almarhum tetap enak didengar karena memiliki tabuhan gendang yang seolah mengandung magis dipadu dengan lirik patah hati. Meski tak sepenuh mengerti bahasa Jawa, ia tetap menikmati lagu-lagu almarhum.

“Teman-teman saya juga ada yang gak mengerti liriknya tapi tetap enjoy mendengarkannya. Mungkin karena musik dangdut bisa diterima semua umat. Lagu Pamer Bojo itu lagu lama tapi banyak di-cover dan jadi trending apalagi ditambah Cendol Dawet,” ujar Rizky, dikutip dari Kompas.com.

Duka meninggalnya Didi Kempot juga bergaung di Suriname

Berita kematian Didi Kempot di dwtonline
Berita kematian Didi Kempot di dwtonline | keepo.me

Mungkin hanya sedikit penyanyi Indonesia yang amat terkenal di negara luar, salah satunya adalah Didi Kempot. Almarhum amat dikenal di Suriname, negara bekas jajahan Belanda yang letaknya di timur laut Amerika Latin itu.

Berbagai media di Suriname turut memberitakan kematian penyanyi campursari itu yang sudah populer di sana. Almarhum memang kerap menggelar konser di negara itu. Lagu-lagunya memang sangat terkenal di Suriname sebut saja Angen Paramaribo, Layang Kangen, dan Ali-ali.

Salah satu media Suriname yang mengabarkan hal itu yakni dwtonline. Media itu menulis judul berita: “Didi Kempot meninggal karena serangan jantung”. Media itu mengutip pernyataan eks penyiar senior kenaamaan di Suriname, Jurmic Partodongso.

“Dia telah berkontribusi dalam melestarikan bahasa Jawa melalui lagu-lagunya. Saya pikir tidak ada orang Suriname yang tidak mengenalnya,” kata Jurmic Partodongso, dikutip dari Kompas.com.

Dwtonline juga memberitakan Didi Kempot manggung bersama Stanlee Rabidin, penyanyi Suriname yang amat mencintai budaya Jawa. Keduanya berduet di Purwokerto dan menyanyikan lagu Pamer Bojo.

Sementara di dalam negeri, netizen 62+ malah gaduh meributkan agama yang disandang Didi Kempot. Hal-hal yang harusnya menjadi urusan privat seseorang dengan Tuhannya malah menjadi objek ke-kepoan netizen, terlebih digunjingkan ketika seseorang meninggal. Entah sudah seberapa sering hal ini terjadi dan penghakiman atas seseorang bisa dengan mudah dilakukan bagi orang yang agamanya berbeda.

Hal ini pun juga dikeluhkan oleh Hanif Dhakiri, eks Menaker, di Instagramnya.

Hanif Dhakiri juga ikut berkomentar eks Menaker,
Hanif Dhakiri juga ikut berkomentar eks Menaker, | keepo.me

"Gus Dur pernah dawuh: 'Tidak penting apa pun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik buat semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu'," tulisnya.

Jadi bisakah kita menghormati seseorang terlebih yang sudah meninggal tanpa memandang suku atau agamanya?

Belajar dari Didi Kempot: Menegaskan eksistensi dengan bahasa asli tanpa hilang taji

Menegaskan eksistensi dengan bahasa asli
Menegaskan eksistensi dengan bahasa asli | jatengpos.co.id

Ada banyak hal yang bisa dipetik dari perjalanan karir Didi Kempot. Salah satu hal yang patut dicatat, beliau tetap konsisten dengan identitasnya sebagai orang Jawa termasuk dalam berkarya.

Hampir semua lagunya berbahasa Jawa dan menjadi peneguh identitas atas lagu-lagunya. Ia tidak gentar melawan tren masyarakat urban dan milenial yang cenderung lebih dekat dengan lagu barat berbahasa Inggris.

Lagu-lagu Didi Kempot yang menampilkan realitas cinta apa adanya mampu menyentuh psikologis pendengarnya khususnya bagi golongan akar rumput. Perlahan tapi pasti, karyanya mampu mendapatkan sambutan dari penggemarnya yang lebih luas, tidak hanya bagi mereka yang bisa berbahasa Jawa.

Kendala bahasa bisa diatasi dengan pilihan not dan irama gendang yang memancing pendengarnya untuk tetap bisa menikmati lagu meski tak mengerti arti lirik secara jelas. Karyanya bahkan dinikmati oleh pendengarnya sampai ke Suriname.

Hal ini bisa menjadi pelajaran bagi siapapun yang ingin berkarya untuk tetap mempertahankan identitas asli tanpa merasa inferior di hadapan budaya asing. The Godfather of Broken Heart juga mengajarkan bahwa tidak ada proses yang instan, semuanya harus dilalui dari titik nol dan mempercayai karya sendiri bagaimanapun kualitasnya.

“Lebih baik kita tunjukkan karya sendiri meskipun itu jelek, daripada berbangga hati menunjukkan karya orang lain.”

Artikel Lainnya

Sebagai penutup, kita bisa memutar beberapa tembang hits lagu almarhum untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Selamat jalan The Godfather of Broken Heart!

Tags :