Menelisik Fakta Seksualitas di Jaman Kuno, Wanita Berperan Sebagai Sosok Istri yang Suci Sekaligus "Kupu-Kupu Malam

Menelisik Fakta Seksualitas di Jaman Kuno, Wanita Berperan Sebagai Sosok Istri yang Suci Sekaligus "Kupu-Kupu Malam
http://www.wowmenariknya.com/2016/05/5-fakta-mencengangkan-tentang-prostitusi-di-era-victoria.html

Pelacuran di jaman kuno bahkan lebih marak dibandingkan saat ini

Era Vicoria merupakan era pemerintahan Ratu Victoria dalam sejarah Britania Raya yang berlangsung dari tahun 1837 sampai pada tahun 1901. Di era ini, praktek pelacuran atau prostitusi juga sudah sangat marak bahkan lebih banyak dibandingkan dengan zaman sekarang.

Pelegalan praktek prostitusi di kala itu tidak hanya berlaku untuk wanita yang belum menikah saja. Tetapi wanita bersuami pun juga diperbolehkan menjadi seorang pelacur. Ya, di satu sisi mereka berperan sebagai istri atau ibu yang suci, dan di sisi lain mereka adalah kupu-kupu malam yang ternodai.

Faktanya, keberadaan wanita di era victoria memang kurang dihargai bahkan dianggap layak untuk dipermalukan oleh para pria.

Berikut beberapa fakta mencengangkan lainnya seputar prostitusi di era victoria.

1.

Seks telah menjadi budaya yang begitu kental

Menelisik Fakta Seksualitas di Jaman Kuno, Wanita Berperan Sebagai Sosok Istri yang Suci Sekaligus "Kupu-Kupu Malam

Tercatat ada sekitar 80.000 perempuan bekerja sebagai pelacur di London, belum kota-kota lainnya. Ini membuktikan bahwa seks sudah jadi budaya yang begitu kental ketika itu. Wanita yang jadi pelacur di Era Victoria disebut "wanita jatuh" karena mereka adalah orang terhormat yang seharusnya tidak berkerja seperti itu.

Namun faktanya, prostitusi benar-benar dilegalkan ketika Era Victoria. Hal ini juga memungkinkan perempuan untuk mendapat penghasilan besar yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya.

2.

Suami izinkan istri untuk jadi pelacur

Menelisik Fakta Seksualitas di Jaman Kuno, Wanita Berperan Sebagai Sosok Istri yang Suci Sekaligus "Kupu-Kupu Malam

Banyak keluarga bawah tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Hal itu memaksa wanita yang sudah menikah untuk mencari sampingan agar bisa membantu suaminya, salah satunya dengan jadi pelacur.

Suami di Era Victoria mengizinkan istrinya untuk tidur dengan pria lain demi mendapatkan uang. Bahkan, 50 persen dari ibu rumah tangga pada Era Victoria dilaporkan bekerja sebagai pelacur. Dalam beberapa kasus, suami berperan sebagai mucikari, menawarkan istrinya sendiri ke pria hidung belang

3.

Kebanyakan pelacur adalah wanita berpendidikan

Menelisik Fakta Seksualitas di Jaman Kuno, Wanita Berperan Sebagai Sosok Istri yang Suci Sekaligus "Kupu-Kupu Malam

Pada tahun 1800-an, banyak wanita yang sebenarnya tidak mendapat pendidikan formal, tapi kebanyakan dari mereka mendapat bimbingan langsung untuk belajar tentang keterampilan sosial, etika, menulis dan hal lainnya.

Sayangnya, semua keterampilan itu tidak bisa digunakan untuk mencari nafkah, sehingga kebanyakan wanita berpendidikan lebih memilih jadi pelacur.

4.

Pelacur memiliki tiga tingkatan

Menelisik Fakta Seksualitas di Jaman Kuno, Wanita Berperan Sebagai Sosok Istri yang Suci Sekaligus "Kupu-Kupu Malam

Semua pelacur harus melakukan pekerjaan yang sama, yaitu memuaskan birahi pria hidung belang. Tapi di Era Victoria, pelacur memiliki tiga tingkatan, yakni kelas terendah, kelas menangah, dan kelas atas.

Kelas terendah adalah perempuan muda yang bekerja di rumah bordil. Mereka sering dipaksa untuk melayani pria yang sering tinggal di daerah kotor. Sementara kelas menangah adalah perempuan mandiri yang memiliki rumah sendiri. Anehnya, pelacur kelas menengah bisa memilih kliennya sendiri sesuai yang disukainya.

Dan kelas atas adalah perempuan yang cantik dan berpendidikan yang hanya akan melayani pria berpendidikan tinggi pula, yaitu bangsawan dan anggota parlemen. Namun kebanyakan dari mereka menikahi pria kaya raya.

5.

Prostitusi adalah pekerjaan dengan bayaran paling mahal

Menelisik Fakta Seksualitas di Jaman Kuno, Wanita Berperan Sebagai Sosok Istri yang Suci Sekaligus "Kupu-Kupu Malam

Kebanyakan pekerjaan untuk wanita pada Era Victoria memiliki upah yang rendah, seperti pembantu rumah tangga, buruh pabrik dan lainnya. Tetapi, prostitusi merupakan satu-satunya pekerjaan untuk wanita yang memiliki bayaran paling mahal.

Penghasilan para pelacur jauh lebih besar jika dibandingkan dengan wanita berpendidikan yang memiliki kemampuan dalam berbisnis. Jadi, jika wanita cantik ditambah memiliki tubuh yang indah di Era Victoria, tidak perlu khawatir lagi soal uang.

6.

Prostitusi anak kecil dilegalkan

Menelisik Fakta Seksualitas di Jaman Kuno, Wanita Berperan Sebagai Sosok Istri yang Suci Sekaligus "Kupu-Kupu Malam

Selama Era Victoria, anak yang baru 11 tahun sudah bisa dikerjakan sebagai pelacur. Mirisnya lagi, banyak orang tua yang rela menjual anaknya sendiri untuk dijadikan pekerja seks demi mendapat uang tambahan.

Tidak seperti pelacur dewasa, pelacur anak-anak akan diberikan obat sejenis obat bius agar ia tak sadar ketika pria hidung belang merenggut keperawanannya.

Baca juga:



Tags :