Ibu Nikah Lagi dan Ayahnya Meninggal, Bocah Ini Sekolah Pakai Baju Kotor Tanpa Alas Kaki
31 Juli 2019 by Mabruri Pudyas Salim
Bocah ini tidak pernah mandi, karena di rumah tidak ada air.
Kondisi keluarga yang tidak lengkap kadang memang berpengaruh pada kehidupan anak. Anak menjadi terlantar dan tampak seperti tidak mendapatkan perhatian. Kondisi seperti itulah yang tengah dialami oleh Jodi, bocah 7 tahun yang tinggal di Dusun Pahing RT 001 RW 003, Desa Margabakti, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Jodi pergi ke sekolah tanpa alas kaki dan dengan pakaian yang tampak kotor. Kondisi Jodi yang memprihatinkan kemudian menjadi viral setelah sejumlah foto tentang kehidupannya diunggah oleh akun Instagram @rohayatun7 pada Senin (22/7/2019).
Pemiliki akun tersebut juga menuliskan kisah tentang kondisi Jodi yang memprihatinkan. Namun apa yang membuatnya kagum adalah bocah 7 tahun ini memiliki semangat belajar yang tinggi.

Jodi tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana bersama kakek Rakun (70) dan neneknya Sati (60). Dua kakaknya, Dayat (18) dan Mulya (15) juga tinggal bersama di rumah tersebut. Hanya Ani (9) yang tinggal bersama orangtua angkatnya.
Ayah kandung Jodi, Sobirin telah meninggal dunia beberapa tahun lalu karena terserang penyakit. Sedangkan ibu kandungnya, Ita, sudah kembali berkeluarga, dan sekarang tinggal bersama suaminya.
Baca juga: Gadis Anak Tukang Becak Sudah Jadi Dosen di Usia 22 Tahun
Selama 12 tahun Rakun dan Sati tinggal bersama cucunya di rumah sederhana itu. Mereka bahkan harus rela berbagi ruang yang hanya seluas 18 meter persegi. Sebagi tulang punggung keluarga, penghasilan Rakun yang bekerja serabutan bisa dikatakan jauh dari kata cukup. Selama ini mereka hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah.
"Dua belas tahun di sini. Pokoknya kerja apa aja yang ada untuk makan. Jadi nggak ada punya kerjaan yang matok. Makan pun seadanya, kalau asin ya asin (ikan asin), kalau garam ya hanya garam, kalau cabe, ya cabe, ya gitulah," kata Rakun kepada Kompas.com.
Kondisi itu membuat Rohayatun, yang merupakan salah satu guru Jodi di Sekolah Dasar Negeri Margabakti, Kecamatan Kadugede, merasa prihatin. Rohayatun mengungkapkan bahwa awalnya Jodi sering main ke sekolah dengan pakaian kotor setiap pagi. Dia bahkan tidak punya sandal sehingga selalu bertelanjang kaki.
Saat main di sekolah, Jodi sering memperhatikan anak-anak dari luar pintu gerbang. Menyadari adanya keinginan belajar yang kuat dari Jodi, akhirnya sejumlah guru mendekatinya dan mengajaknya untuk sekolah.
"Kemudian Bu Dini mengajak saya belanja beli baju (seragam). Kami beli baju, belanja semua kebutuhan Jodi. Pas hari Selasa, saya tungguin enggak datang-datang. Tiba-tiba rada siang dia main ke sekolah, dan saya bujuk akhirnya mau," kata Rohayatun kepada Kompas.com.
Lebih lanjut, Guru olahraga di SDN Margabakti ini menyebut, Jodi berangkat ke sekolah menggunakan pakaian bermain dan belum mandi karena tidak ada air di rumahnya. Karenanya, dia bersama guru-guru lain rela memandikan Jodi setiap pagi.
"Saya suapin makan pakai ayam. Kata Jodi 'enak, kalau di rumah makannya pakai lauk asin (ikan asin).' Saya sedih. Apalagi pas minum susu, enggak tahu pernah minum susu atau enggak karena minumnya langsung habis tanpa jeda. Sedih banget lihatnya, saya kasihan," tutup Rohayatun.