RIP Humanity! Meski Hidup Berkelimpahan, Satu Keluarga Ini Malah Memilih Melakukan Bom Bunuh Diri di 3 Gereja Di Surabaya

RIP Humanity! Meski Hidup Berkelimpahan, Satu Keluarga Ini Malah Memilih Melakukan Bom Bunuh Diri di 3 Gereja Di Surabaya
https://kumparan.com/@kumparannews/keluarga-bomber-surabaya-pengusaha-minyak-wijen-dan-lulusan-akper

Indonesia berduka! Beberapa daerah terus diserang dengan bom

Hari Minggu kemarin, para umat Kristiani di Surabaya yang hendak beribadah, diserang dengan bom. Tiga gereja yang menjadi target serangan adalah Gereja Santa MariaTak Bercela, Ngagel. Disusul kemudian ledakan di GKI Diponegoro dan GPPS Sawahan. Pelakunya meledakkan diri dan menyebabkan 13 orang tewas dan 41 orang luka-luka. Dari total 13 orang yang tewas itu, 6 orang merupakan pelaku, sementara 7 sisanya adalah jemaat gereja. Yang membuat kejadian ini semakin mengusik rasa kemanusiaan, pelakunya berasal dari satu keluarga. Mulai dari ayah, ibu, hingga 4 anaknya, semuanya menjadi pelaku bom bunuh diri.

Diketahui, keluarga ini baru saja pulang dari Suriah dan dulu sempat menjalin hubungan dengan ISIS. Ternyata, keadaan ekonomi keluarga ini cukup mentereng. Mereka tinggal di perumahan elit, tepatnya di Kompleks Wonorejo Asri, Kavling 22, Wonorejo Rungkut, Surabaya. Rumah di perumahan ini rata-rata dijual seharga Rp 1,2 miliar hingga Rp 1,5 miliar. Tapi, ekonomi mapan dan pendidikan baik rupanya tidak bisa mencegah mereka disusupi oleh paham-paham radikal.

Sang suami yang bernama Dita merupakan pengusaha minyak jintan hitam, minyak wijen, serta minyak kemiri. Selain berjualan di toko, dia juga memasarkan dagangannya lewat dunia maya. Sementara, sang istri yang bernama Puji, pernah bersekolah di Akademi Keperawatan RSI Surabaya. Dia juga pernah mengenyam pendidikan di SMAN 2 Magetan.

Menurut Ketua RW 4, Wonorejo Asri, Taufik Gani, Dita adalah salah satu warganya yang rajin mengikuti salat berjamaah di musala.

Dalam melakukan aksinya, keluarga ini berbagi tugas. Dari keterangan Kapolri Tito, ledakan terbesar terjadi di Gereja Pentakosta Pusat Surabaya. Bom diledakkan memakai mobil.

"Dengan Avanza, tentu menggunakan bom yang diletakkan dalam kendaraan. Setelah itu ditabrakkan. Ini ledakan yang terbesar sepertinya dari tiga ledakan," ucap Tito.

Sementara di GKI, pelaku memasang bom di pinggang dan kemudian meledakkan dirinya. Hal ini dibuktikan dengan hancurnya bagian pinggang pelaku.

Via. Faktualnews

Sementar pada ledakan di Gereja Santa Maria Tak Bercela, polisi menduga pelaku meledakkan bom  dengan cara memangkunya dengan menaiki motor yang menuju ke halaman gereja.

"Istrinya diduga bernama Puji Kuswanti kemudian yang anak perempuan ini bernama Fadila Sari umur 12 tahun dan Pamela Rizkita 9 tahun. Mereka satu keluarga," imbuh dia.

Sementara, bom yang diledakkan di Gereja Santa Maria Tak Bercela dilakukan oleh dua anak laki-lakinya, ialah Yusuf dan Alif.

Tak lama setelah insiden bom ini, pada malam harinya, aksi teror bom kembali terjadi di Polsek Sidoarjo. Dan pagi tadi, teror kembali terjadi di Polrestabes Surabaya. 

Ane sendiri tak habis pikir orangtua macam apa yang menjadikan anak-anaknya menjadi pelaku bom bunuh diri. Mari bersatu dan melawan aksi terorisme ini. Waspadai juga media sosial. Kalau kamu melihat akun-akun yang malah mendukung aksi teror, screenshot pelakunya, bagikan informasinya kepada Divisi Humas Polri. Orang-orang semacam itu tak layak tinggal di Indonesia. #KAMITIDAKTAKUT.

Jangan ketinggalan info viral ini juga ya:

 

Tags :