Ibu Nikah Lagi dan Ayahnya Meninggal, Bocah Ini Sekolah Pakai Baju Kotor Tanpa Alas Kaki

Ibu Nikah Lagi dan Ayahnya Meninggal, Bocah Ini Sekolah Pakai Baju Kotor tanpa Alas Kaki
Ibu Nikah Lagi dan Ayahnya Meninggal, Bocah Ini Sekolah Pakai Baju Kotor tanpa Alas Kaki | www.instagram.com

Bocah ini tidak pernah mandi, karena di rumah tidak ada air.

Kondisi keluarga yang tidak lengkap kadang memang berpengaruh pada kehidupan anak. Anak menjadi terlantar dan tampak seperti tidak mendapatkan perhatian. Kondisi seperti itulah yang tengah dialami oleh Jodi, bocah 7 tahun yang tinggal di Dusun Pahing RT 001 RW 003, Desa Margabakti, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Jodi pergi ke sekolah tanpa alas kaki dan dengan pakaian yang tampak kotor. Kondisi Jodi yang memprihatinkan kemudian menjadi viral setelah sejumlah foto tentang kehidupannya diunggah oleh akun Instagram @rohayatun7 pada Senin (22/7/2019).

Pemiliki akun tersebut juga menuliskan kisah tentang kondisi Jodi yang memprihatinkan. Namun apa yang membuatnya kagum adalah bocah 7 tahun ini memiliki semangat belajar yang tinggi.

Ibu Nikah Lagi dan Ayahnya Meninggal, Bocah Ini Sekolah Pakai Baju Kotor tanpa Alas Kaki
Ibu Nikah Lagi dan Ayahnya Meninggal, Bocah Ini Sekolah Pakai Baju Kotor tanpa Alas Kaki | cdn2.tstatic.net

Jodi tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana bersama kakek Rakun (70) dan neneknya Sati (60). Dua kakaknya, Dayat (18) dan Mulya (15) juga tinggal bersama di rumah tersebut. Hanya Ani (9) yang tinggal bersama orangtua angkatnya.

Ayah kandung Jodi, Sobirin telah meninggal dunia beberapa tahun lalu karena terserang penyakit. Sedangkan ibu kandungnya, Ita, sudah kembali berkeluarga, dan sekarang tinggal bersama suaminya.

Baca juga: Gadis Anak Tukang Becak Sudah Jadi Dosen di Usia 22 Tahun

Selama 12 tahun Rakun dan Sati tinggal bersama cucunya di rumah sederhana itu. Mereka bahkan harus rela berbagi ruang yang hanya seluas 18 meter persegi. Sebagi tulang punggung keluarga, penghasilan Rakun yang bekerja serabutan bisa dikatakan jauh dari kata cukup. Selama ini mereka hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah.

"Dua belas tahun di sini. Pokoknya kerja apa aja yang ada untuk makan. Jadi nggak ada punya kerjaan yang matok. Makan pun seadanya, kalau asin ya asin (ikan asin), kalau garam ya hanya garam, kalau cabe, ya cabe, ya gitulah," kata Rakun kepada Kompas.com.

Lihat postingan ini di Instagram

Ingin cerita sedikit tentang muridku jodi. Jodi anak kelas 1 yg baru masuk hari ini, padahal sekolah udah berjalan satu minggu. Dia tu maf ya termasuk anak yg terlahir dari keluarga kurang mampu, awal nya dia ga sekolah tapi dia sering main ke sekolah dengan memakai baju kotor dan tanpa memakai sandal, awalnya disuruh sekolah dia ga mau, tapi singkat cerita dia di bujuk untuk sekolah dan ahirnya mau, hari senin kemarin kepsek ku menyuruhku dan bu@dinywd untuk membelikan seragam sekolah. Hari selasa saya dan bu diny uda ga sabar pengen ketemu jodi, eh di tungguin dia ga datang ke sekolah , tapi setelah di tungguin sekitar jam 8 nan dia datang ke sekolah dan jajan, saya langsung nyamperin dia soalnya greget pengen mandiin dia , awalnya dia ga mau di ajak ke atas dan di mandiin tapi setelah di bujuk pake makanan dia langsung mau di mandiin dan mau sekolah. Saya langsung mandiin dia dan memakaikan seragam barunya itu, keliatan seneng banget dia pake baju baru padahal itu baju sekolah. Trus saya ngasih dia sarapan pake nasi kuning sama daging ayam, pas saya suapin kaya menikmati banget makanannya, saya iseng nanya ke jodi, jodi enak ga ? Trus dia jawab enak. Saya tanya lagi suka makan daging ayam engga? Dan dia jawab tara da emam nage jeung lauk asin bae ? di situ saya langsung sedih banget pokonya ga tau mau bilang apa lagi. Abis sarapan di suruh masuk kekelas dan dia senyum terus kaya yang bahagia banget. Bel pulang bunyi, ak kepo dong ingin tau rumahnya, pas pulang sengaja aku anterin dia pulang, dan yaallah rumahnya di kebon, jalannya susah usrak asruk banyak rumputnya pokonya, dan saya ga percaya sampe nanya jodi serius ke sini rumahnya ? ,Dan pas nyampe rumahnya tambah sedih lagi karna kotor banget, pas aku mau gantiin dia baju karna bajunya buat besok sekolah lagi aku bingung dong mau ngegantiin pake baju apa soalnya ga ada dan ga tau bajunya di mana. Kebetulan dia tinggal bareng neneknya yang udah tua,dan pas saya kerumahnya neneknya lagi ke kebun dan dia katanya mau nyusulin ke kebun. Sumpah demi apapun di situ pengen nangis sampe melongo aja, ak cuma bilang sing aya milik rejekina soleh,sing rajin sekolah ?.besok beli sepatu sama tasyah & dia senyum?

Sebuah kiriman dibagikan oleh rohayatun7 (@rohayatun7) pada

Kondisi itu membuat Rohayatun, yang merupakan salah satu guru Jodi di Sekolah Dasar Negeri Margabakti, Kecamatan Kadugede, merasa prihatin. Rohayatun mengungkapkan bahwa awalnya Jodi sering main ke sekolah dengan pakaian kotor setiap pagi. Dia bahkan tidak punya sandal sehingga selalu bertelanjang kaki.

Saat main di sekolah, Jodi sering memperhatikan anak-anak dari luar pintu gerbang. Menyadari adanya keinginan belajar yang kuat dari Jodi, akhirnya sejumlah guru mendekatinya dan mengajaknya untuk sekolah.

"Kemudian Bu Dini mengajak saya belanja beli baju (seragam). Kami beli baju, belanja semua kebutuhan Jodi. Pas hari Selasa, saya tungguin enggak datang-datang. Tiba-tiba rada siang dia main ke sekolah, dan saya bujuk akhirnya mau," kata Rohayatun kepada Kompas.com.

Lebih lanjut, Guru olahraga di SDN Margabakti ini menyebut, Jodi berangkat ke sekolah menggunakan pakaian bermain dan belum mandi karena tidak ada air di rumahnya. Karenanya, dia bersama guru-guru lain rela memandikan Jodi setiap pagi.

Artikel Lainnya

"Saya suapin makan pakai ayam. Kata Jodi 'enak, kalau di rumah makannya pakai lauk asin (ikan asin).' Saya sedih. Apalagi pas minum susu, enggak tahu pernah minum susu atau enggak karena minumnya langsung habis tanpa jeda. Sedih banget lihatnya, saya kasihan," tutup Rohayatun.

Tags :