Ironis! Guru Honorer di NTT Cuma Digaji Rp 85 Ribu, Hidup Tanpa Listrik dan Makan Ubi

Guru honorer
Kisah pilu guru honorer | regional.kompas.com

Kisah pilu dari seorang guru honorer di NTT dengan gaji 85 ribu per bulan

Nasib pilu dialami para guru honorer di Kabupaten Sikka, Flores, NTT. Maria Beta Nona Vin merupakan salah satu guru honorer di SMPN 3 Waigete dengan upah Rp 85.000 per bulan. Meski perjuanganya tidak mudah, guru yang akrab disapa Beti tersebut setiap harinya harus menempuh 6 km dengan berjalan kaki.

Perjuangan Beti memang tak sebanding dengan penghasilan yang ia terima tiap bulan. Dengan upah Rp 85.000 Beti harus bertahan hidup. Bahkan upah tersebut sering menunggak hingga 3 bulan.

Melihat tempat tinggal Beti sangatlah tidak layak. Hanya sebuah rumah dari dari bambu beratap alang-alang. Tak ada listrik yang mengaliri pedesaan tempat Beti tinggal. Bahkan jaringan telepon sulit didapatkan.

1.

Bertahan hidup dengan gaji yang tidak seberapa

Guru honorer
Hanya terima 85ribu per bulan | regional.kompas.com

Beti mengajar di SMPN 3 Waigete sejak tahun 2017, namun upah yang didapatkannya sejak awal mengajar tidak pernah bertambah. Hingga kini Beti hanya menerima gaji Rp 85.000 setiap bulan. Beti juga mengaku bahwa gaji yang ia terima tak jarang mandek sampai 3 bulan.

“Itu uang Rp. 85.000 juga kadang-kadang mandek sampai 3 bulan. Itu kan uang dari orangtua siswa. Jadi kita tunggu kapan mereka bayar baru kita terima honor,” ujar Beti kepada Kompas.com (8/7).

Saat gaji belum dibayar, Beti akan bertahan hidup mengandalkan ubi yang diambilnya di kebun.

“Saya kalau pulang sekolah, urus kebun tanam ubi . Sehingga pas belum ada uang untuk beli beras, ya kita makan ubi saja dulu,” ungkap Beti.

Meski bergaji kecil, setiap hari Beti tetap semangat untuk mengajar walaupun harus menempuh 3 km atau setengah jam untuk sampai ke sekolah. Jika di total dalam sehari Beti menempuh perjalanan hingga 6 km.

Baca juga: Pakai Ruang Kepala Sekolah, Oknum Guru Payakumbuh Sodomi Muridnya

2.

Rumah yang tak layak

Guru honorer
Rumah yang tak layak | regional.kompas.com

Saat ditemui oleh Kompas.com, kondisi rumah dari Beti sangat tidak layak. Dari luar terlihat dinding yang hanya terbuat dari bambu beratapkan alang-alang dan lantai tanah. Saat memasuki ruangan bagian dalam tak terlihat ada perabotan yang berarti.

Hanya terdapat sebuah ruangan dengan kursi bambu beralas tikar yang menjadi tempat Beti beristirahat. Tak ada lemari untuk menyimpan pakaian miliknya. Beti mengakali dengan menggantung pakaian di langit-langit rumah.

Menengok dapur milik Beti yang hanya terdapat tungku tradisional dari batu. Beti masih memakai kayu bakar untuk menyalakan api saat memasak.

“Bisa lihat sendiri kan sekarang. Beginilihan kondisi rumah saya. Tapi saya tetap bertahan di sini untuk mencerdaskan anak-anak bangsa,” ungkap Beti.

3.

Perjuangan Beti yang tak mudah

Guru honorer
Ilustrasi guru honorer | scholae.co

Perjuangan Beti sangat berat dan menyedihkan. Tak hanya digaji Rp 85.000 dan rumah yang tak layak, Beti juga harus hidup tanpa listrik dan juga tanpa sinyal. Warga tempat tinggal sekitar memang masih mengandalkan lampu tenaga surya dan generator.

“Di rumah kami pakai lampu pelita. Kalau malam kerja perangkat pembelajaran, kami andalkan lampu pelita saja. Susah sekali sebenarnya, tetapi karena sudah terbiasa jadinya nyaman juga. Untuk yang punya handphone harus charger di orang yang ada mesin generator,” ujar Beti.

Beti juga menyayangkan susahnya mencari jaringan telepon, sehingga sulit untuk berkomunikasi dengan keluarga di luar daerah. Beti mengaku untuk mendapat sinyal, para warga harus berjalan sejauh 3 km terlebih dulu.

Artikel Lainnya

Kisah perjuangan Beti seorang guru honorer di daerah terpencil semoga bisa menginspirasi kita semua. Dalam keadaan yang serba kekurangan, Beti tetap semangat untuk mengajar meski gaji yang ia dapatkan tak sebanding dengan perjuangannya dan pengorbanannya.

Tags :