Bentuk Toleransi, 300 Warga Australia Banjiri Masjid Indonesia di Melbourne dengan Ucapan Belasungkawa
19 Maret 2019 by Moseslaz
Contoh sejuknya potret perbedaan di dunia
Aksi penembakan di dua masjid di Selandia Baru beberapa waktu lalu menorehkan kedukaan yang amat besar bagi masyarakat. Bahkan warga local Australia menunjukkan solidaritas dan toleransinya dengan mendatangi sebuah masjid milik komunitas Muslim Indonesia di Melbourne.
Lewat kegiatan “Mosque Open Day”, warga local Australia yang berasal dari agama dan kepercayaan lain diberikan kesempatan untuk dating dan melihat langsung aktivitas Muslim di negara bagian Victoria tersebut.

Pada tahun ini ada 20 masjid yang berpartisipasi, salah satunya Masjid Westtall yang dimiliki dan dikelola komunitas Muslim Indonesia di Melbourne yang tergaung dalam “Indonesian Muslim Community of Victoria” atau IMCV.
Mosque Open Day tahun ini digelar tepat dua hari setelah serangan teroris di dua masjid di kota Christchurch, Selandia Baru yang menewaskan 50 orang termasuk satu warga Indonesia. Diperkirakan lebih dari 300 orang telah dating sejak pagi hari ke Masjid Westall untuk menyampaikan belasungkawa dan bentuk dukungan bagi komunitas Muslim Indonesia.
Banyak karangan bunga dan kartu-kartu yang berisikan kata-kata ikut berduka maupun pembangkit semangat hingga memenuhi salah satu bagian masjid.
"Dukungan luar biasa … dan terus terang adalah pertama kalinya selama saya bekerja di komunitas melihat pemandangan yang luar biasa," ujar Teguh Iskanto, Presiden IMVC (abc.net.au).
Para pengunjung yang juga diantaranya terdapat beberapa penduduk sekitar masjid, dipersilahkan mengajukan pertanyaan seputar Islam, mencoba menggunakan kerudung bagi perempuan, dan mencicipi masakan khas Indonesia.
IMCV sendiri sudh aktif dalam berbagai kegiata social di kota Melbourne, seperti misalnya menghidangkan makanan bagi tunawisma di jalanan kota Melbourne, memberikan bekal makan siang bagi anak-anak sekolah tidak mampu, dan ikut menjadi pendonor darah. Teguh mengatakan lewat kegiatan 'Mosque Open Day', IMCV bisa membuktikan kepada warga lokal di Australia bahwa masjid bukan sekedar tempat ibadah.
"[Masjid adalah] tempat pembentukan karakter, tempat ide-ide untuk menyebarkan kebaikan, serta tempat anak-anak diajarkan untuk selalu berbuat kebaikan," ujarnya.
Bahkan ada salah satu ibu Australia yang memiliki anak perempuan dan bersekolah di dekat masjid dan meminta izin untuk dapat mengontak masjid jika terjadi sesuatu.
"Tentu dengan senang hati, kita katakan masjid ini terbuka untuk siapa saja, apa pun warna kulit, bahasa, dan agamanya," kata Teguh.

Betapa indahnya perbedaan dilihat dari fenomena ini, saling menghargai satu sama lain sebagai sesama manusia. Hal tersebut harusnya sudah menjadi sifat banyak manusia saat ini, menerima keindahan perbedaan, bukan mempermasalahkan.