Chinese Money Trap, Jebakan Hutang Bagi Negara Berkembang Seperti Indonesia?

Chinese Money Trap
Chinese Money Trap yang dikhawatirkan akan jebak Indonesia |

Sebanyak apa sih hutang Indonesia pada Tiongkok?

Frasa Chinese Money Trap sempat bergaung beberapa waktu lalu. Konsep ini dipopulerkan oleh video yang diunggah di channel Youtube Nas Daily. Dalam video tersebut, Nas mengisahkan tentang hutang dari Tiongkok yang didesain untuk memerangkap negara berkembang yang kesulitan finansial.

Dikutip dari laman facebook Nas Daily, Chinese Money Trap adalah skema hutang Tiongkok yang memberikan pinjaman ke berbagai negara berkembang dalam jumlah besar untuk pembangunan infrastruktur agar saat negara tersebut tidak mampu membayar hutangnya maka Tiongkok dapat menguasai apa yang telah dibangun di negara tersebut.

Tentu saja hal ini mengkhawatirkan Indonesia yang disinyalir memiliki jumlah hutang yang besar. Dilansir dari Detik.com, hutang Indonesia kini mencapai 5.275 Triliun Rupiah pada akhir Januari 2019. Wajar saja jika lantas berhembus kekhawatiran bahwa Indonesia dapat terjebak dalam Chinese Money Trap.

Chinese Money Trap
Chinese Money Trap, apa itu? |

Kemenkeu tidak tinggal diam melihat kekhawatiran tersebut. Lewat akun media sosial, DJPPR Kemenkeu memberi klarifikasi bahwa hutang Pemerintah Indonesia masih dalam batas aman sehingga kecil kemungkinan akan terjebak dalam skema Chinese Money Trap.

Kemenkeu mengimbau masyarakat untuk dapat membedakan hutang pemerintah dengan hutang swasta. Hutang pemerintah sendiri terdiri dari dua komponen yakni Surat Berharga Negara (SBN) dan pinjaman.

Prosentase hutang pemerintah yang berupa pinjaman adalah 18,23% sedangkan yang berupa SBN di pasar modal adalah 81,77%. Pinjaman tersebut diberikan oleh berbagai negara dan organisasi internasional, yakni Bank Dunia, Asian Development Bank, Jepang, Jerman, Prancis dan Tiongkok.

Jumlah pinjaman pemerintah pada Tiongkok adalah sebesar 22 Triliun Rupiah, dan memiliki rasio 0,50% dari total hutang pemerintah. Selain itu, rasio hutang pemerintah terhadap PDB adalah sebesar 29,78%, masih di bawah batas aman yakni 30%.

Sedangkan negara-negara setara Indonesia kerap memiliki rasio hutang yang jauh lebih tinggi seperti Mesir sebesar 101,2%, Sri Lanka 77,6%, Pakistan 67,2%. Sehingga Indonesia menurut Kemenkeu masih berada dalam zona aman.

Artikel Lainnya

Perkara Chinese Money Trap ini tidak hanya dicetuskan oleh Nas Daily saja. Mahathir sejak naik sebagai PM Malaysia, menggantikan Najib Razak pun sudah melihat potensi risiko tersebut. Karena itu ia memutuskan untuk menghentikan proyek infrastruktur yang akan dibangun dengan modal dari Tiongkok.

Dilansir dari Tirto.id, Mahathir mengaku menolak untuk bernasib seperti Sri Lanka yang harus kehilangan tanahnya karena tidak dapat mengembalikan hutangnya kepada Tiongkok.

Mahathir pun melihat bahwa proyek infrastruktur dengan Tiongkok itu tidak membawa keuntungan yang masuk akal bagi masyarakat Malaysia. Justru mereka harus menambal untuk kebutuhan proyek dan mengurangi anggaran negara demi menyelesaikan proyek tersebut.

Bagaimana menurutmu tentang Chinese Money Trap ini? Akankah Indonesia menjadi korban dari skema hutang Tiongkok yang merugikan ini?

Tags :