Siswa SD Dimaki Ibu Usai Dapat Ranking 3, Netizen: Anaknya Pinter Emaknya Bego!

Viral Siswa SD di Kalimantan Dimaki Ibu Usai Dapat Ranking 3
Viral seorang ibu di Kalimantan memaki anaknya sendiri karena hanya mendapatkan peringkat tiga di sekolah. | www.instagram.com

Viral siswa SD nangis usai dimaki ibunya sendiri setelah ‘cuma’ dapat ranking 3. Haduh, bikin kzl!

Sebuah video yang memperlihatkan seorang siswi SD dimaki-maki oleh ibunya sendiri setelah hanya mendapatkan ranking 3 di sekolah viral dan menuai banyak kecaman.

Rekaman itu beredar luas setelah dibagikan akun Instagram bernama @ndorobeii pada Sabtu (14/12/2019) lalu. Hasil penelusuran, kejadian tersebut diketahui terjadi di kawasan Berau, Kalimantan Timur.

Lantas, seperti apa kekejaman ibu yang marahi anaknya karena ranking 3? Simak berikut ini.

1.

Siswa SD dimarahi setelah dapat ranking 3

Viral Siswa SD di Kalimantan Dimaki Ibu Usai Dapat Ranking 3
Ilustrasi: Seorang anak dimarahi ibunya. | medium.com

Dilansir dari Suara.com, Minggu (15/12), kejadian ini bermula saat ibu yang diketahui bernama Rahmawati menanyakan prestasi anaknya setelah pembagian rapot.

Namun, si ibu tiba-tiba mengeluarkan pertantaan bernada penuh emosi di depan anaknya saat bertanya terkait peringkat siswa SD berinsial SF itu.

Baca Juga: Tak Diberi Uang, WNI Tikam Majikan di Malaysia hingga Tewas

“Ranking satu Uni, ranking dua Meni, ranking tiga adek,” ucap SF polos.

“Adek siapa?,” tanya si ibu bernada tinggi.

“Adek Safira,” jawab si anak.

“Sebutin lagi dari awal!” ucap si Ibu seakan tak percaya.

Si ibu lantas meminta anaknya mengulangi lagi urutan peringkat siswa SD dari satu hingga 6. Mendengar anaknya berada di peringkat 3, dia pun semakin emosi.

“Kenapa kau bisa ranking tiga? Kenapa, kenapa bisa?” ujar si Ibu penuh emosi.

SF yang mendapatkan bentakan pun terlihat mulai menangis. Dia pun menjawab dengan polos jika hal itu karena diberikan oleh gurunya di sekolah.

Namun jawaban tersebut malah membuat Rahmawati semakin naik pitam karena selama ini SF dianggapnya selalu jadi anak paling pintar di kelas.

Baca Juga: Rugikan Jutaan Dollar! Ini Kisah Azura Luna, Ratu Penipu Asal Indonesia Buruan Interpol

“Selalu kau dapat nilai 100, selalu kau duluan keluar ujian, kenapa bisa kau juara tiga? Kasih tau!” ucap si ibu.

Emosi ibunya yang terus meluap-luap membuat SF hanya bisa diam sembari menangis. Bocah belia itu pun terlihat cukup tertekan dengan ucapan orang tuanya.

2.

Si ibu meminta maaf

Viral Siswa SD di Kalimantan Dimaki Ibu Usai Dapat Ranking 3
Rahmawati, bersama anaknya SF membuat klarifikasi dengan pihak sekolah terkait viral video makian karena ranking 3. | www.instagram.com

Video yang direkam oleh Rahmawati itu pun viral dan membuat banyak orang geram. Pihak sekolah yang diketahui berada di kawasan Berau, Kalimantan Timur lantas memanggil si ibu untuk memberikan penjelasan.

Si ibu lantas membuat klarifikasi dan meminta maaf atas video viral dirinya tengah memarahi anaknya hanya karena mendapatkan ranking tiga di kelas.

Baca Juga: Cara Kuno, Nadiem Sebut Siswa di Masa Depan Tak Perlu Kompetensi Menghafal!

“Saya Rahmawati sebagai orangtuanya SF. Saya mau klarifikasi tentang video saya kemarin. Itu hanya kekhilafan saya, jadi saya mau membuat permintaan maaf pada orang-orang yang bersangkutan, seperti bapak kepala sekolah SD, ibu wali kelas anak saya. Saya benar-benar tidak ada niat untuk membuat video yang viral. Saya mengaku salah, saya khilaf,” ucap si ibu dalam unggahan di akun Instagram @berauterkini, Minggu (15/12).

Si ibu pun berjanji tidak akan membuat video seperti itu lagi agar tidak menimbulkan keresahan dan kehebohan di masyarakat.

“Saya berjanji, tidak akan membuat video seperti itu lagi,” ucapnya.

Artikel Lainnya

Viralnya video seorang ibu memaki anaknya sendiri karena hanya mendapatkan peringkat 3 di kelas menjadi perbincangan hangat publik beberapa hari terakhir.

Hal ini tidak lepas dari sikap si ibu yang dinilai terlalu mengagungkan sebuah peringkat tanpa mementingkan bagaimana kondisi si anak yang masih dalam masa pertumbuhan.

Semoga hal ini juga bisa menjadi pembelajaran bagi orang tua lain di Indonesia bahwa pendidikan anak bukanlah hal yang utama jika hanya mengejar nilai semata.

Tags :