Peraih Nobel Tasuku Honjo Sebut Dalang Virus Corona Adalah Tiongkok!

ilustrasi
ilustrasi | google.com

Honjo bahkan rela nobelnya dicabut jika pengamatannya keliru

Semenjak penyebaran Corona menyebabkan kematian sekian ribu jiwa dari berbagai negara, beberapa teori muncul untuk mengungkapkan asal usul sebenarnya dari virus menular yang mematikan ini. Bahkan antara negara satu dengan lainnya pun saling menyalahkan dan menggugat.

Sebagai negara pertama tempat virus corona ditemukan, China kerap disalahkan karena diaggap tidak kompeten mengatasi warganya yang terkena virus sehingga menyebabkan penularan besar-besaran ke banyak negara, bahkan China juga dianggap tidak transparan dalam memaparkan data mengenai korban Covid-19 yang sebenarnya.

Baca Juga : Pria Misterius Kepergok CCTV Jilati Pintu Buat Sebar Virus Corona!

ilustrasi
Tasuku Honjo Dianggap menyebarkan narasi bahwa virus corona buatan China | japan-forward.com

Belakangan ini, tuduhan terhadap China kembali muncul. Jika AS sempat menuduh virus corona berasal dari laboraturium di Wuhan, kali ini tuduhan yang sama dilontarkan melalui pernyataan panjang yang memakai nama seorang penerima Nobel kesehatan asal Jepang, Tasuku Honjo.

Honjo adalah penerima penghargaan Nobel di bidang kesehatan karena telah berhasil menemukan terapi kanker dengan menghambat regulasi imun negatif. Baru-baru ini banyak warganet facebook yang membicarakannya terkait sebuah narasi yang menggunakan namanya dan mengklaim bahwa virus corona merupakan virus buatan, yaitu dibuat oleh China di laboraturium Wuhan.

Baca Juga : Heboh Ilmuwan Pakistan Sebut Virus Corona Senjata Biologi AS: Laboratorium Ditutup Setelah Bocor

ilustrasi
Tangkapan layar yang tersebar di Facebook ternyata hoaks | antaranews.com

Melansir Antaranews.com (27/4/2020), sebuah narasi panjang mengenai asal usul virus corona tersebar di media sosial. Berikut adalah narasi yang konon dinyatakan sang penerima Nobel :

Profesor Fisiologi Kedokteran Jepang, Profesor Dr Tasuku Honjo, menciptakan sensasi di depan media hari ini dengan mengatakan bahwa virus korona itu tidak alami.

Jika itu alami, itu tidak akan mempengaruhi seluruh dunia seperti ini. Karena, sesuai sifatnya, suhu berbeda di berbagai negara. Jika itu alami, itu akan berdampak buruk hanya pada negara-negara yag memiliki suhu yang sama dengan China.

Sebaliknya, menyebar di negara seperti Swiss, dengan cara yang sama menyebar di daerah gurun. Padahal kalau itu alami, pasti sudah menyebar di tempat dingin, tetapi mati di tempat panas.

Saya telah bekerja selama 4 tahun di laboraturium Wuhan di China. Saya sepenuhnya kenal dengan semua staf laboraturium itu. saya telah menelepon mereka semua, setelah kecelakaan corona. Tapi, semua ponsel mereka mati selama 3 bulan terakhir. Sekarang dipahami bahwa semua teknisi laboraturium ini telah meninggal.

Berdasarkan semua pengetahuan dan penelitian saya sampai saat ini, saya dapat mengatakan ini dengan keyakinan 100% bahwa corona tidak alami. Itu belum datang dari kelelawar. China telah membuatnya.

Jika apa yang saya katakan ini terbukti salah sekarang atau bahkan setelah kematian saya, pemerintah dapat menarik Hadiah Nobel saya. Tapi China berbohong dan kebenaran ini suatu hari akan diungkapkan kepada semua orang.

ilustrasi
Pernyataan yang diklaim dikatakan Honjo adalah hoaks | africacheck.org

Narasi yang panjang itu seolah-olah berusaha meyakinkan bahwa China memang membuat virus corona, bahkan sampai menggunakan penghargaan Nobel Honjo sebagai taruhan. Seorang mahasiswa bimbingan Tasuku Honjo di Universitas Kyoto, Jepang, Alok Kumar mengatakan bahwa narasi itu tidak disampaikan sang profesor. Ia menyebut semua pernyataan yang menggunakan nama Honjo itu adalah bohong dan keliru.

Baca Juga : Ngeri! Begini Penampakan Paru-paru Pengidap Virus Corona!

Artikel Lainnya

Kumar mengatakan bahwa Honjo tidak pernah bekerja di laboraturium Wuhan, China. Pun juga tidak pernah menghubungi pihak laboraturium. Ia juga menegaskan Honjo tidak melakukan riset terkait Covid-19.

Seluruh konten (di media sosial) itu merupakan rekayasa, ungkapnya.

Tags :