Menolak Tumbalkan Anak, Ini Kisah Pesugihan yang Berujung Petaka!

Menolak Tumbalkan Anak, Pesugihan Berujung Petaka
Menolak Tumbalkan Anak, Pesugihan Berujung Petaka | paranormal.lovetoknow.com

Makanya jangan main-main dengan pesugihan

Semua orang sudah tahu bahwa ketika mengikrarkan diri pada setan, maka akan ada tumbal yang harus dikorbankan. Jika tidak dilaksanakan, petaka pun akan datang menghampiri. Entah secara langsung atau pun secara perlahan. Tapi yang jelas, petaka tersebut pastilah datang.

Seperti halnya kisah Ramon (bukan nama sebenarnya) yang akhirnya harus meregang nyawa karena menolak untuk menumbalkan anaknya setelah dirinya merasakan kekayaan akibat ritual pesugihan yang dilakukannya.

Seperti apa kisahnya? Dilansir dari Kumparan.com, Selasa (31/3/2020), berikut ini kisahnya untuk kamu semua. Langsung aja kalau gitu kita Keepo bareng-bareng artikelnya.

1.

Dikejar polisi

Menolak Tumbalkan Anak, Pesugihan Berujung Petaka
Dikejar polisi | cirebon.tribunnews.com

Kala itu waktu telah menunjukkan pukul 02.00 WIB. Di sampingnya terlihat Rino (bukan nama sebenarnya) yang tengah tertidur pulas sambil memeluk jaket pemberiannya satu tahun lalu ketika Ramon sekeluarga merayakan keberhasilan Rino naik ke kelas 3 SD dengan peringkat juara kelas.

Baca Juga: Mitos Nyi Blorong, Panglima Cantik yang Bisa Bikin Orang Kaya Mendadak

Karena tidak tega melihat buah hatinya kedinginan, Ramon pun lantas membuka jaket yang dikenakannya untuk menyelimuti tubuh mungil Rino. Rest area pada malam itu tidak terlalu sepi sehingga Ramon merasa nyaman untuk bisa beristirahat sejenak di sana.

Selain itu, alasannya untuk menepikan mobilnya di rest area pada pukul 2 pagi adalah karena dirinya merasa kelelahan setelah sebelumnya melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan: kabur dari kejaran polisi.

2.

Pesugihan karena takut bisnisnya bangkrut

Menolak Tumbalkan Anak, Pesugihan Berujung Petaka
Pesugihan karena takut bisnisnya bangkrut | palopopos.fajar.co.id

“Kamu harus mengorbankan anak itu atau akan ada akibat yang harus ditanggung,” ujar seorang dukun pada Ramon.

Baca Juga: Kisah Petilasan Mbang Lampir di Gunungkidul, Jadi Tempat Favorit Para Pelaku Pesugihan

Mendengar ucapan tersebut, Ramon lantas membalasnya dengan makian dan sumpah serapah. Mana mungkin ia rela menjadikan anak kesayangannya sebagai tumbal pesugihan.

Tak ingin terlalu memikirkan, Ramon lantas mulai mengemasi beberapa pakaian serta keperluan Rino. Anaknya yang sedang menonton televisi pun dibuat bingung oleh ayahnya yang terlihat menangis sambil menenteng-nenteng tas.

“Rino sayang, ayo sekarang kita pergi ke rumah nenek,” bujuk Ramon.

Baca Juga: Ritual dan Tumbal Pesugihan Babi Ngepet yang Konon Bikin Kaya Mendadak

Ramon bersama sang buah hati pun mulai bergerak dari rumahnya menuju rumah ibunya. Selama dalam perjalanan, Ramon teringat masa lalu dengan keluarga kecilnya di mana hanya ada kebahagiaan yang menyelimuti. Akan tetapi, kebahagian tersebut harus sirna hanya untuk memenuhi egonya semata.

Ramon sendiri merupakan seorang pengusaha ternama di kotanya. Ia memiliki berbagai macam bisnis, mulai dari toko grosir, toko handphone, jasa penyewaan mobil, hingga apotek.

Selain itu, Ramon juga memiliki sawah yang luasnya berhekatare-hektare serta peternakan kambing yang berada tidak jauh dari kediamannya.

Baca Juga: Kisah Kedigdayaan Soeharto Selama 32 Tahun, Konon Lekat dengan Dunia Gaib dan Spiritual

Kekayaan yang dimiliki Ramon pada saat itu merupakan buah dari kerja kerasnya selama belasan tahun. Akan tetapi, beberapa bulan terakhir, bisnis yang dijalani Ramon mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Semua tokonya tidak lagi dipenuhi oleh para pembeli sebagaimana dahulu. Hal ini menyebabkan Ramon khawatir bisnis yang dirintisnya akan bangkrut. Terlebih popularitasnya sudah mulai menurun karena munculnya pengusaha-pengusaha baru dengan ide dan barang dagangan yang lebih fresh.

3.

Dukun itu bernama Mbah Mujo

Menolak Tumbalkan Anak, Pesugihan Berujung Petaka
Dukun itu bernama Mbah Mujo | m.tribunnews.com

Meskipun sang istri sudah mengingatkan Ramon untuk tidak memikirkannya terlalu berlebihan, namun pikirannya tetap saja kalut. Hingga akhirnya ia pun mengambil jalan pintas agar kehormatan serta kepopulerannya kembali melambung. Ia kemudian menemui Mbah Mujo, seorang dukun ternama yang ada di kotanya.

Baca Juga: Pengalaman Mistis Rusno, Diteror Suara Aneh dan Bau Melati di Kamar Hotel Jogja

Mbah Mujo sendiri dikenal sebagai dukun sakti mandraguna yang dapat mengabulkan semua permintaan dari para pelanggannya. Reputasi serta testimoni yang bagus membuat Mbah Mujo dipuja oleh mereka yang berduit dengan usaha yang sedikit.

Karena kesaktiannya itu maka tak heran jika Mbah Mujo menetapkan tarif yang sangat tinggi untuk sekali praktik pesugihan.

Ramon yang sudah tahu akan hal itu lantas datang menemui Mbah Mujo dengan membawa uang belasan juta rupiah. Permintaan Ramon sederhana: bisnisnya makmur seperti dulu sehingga terhindar dari kebangkrutan.

Baca Juga: Kisah Mistis Jembatan Merah Gejayan Ini Bikin Warga Jogja Deg-Degan Kalau Lewat

Setelah semua persiapan selesai, ritual pesugihan pun dilakukan. Setelah selesai, Mbah Mujo lantas berucap bahwa Ramon dengan bisnisnya akan kembali ke puncak.

“Dalam 4 hari, kamu akan kembali menjadi orang nomor satu di kota ini,” katanya.

Sebagaimana ucapan dari Mbah Mujo, Ramon akhirnya berhasil terhindar dari kebangkrutan. Tiap harinya tokonya penuh sesak oleh para pelanggan. Bahkan dalam sebulan, ia berhasil meraih pendapatan yang tidak bisa dicapai sebelumnya.

Baca Juga: Dikembalikan oleh Belanda, Ini Mitos Mistis Keris Milik Pangeran Diponegoro

Tentu saja hal itu membuat Ramon senang bukan kepalang. Sayangnya, ia lupa bahwa terdapat syarat yang harus dilakukan untuk dapat mencapai ke titik tersebut. Jika syarat tersebut tidak terpenuhi, maka kesuksesannya pun akan berakhir dengan singkat.

Mbah Mujo yang telah mengetahui kelancaran bisnis Ramon kemudian mengingatkan Ramon akan syarat yang harus dipenuhinya. Akan tetapi, ucapannya malah dibalas dengan cacian serta sumpah serapah dari Ramon.

“Kamu jangan main-main Ramon, 'dia' sudah memenuhi permintaan kamu, sekarang kamu harus membalasnya atau sesuatu yang buruk bisa menimpamu,” ucap Mbah Mujo mengingatkan.

Baca Juga: Bangunan Tua di Kota Solo Ini Diyakini Jadi Sarang Para Arwah Kelaparan

“Aku tidak mungkin menumbalkan anakku sendiri,” balas Ramon.

Ramon pun menganggap bahwa ucapan dari Mbah Mujo hanya gertakan semata. Sampai pada akhirnya ia mengetahui bahwa kesialan benar-benar akan menimpa dirinya setelah istrinya meninggal dunia satu minggu setelah pertemuan terakhirnya dengan Mbah Mujo.

Tim yang melakukan otopsi terhadap jasad istri Ramon pun dibuat kebingungan untuk mengetahui penyebab kematiannya. Di sisi lain, Ramon sebenarnya sudah tahu penyebab kematian dari istri yang dicintainya itu.

Baca Juga: Ngeri! Wahana Rumah Hantu di Semarang Ini Beneran Jadi Tempat Makhluk Halus

“Saya sudah peringatkan sebelumnya, Ramon, tapi kamu tidak menuruti perkataan saya. Kamu harus mengorbankan anak itu atau akan ada akibat yang harus ditanggung,” kata Mbah Mujo marah.

“Sialan kamu Mujo, jangan main-main kamu sama saya! semoga kamu membusuk di neraka atas apa yang kamu perbuat!” balas Ramon yang marah atas apa yang terjadi kepada istrinya.

Baca Juga: Merinding! Konon Sering Muncul Penampakan Sosok Botak Bertaring di Stasiun Solo Kota

Meski telah diperingatkan, Ramon masih saja tetap ngeyel. Hingga pada akhirnya bisnis yang dibangunnya pun musnah karena sepi pengunjung. Bahkan sawah miliknya yang biasanya menghasilkan padi-padi yang gemuk tiba-tiba saja dilanda hama sehingga gagal panen.

Rasa frustasi Ramon semakin menjadi ketika salah seorang kepercayaannya memberi kabar bahwa dirinya kini tengah diburu polisi. Saat itu pula Ramon memutuskan untuk kabur bersama dengan Rino.

Artikel Lainnya

Dari semua hal itu, semua kejadian yang terjadi pada akhirnya membawa Ramon sampai ke titik di mana mobilnya hilang kendali dan menghantam pohon dengan kecepatan tinggi. Sebuah titik di mana ia sadar bahwa kematian adalah hal yang harus ditanggung ketika bermain-main dengan setan.

Tags :