Penuh dengan Politik Stigmatisasi, Pemilu Saat Ini Cenderung Fokus Pada Soal Menang dan Kalah

Penuh dengan Politik Stigmatisasi, Pemilu Saat Ini Cenderung Fokus Pada Soal Menang dan Kalah

Politik saat ini : saling ejek, saling sindir, nyinyir

Di tahun politik saat ini, Indonesia sedang menjalani masa kampanye sebelum digelarnya Pemilu serentak pada 17 April 2019. Sampai saat ini jika melihat ejekan-ejekan, saling sindir, nyinyir bahkan cenderung saling menjatuhkan. Jika dibandingkan dengan yang harus dilakukan saat kampanye, yaitu memberikan gagasan dan program untuk ditawarkan ke masyarakat yang angkanya masih bisa dihitung dengan jari, sangat terpaut jauh dengan jumlah politik negatif yang bisa ditemui di platform media sosial manapun dan masif.

Dilansir dari kompas.com, Titi Anggraini Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) mengungkapkan, saat ini kampanye berada di kompetisi yang cenderung mengedepankan politik stigma atau sentimen. Seolah-olah saat ini menang adalah target satu-satunya dengan mengabaikan tanggung jawab moral dan hukum yang harusnya menjadikan kampanye sebagai ruang edukasi masyarakat. Kampanye saat ini yang penuh dengan politik sentimen akan makin menegasikan stigma politik Indonesia menjadi lebih buruk sehingga membentuk golongan masyarakat yang makin apatis dengan politik di Indonesia.

1.

Politik stigma akan bentuk pemilih yang tidak kritis

Penuh dengan Politik Stigmatisasi, Pemilu Saat Ini Cenderung Fokus Pada Soal Menang dan Kalah

Politik stigma adalah melekatkan hal-hal negative pada kontestan lawan. Efeknya adalah akan membentuk pemilih yang tidak kritis, bukan lagi menjadi pemilih yang seharusnya mampu mengontrol kinerja para penguasa.

Sehingga apapun yang dilakukan oleh para kandidat pilihannya, masyarakat tidak akan mempersalahkan, malah akan membenarkan tindakan orang yang dipilih. Hal ini tentu akan membuat para petinggi tak perlu pusing-pusing lagi memikirkan program atau terobosan baru yang inovatif untuk ditawarkan ke masyarakat, karena pandangan masyarakat dalam menentukan pilihan pemimpin akan cenderung subjektif ketimbang objektif.

2.

Pandangan terhadap pemilu berubah negatif

Penuh dengan Politik Stigmatisasi, Pemilu Saat Ini Cenderung Fokus Pada Soal Menang dan Kalah

Untuk beberapa masyarakat juga akan memandang Pemilu yang harusnya menjadi pesta demokrasi malah berubah perang demokrasi dalam konotasi yang sesungguhnya. Kini pun fenomena tersebut nyata. Masyarakat terbagi menjadi dua kubu, saling serang, saling ejek, Pemilu yang menjadi perayaan demokrasi malah memecah belah masyarakat. Sehingga masyarakat yang paham akan hal itu akan menghindari politik, apatis, dan menganggap pemilu adalah aktivitas buang-buang uang negara untuk memecah belah bangsa Indonesia.

3.

Pemilu harusnya jadi ruang edukasi masyarakat

Penuh dengan Politik Stigmatisasi, Pemilu Saat Ini Cenderung Fokus Pada Soal Menang dan Kalah

Titi mengatakan bahwa peserta Pemilu harusnya punya tanggung jawab untuk mengedukasi masyarakat. Yaitu bagaimana cara bernegara dan menemukan sudut pandang bagus yang akan digunakan untuk memajukan Indonesia dan mengatasi problema-problema yang hadir selama ini.

Sehingga peserta dan kontestan Pemilu yang memenangkan dan pada akhirnya akan mengemban amanah masyarakat bisa merealisasikan janji-janjinya karena ditopang oleh pemilih yang objektif dan melek politik. Pemilih yang tidak terinformasi dengan baik tentang latarbelakang dan rekam jejak peserta pemilu akan teredukasi dengan pemilih yang memiliki kualitas dan legimitasi yang mumpuni untuk membawa programnya.

Sajian politik di Indonesia saat ini sangat tak sehat bagi masyarakat apalagi para pemilih pemula, yang mengetahui rekam jejak setiap elite dan pelaku politik berselang dua bulan lalu. Karena itu aplikasikanlah peribahasa dulu yang sudah direlevansikan dengan tahun politik saat ini, yaitu “Malu browsing, sesat di Pemilu”.

Baca Juga : Ini Alasan Prabowo Sulit Kejar Jokowi
 

Tags :