Dwi Hartanto Dulunya Dipuja Karena Dianggap 'The Next Habibie', Ternyata Semua Prestasi Dan Gelar Akademiknya Palsu!

Dwi Hartanto Dulunya Dipuja Karena Dianggap 'The Next Habibie', Ternyata Semua Prestasi Dan Gelar Akademiknya Palsu!
https://kumparan.com/ardhana-pragota/kebohongan-dwi-hartanto-dan-sebutan-the-next-habibie

Niat banget loh bikin pemalsuannya

Indonesia tengah digemparkan dengan pemalsuan berbagai prestasi dan gelar akademik oleh Dwi Hartanto. "Ilmuwan" Indonesia yang sempat disanjung sebagai "The Next Habibie" karena karya-karya hebatnya di dunia kedirgantaraan.

Pada tahun 2015, Dwi muncul di media massa atas karyanya di dunia aeronautika karena disebut menciptakan Satellite Launch Vehicle/SLV (Wahana Peluncur Satelit, red) dengan teknologi termutakhir yang disebut The Apogee Ranger V7s (TARAV7s).


TARAV7s hanya satu dari sekian cerita prestasi seorang Dwi di dunia kedirgantaraan. Ia disebut memiliki 5 hak paten di bidang kedirgantaraan. Dwi juga disebut tengah terlibat proyek pembuatan Eurofighter Typhoon Defence, pesawat tempur generasi terbaru. Sejak itu, ia kerap dibanding-bandingkan dengan Habibie.

Dwi sendiri pernah bertemu dengan Habibie pada awal Desember 2016 ketika Habibie berkunjung ke Belanda. Kepada media, Dwi berkoar bahwa Habibielah yang pertama kali meminta untuk bertemu kepadanya. Dia juga mengaku mendapat jaminan dari Habibie bahwa ia tidak akan mendapat rayuan pindah kewarganegaraan oleh pemerintah Belanda.


Karena, meskipun WNA, tapi dia dianggap layak menangani berbagai proyek prestisius. Dia mengklaim menangani berbagai proyek dari Kementerian Pertahanan Belanda, European Space Agency (ESA), NASA, Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), serta Airbus Defence.

Tapi, ternyata semua itu adalah kepalsuan yang dilebih-lebihkan oleh Dwi. Hal ini terungkap dari Surat Klarifikasi Dwi yang berisi permohonan maaf karena pemberitaan berlebihan yang muncul selama ini.


“Saya mengakui bahwa kesalahan ini terjadi karena kekhilafan saya dalam memberikan informasi yang tidak benar (tidak akurat, cenderung melebih-lebihkan), serta tidak melakukan koreksi, verifikasi, dan klarifikasi secara segera setelah informasi yang tidak benar tersebut meluas,” tulis Dwi melalui keterangan tertulis.

Dwi akhirnya mengaku bahwa dia bisa bertemu dengan Habibie setelah ia mengajukan permintaan ke pihak KBRI Den Haag. Dan ini bukanlah pertemuan empat mata. Dia hanya salah satu peserta dari banyak peserta yang bertemu dengan Habibie.

Topik pembicaraan soal tawaran kewarganegaraan dari Pemerintah Kerajaan Belanda juga diklarifikasi oleh Dwi. Pemerintah Belanda tidak pernah sekalipun membujuknya menjadi warga negara, sebagaimana yang ia bicarakan dengan Habibie.

Poin terpenting dari klarifikasi ini adalah pelurusan aktivitas akademik Dwi Hartanto. Dwi tidak membenarkan karya buatannya seperti wadah peluncur roket TARAV7s dan berbagai aktivitas lainnya.


Ternyata, dia sama sekali tidak pernah membuat roket TARAV7s. Itu hanya karangannya saja. Roket yang pernah dia buat hanyalah roket proyek amatir mahasiswa yang diberi nama DARE Cansat 7V. Dia juga tidak pernah terlibat di berbagai proyek kedirgantaan.

“Tidak benar bahwa riset saya menggarap bidang national security Kementerian Pertahanan Belanda, ESA (European Space Agency), NASA, JAXA (Japan Aerospace Exploration Agency), serta Airbus Defence,” tulis Dwi.

Yang lebih parahnya lagi, ternyata Dwi TIDAK PERNAH menjalani studi kedirgantaraan dari S1 sampe S3. S1nya aja Program Teknologi Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta pada tahun 2005.

Untuk S2, ia menjalani studi di TU Delft, Faculty of Electrical Engineering, Mathematics and Computer Science, dengan judul thesis berjudul "Reliable Ground Segment Data Handling System for Delfi-nJXt Satellite Mission", yang selesai pada Juli 2009. Topik inilah yang membuat bersinggungan dengan satelit dan roket. Dwi kemudian melanjutkan program doktoral di bidang Interactive Intelligence (Departemen Intelligent Systems). Dan dengan semua kepalsuan ini, dia disandingkan denga Habibie? Cih.

Habibie sendiri sebelum menduduki posisi penting di pemerintahan Republik Indonesia dikenal sebagai tokoh yang menonjol dalam kedirgantaraan internasional. Ilmu dirgantara mengenal Teori Habibie, Fungsi Habibie, dan Faktor Habibie yang berperan penting dalam pengembangan kontstruksi pesawat menjadi lebih ringan. Habibie juga memperoleh Theodore van Karman sebagai anugerah tertinggi bagi pakar konstruksi pesawat terbang.


Atas tindakannya, Dwi telah menjalani sidang kode etik oleh TU Deflt terkait informasi-informasi tentangnya yang telah sampai kepada mereka pada 25 September 2017. “Hingga klarifikasi ini saya sampaikan, TU Delft masih berada dalam proses pengambilan sikap/keputusan,” tulis Dwi.

Pada bagian akhir klarifikasinya, Dwi mengucapkan permohonan maaf.

"Saya mengucapkan permohonan maaf sebesar-besarnya pada semua pihak yang telah dirugikan atas tersebarnya informasi-informasi yang tidak benar terkait dengan pribadi, kompetensi, dan prestasi saya.

Saya mengakui dengan jujur, kesalahan/kekhilafan dan ketidakdewasaan saya, yang berakibat pada terjadinya framing, distorsi informasi, atau manipulasi fakta yang sesungguhnya secara luas yang melebih-lebihkan kompetensi dan prestasi saya.

"Saya sangat berharap bisa berkenan untuk dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya.

Untuk itu saya berjanji:
1. Tidak akan mengulangi kesalahan/perbuatan tidak terpuji ini lagi,
2. Akan tetap berkarya dan berkiprah dalam bidang kompetensi saya yang sesungguhnya dalam sistem komputasi dengan integritas tinggi,
3. Akan menolak untuk memenuhi pemberitaan dan undangan berbicara resmi yang di luar kompetensi saya sendiri, utamanya apabila saya dianggap seorang ahli satellite technology and rocket development, dan otak di balik pesawat tempur generasi keenam.

Duh, kalau haus perhatian dan pengen dianggap berprestasi, ya buatlah prestasi. Jangan malah membuat pentas palsu yang menampilkan berbagai kebohongan yang sudah dipoles di sana-sini. Kalo gini caranya, bukan malah bikin bangga Indonesia, malah bikin malu di kancah internasional.

Baca artikel viral lainnya ya:

Tags :