Dibalik Harga Es Krim Aice yang Murah, Ternyata Tersimpan Penderitaan Para Buruh!

Dibalik Harga Es Krim Aice yang Murah, Ternyata Tersimpan Penderitaan Para Buruh!
https://kumparan.com/rina-nurjanah/derita-buruh-di-balik-harga-murah-es-krim-aice

Dibalik harganya yang murah ternyata...

Polemik tuntutan para buruh yang diwakili oleh Serikat Buruh Demokratik Kerakyatan (SEDAR) terhadap  PT. Alpen Food Industry (Es Krim Aice) masih menemui jalan buntu.

Dua kali perundingan yang dilakukan kedua belah pihak masih belum menemui titik temu yang benar-benar menguntungkan kedua belah pihak.

Buruh mogok kerja

Seperti yang telah beredar sebelumnya, sejak 2 November 2017, sebanyak 644 orang buruh yang bekerja sebagai tenaga produksi es krim ini melakukan mogok kerja. Mogok kerja yang dilakukan selama 15 hari hingga tanggal 16 November 2017 itu menuntut agar perusahaan yang terletak di Jl. Selayar II Blok H No. 10, Telajung, Cikarang Barat itu memberikan keadilan bagi mereka.


Pasalnya para buruh sudah rela membayar Rp 2 juta hingga Rp 3,5 juta agar bisa diterima di pabrik yang terkenal dengan produk es krim murah meriahnya ini. 

Berikutnya, dikabarkan jika para buruh digaji serupa pekerja harian, meski gaji pokok sudah Rp. 3,5 juta, tapi masih ada potongan bahkan pemotongan ini berlaku meskipun buruh itu tidak bekerja karena sakit. Hal ini bertolak belakang dengan UU No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, yang menyebutkan jika buruh sakit, gaji harus tetap dibayarkan.

Selanjutnya soal tenaga kontrak, dalam UU ketenaga kerjaan juga disebutkan jika perpanjangan kontrak paling lama dua tahun dan hanya boleh diperpanjanga satu kali selama satu tahun, jika melebihi waktu itu maka pekerja itu wajib diangkat menjadi pekerja tetap

Hal ini bertolak belakang dengan yang dialami para buruh, mereka dikontrak selama 6 bulan hingga satu tahun terus-menerus hanya menerima perpanjangan kontrak.

Hal senada juga dialami oleh 281 orang operator produksi, status mereka hingga sekarang masih sebagai pekerja outsourcing yang disalurkan oleh pihak ketiga, dalam hal ini PT. Mandiri Putra Bangsa.

Ditambah lagi PT. AFI dilaporkan kerap melakukan penahanan ijazah hingga mempekerjakan buruh tanpa Surat Perjanjian Kerja (SPK). Bahkan 50 persen pekerja tidak diikutsertakan dalam BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan.

Beberapa hal di atas sungguh bertolak belakang dengan citra es krim Aice yang berhasil menyabet Excellent Brand Award 2017 dalam kategori es krim terbaik.

Info tambahan, pihak perusahaan kini telah memberikan respon dan bersedia mengangkat karyawan tetap dengan prosedur yang telah ditentukan.

Tags :