Mengenal Pahlawan Perempuan Asia di Medan Laga

Mengenal Pahlawan Perempuan Asia di Medan Laga
https://wonderfulrife.blogspot.com/2015/01/the-female-samurai.html

Perempuan juga bisa di garis depan!

Perjuangan di medan laga kerap diidentikkan dengan peran laki-laki. Laki-laki sebagai makhluk yang kuat dan pemberani harus ditempatkan di barisan paling depan. Faktanya, para perempuan pun sejak dulu sudah berdiri di garda depan, bersama para laki-laki melakukan perjuangan. 

Indonesia sendiri memiliki pahlawan-pahlawan perempuan yang luar biasa tangguh. Dua di antaranya adalah Cut Meutia dan Cut Nyak Dhien yang berjuang mengangkat senjata mengusir Belanda dari Tanah Rencong. 

Tidak hanya Indonesia, negara-negara lain di Asia pun memiliki pahlawan perempuan yang juga luar biasa hebat. Berikut beberapa pahlawan perempuan di Asia yang patut kamu kenali!
 

 

1.

Trung Bersaudara (Vietnam) 

Mengenal Pahlawan Perempuan Asia di Medan Laga

Kakak-beradik Trung Trac dan Trung Nhi merupakan pahlawan perempuan dalam sejarah Vietnam yang dikenang dengan keberaniannya melawan pendudukan Cina pada tahun 40 M. 

Sebagaimana dilansir Tirto.id, dalam The Encyclopedia of the Vietnam War: A Political, Social, and MilitaryHistory (2011) tercantum bahwa saat itu Cina berupaya menduduki wilayah di Vietnam dan menerapkan kebijakan asimilasi untuk memfasilitasi penduduk mereka yang bermigrasi ke Vietnam. 

Suami Trung Trac menentang kebijakan dari dinasti Han tersebut, namun akhirnya ia terbunuh dalam pemberontakan. Peristiwa ini yang kemudian memantik Trung bersaudari untuk berperang melawan Cina.

Trung bersaudari tidak mempunyai bekal militer yang mumpuni maupun bala pasukan yang besar. Dua tahun setelah mereka mengalahkan pasukan Cina, Jenderal Ma Yuan dari pihak lawan datang memimpin penaklukan Vietnam. 

Trung bersaudari kalah di pertempuran Lang Bac, suatu daerah di dekat Hanoi. Mereka mundur untuk menyelamatkan diri ke Hat Mon. Namun mereka kembali diserang pasukan Cina sampai benar-benar kalah. Merasa sakit hati dan malu karena kalah, Trung bersaudari memilih mengakhiri hidup mereka sendiri. Tahun 43 M, Trung bersaudari menenggelamkan diri ke Sungai Hat.

Kisah pahlawan perempuan dari Vietnam ini begitu membekas bagi masyarakat Vietnam dan terus dikenang. Simbol penghormatan pun dibuat untuk Trung bersaudari, yakni pagoda Hai Ba di Hanoi dan pagoda Hat Mon di provinsi Son Tay. Tidak hanya itu, hari kematian mereka juga diperingati sebagai hari perempuan di Vietnam.

2.

Tomyris (Persia) 

Mengenal Pahlawan Perempuan Asia di Medan Laga

Pada abad 6 SM, hiduplah perempuan bernama Tomyris, seorang penguasa suku Massagetae di wilayah Persia. Kondisi suku Massagetae begitu damai sampai Cyrus berniat merebut wilayah mereka. 

Pada awalnya, Cyrus melancarkan upaya diplomasi untuk melancarkan tujuannya, yaitu dengan cara meminang Tomyris. Tomyris mengetahui maksud Cyrus hanyalah ingin memperluas daerah kekuasaannya, sehingga Tomyris pun menolak pinangan Cyrus. 

Tomyris lebih memilih peperangan daripada harus menyerahkan wilayahnya. Peperangan antara Cyrus dan Massagetae pun tidak terhindarkan. Pasukan Massagetae akhirnya bisa merebut kemenangan. Merasa di atas angin, pasukan Massagetae berpesta pora dan meminum anggur yang tidak biasa mereka konsumsi. 

Dalam pesta tersebut, putra Tomyris, Spargapises, ditangkap oleh pasukan Cyrus. Tak sudi menjadi tahanan Cyrus dan karena memikirkan nasib orang-orang sukunya yang masih tersisa, Spargapises memilih bunuh diri. 

Kelicikan Cyrus yang membuat Tomyris kehilangan anaknya mendorong pertumpahan darah berikutnya. Pasukan Massagetae kembali menang dan kali itu, Cyrus tewas dalam peperangan tersebut. Tak puas dengan kematian Cyrus, Tomyris mengambil mayat Cyrus dan memenggal kepalanya.

“Aku tetap hidup dan menjadi penakluk, tetapi kau telah menghancurkanku dengan mengambil putraku lewat tipu muslihat,” ucap Tomyris setelah membawa pulang kepala Cyrus yang disimpannya sampai ia mati. Claudia Gold menulis kisah Tomyris dalam Women Who Ruled: History's 50 Most Remarkable Women (2015).

Baca Juga: Catcalling di Indonesia: Pelecehan Verbal yang Dinormalisasi

3.

Rani Lakshmibai (India) 

Mengenal Pahlawan Perempuan Asia di Medan Laga

Rani Lakshmibai adalah seorang Brahmana yang dikenal sebagai seorang petarung. Lakshmibai sejak muda telah berlatih bela diri dan berkuda bersama para laki-laki. Sosok Lakshmibai kini selalu dikenang oleh masyarakat India karena ia terlibat dalam perang melawan penjajah Inggris di India. 

Seperti dilansir oleh Tirto.id, pada tahun 1849 Lakshmibai, yang masih berusia 14 tahun, dinikahi Raja Jhansi, Gangadhar Rao. Setelah menikah, Rao meminta Lakshmibai untuk menghentikan latihan perangnya. Hal ini tidak digubris oleh Lakshmi yang bahkan membentuk pasukan perempuan yang terdiri dari para pelayannya.

Ketika Gubernur Jenderal Dalhousie memimpin Inggris di India, ia menerapkan kebijakan doctrine of lapses, yaitu pengambil-alihan suatu wilayah jika rajanya tidak memiliki keturunan biologis yang bisa meneruskan tahta. Damodar sudah ditunjuk sebagai putra mahkota Jhansi, namun Inggris tidak mengakuinya karena dia bukanlah anak kandung. Hal ini mendatangkan perselisihan antara Lakshmibai yang mati-matian mempertahankan Jhansi dari kekuasaan Inggris.

Jalan perundingan sempat dilakukan Lakshmibai dan Inggris. Dalhousie menawarkan uang sebesar 60.000 rupee per tahun asalkan Lakshmibai mau meninggalkan istana. Lakshmibai pun menolak dan lebih memilih jalur peperangan.

Pertempuran Lakshmibai melawan Inggris dimulai sejak 1857. Keteguhan hati Lakshmibai dalam memperjuangkan daerahnya memancing simpati dari pemimpin daerah-daerah lain dan mereka pun memberikan bantuan. Lakshmibai tumbang dalam pertempuran di Gwalior tahun 1858. Jasadnya kemudian dikremasi sesuai tradisi Hindu dan jasanya terus dikenang hingga saat ini. 

Baca Juga:

Kisah luar biasa dari para pejuang perempuan ini memberikan pesan yang sama: perempuan dan laki-laki adalah setara. Perempuan, seperti laki-laki, juga memiliki kemampuan untuk berdiri di garis depan. Diskriminasi yang sampai saat ini masih menimpa perempuan hanya akan mengerdilkan potensi-potensi besar yang dimiliki perempuan.

Tags :