Makanan dan Kehidupan: Filosofi dalam Film Aruna dan Lidahnya

Makanan dan Kehidupan: Filosofi dalam Film Aruna dan Lidahnya
http://Keepo.me

Sudah pada nonton belum?

Akhir bulan September lalu, film Aruna dan Lidahnya sempat mencuri hati banyak penikmat film Indonesia. Diproduksi oleh Palari Films yang merupakan production house baru Indonesia yang cenderung progresif dan menghasilkan film-film Indonesia berkualitas dengan tema yang nggak biasa. Film Aruna dan Lidahnya pun mengangkat tema yang sebenarnya ringan, namun dikemas secara nggak biasa. Meski diangkat dari sebuah novel, namun penggambaran visual Aruna dan Lidahnya nyatanya nggak mengecewakan dan cukup membuat penonton terhanyut serta senyam-senyum sendiri.

Makanan menjadi poin unik dalam film ini. Tokoh Aruna, Bono, dan Nad digambarkan sebagai tokoh yang menyembah makanan layaknya Tuhan. Hal ini tertuang dalam adegan di geladak kapal di mana Bono berfilosofi mengenai makanan yang seperti kehidupan. Di dunia nyata, kita memang mengenal konsep gastronomi, yaitu ‘The science of good eating’ atau ilmu makanan yang baik. Menurut seorang gastronom terkenal dari Perancis, Brillat Savarin, Gastronomi adalah ilmu dan pengetahuan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia dan makanannya. Dalam hal ini, gastronomi mencakup juga mengenai kaitan makanan dengan konteks sosial budaya, serta filosofi di balik makanan. Aruna dan teman-temannya bisa jadi merupakan penggambaran seorang pegiat gastronomi yang begitu gemar mendalami kuliner dan mencintai aktivitas makan melebihi apa pun.

Quote dari film Aruna dan Lidahnya di atas pun berhasil mengungkap bagaimana makanan dan kehidupan itu begitu lekat. Sebagai sesuatu dengan banyak variabel tak terkontrol, baik makanan dan kehidupan sama-sama merupakan percampuran rasa yang jika kita sesapi satu-satu mungkin nggak menyenangkan, akan tetapi dalam campuran segalanya, akan terasa lezat dan indah.

Makanan, menurut seorang gastronom, bukanlah semata pengisi perut saat lapar, melainkan banyak hal lainnya seperti pelajaran hidup, pemersatu manusia, hingga obsesi. Tentu saja pendapat ini nggak diamini oleh semua orang. Beberapa orang, seperti sosok Farish dalam film Aruna dan Lidahnya, melihat penuhanan akan makanan tersebut sebagai sesuatu yang berlebihan. Makanan hanyalah makanan yang menjadi sumber energi manusia beraktivitas, itu saja.

Baca Juga:

Satu hal yang bisa kita petik dari sini adalah bahwa hidup ini penuh dengan perbedaan dan filosofinya. Nggak masalah kita mau setuju dengan para gastronom yang melihat makanan sebagai fenomena menarik untuk dikupas habis dan ditelaah lebih jauh. Lagipula, meromantisir makanan merupakan sesuatu yang menyenangkan ‘kan? Melihat pengalaman makan sebagai sesuatu yang magis dan bermakna lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan hidup. Kemampuan manusia dalam meromantisir segala sesuatu inilah yang kadang menjadi satu-satunya pegangan kita untuk tetap waras dan memiliki hati dalam kehidupan yang serba keras ini. Ya ‘kan?

Tags :