Haru! Berprofesi Sebagai Tukang Becak, Bapak Ini Sekolahkan 300 Anak Tidak Mampu

Dia dikenang sebagai pahlawan hingga saat ini.
Dia dikenang sebagai pahlawan hingga saat ini. | freethinking.me

Bai Fang Li, pahlawan yang tidak tergantikan bagi warga Tianjin, Cina.

Salah satu faktor yang menahan orang untuk bersedekah biasanya adalah masalah keuangan dari orang itu sendiri. Mungkin kamu juga pernah beranggapan bahwa kondisi keuangan kamu saja sedang susah, lantas bagaimana mau membantu orang lain?

Namun, seorang pria lansia dari Cina bernama Bai Fang Li (74) telah membuktikan bahwa pemikiran semacam itu hanya sebuah pembenaran saja.

Dia dikenang sebagai pahlawan hingga saat ini.
Bai Fang Li dan becaknya. | alchetron.com

Dilansir dari Viva.co.id (27/08/19), pada tahun 1987, Bai Fang Li baru saja pensiun dan pulang ke kampung halamannya di Tianjin. Di kampung halamannya, dia melihat banyak anak-anak yang bekerja di ladang dan tidak pergi ke sekolah.

“Dia bertanya kenapa banyak anak-anak tidak sekolah. Lalu saya katakan bahwa mereka terlalu miskin untuk membayar uang sekolah. Ayah lalu khawatir dan menyumbangkan 5.000 yuan untuk sekolah di kampung halaman kami,” ujar Bai Jin Feng, anak Bai Fang Li.

Baca juga: Berniat untuk Bantu Jual Mobil Pacarnya, Pria Ini Gunakan Cara yang Langsung Viral

Dia dikenang sebagai pahlawan hingga saat ini.
Fang Li merasa sedih saat melihat banyak anak di kampungnya yang tidak sekolah. | freethinking.me

Hebatnya lagi, meski dia sudah menyumbangkan uang yang cukup besar dari upah pensiunannya, Bai Fang Li merasa bahwa bantuan yang diberikan belum cukup. Lantas, dia pun memutuskan untuk menjadi penarik becak untuk menambah penghasilan supaya dia bisa membantu anak-anak di kampungnya. Meski sudah berusia 74 tahun, dia bahkan bisa mangkal hingga 24 jam.

“Dia selalu berangkat subuh dan pulang saat sudah gelap lagi. Dia mengumpulkan 20 sampai 30 yuan per hari. Saat pulang ke rumah dia simpan uang itu baik-baik,” ujar sang anak yang sudah sering menyarankan ayahnya untuk beristirahat saja di rumah dan menikmati masa pensiun.

“Dia tidak pernah lupa untuk memberi uang ke sekolah bahkan mengomeli kami agar benar-benar menyampaikan uangnya ke sekolah. Setiap dia memberikan uang itu dia merasa senang dan dia katakan kalau dia menuntaskan misinya,” lanjut Xu Xiu Xiang, pekerja di yayasan pendukung pendidikan di sana.

Baca juga: Jadi Korban Bully di Sekolah, Anak Ini Sampai Harus Cium Kaki Temannya Sendiri

Dia dikenang sebagai pahlawan hingga saat ini.
Meskipun sudah disuruh anaknya untuk berhenti kerja, Bai Fang Li tetap keras kepala. | www.awazieikechi.com

Namun, pada akhirnya, usia menjadi batas bagi Bai Fang Li. Suatu hari, pada saat dirinya sudah menginjak usia yang hampir mencapai 90-an, dia datang ke sekolah untuk menyerahkan sekotak uang terakhir yang bisa dia sumbangkan.

“Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan. Saya harap anak-anak bisa terus sekolah yang rajin dan bisa dapatkan pekerjaan lalu berkontribusi kepada negara kita,” ujar Fang Li.

Untuk menghargai jasanya, warga Tianjin membuatkan monumen untuk dirinya.
Untuk menghargai jasanya, warga Tianjin membuatkan monumen untuk dirinya. | kalamfanclub.com
Artikel Lainnya

Pada tahun 2005, Bai Fang Li menghembuskan napas terakhirnya setelah dirinya berjuang melawan kanker paru-paru. Selama hidupnya, dia sudah menyumbang sekitar 30 ribu yuan (setara dengan 500 juta rupiah) supaya 300-an anak di kampungnya tidak putus sekolah. Hingga kini, dirinya masih dikenang sebagai pahlawan dan warga Tianjin bahkan membuatkan monumen peringatan untuk dirinya.

Tags :