Merasa Pemerintah Tak Adil Soal Pajak Penulis yang Tinggi, Tere Liye Cabut 2 Kontrak Penerbit Besar

Merasa Pemerintah Tak Adil Soal Pajak Penulis yang Tinggi, Tere Liye Cabut 2 Kontrak Penerbit Besar
http://ekonomi.kompas.com/read/2017/09/07/074055126/pajak-penulis-selangit-tere-liye-putus-kontrak-2-penerbit

Besar banget pajaknya! Kirain pajak kayak biasanya...

Penulis buku terkenal di Indonesia, Tere Liye, mempermasalahkan tingginya pajak yang harus dibayar buat profesi para penulis. Tere Liye merasa pemerinta selama ini gak adil, karena para penulis buku dikenakan pajak yang lebih tinggi dari profesi-profesi lainnya. Kritiknya terhadap pajak ini dituangkan lewat statusnya di Facebook.

Benarkah demikian? Yuk kita cek.

Di status yang ditulisnya, Tere Liye ngasih ilustrasi perhitungan pajak sejumlah profesi yang ada, kayak dokter, arsitek, artis, dan pengusaha. Trus, dia membandingkannya dengan pajak yang harus dikeluarin penulis.

"Lantas penulis buku, berapa pajaknya? Karena penghasilan penulis buku disebut royalti, maka apa daya, menurut staf pajak, penghasilan itu semua dianggap super netto. Tidak boleh dikurangkan dengan rasio NPPN, pun tidak ada tarif khususnya. Jadilah pajak penulis buku: 1 milyar dikalikan layer tadi langsung. 50 juta pertama tarifnya 5 persen, 50-250 juta berikutnya tarifnya 15 persen, lantas 250-500 juta berikutnya tarifnya 25 persen. Dan 500-1 milyar berikutnya 30 persen. Maka total pajaknya adalah Rp 245 juta."


Tere Liye udah menyurati banyak lembaga resmi pemerintah, termasuk Dirjen Pajak dan Bekraf setahun terakhir, tapi katanya gak ada satu pun surat yang ditanggapi.

Karena udah ngerasa gak adil, akhirnya Tere Liye memutuskan untuk gak lagi menerbitkan buku lewat penerbit. Dia mengumumkan udah memutuskan kontrak dengan dua penerbit besar di Indonesia, yakni Gramedia Pustaka Utama dan Republika.



Yaaah, sedih... Tapi tenang, buat kamu penggemar karya-karya Tere Liye, buku-buku atau tulisan terbaru Tere Liye nanti masih bisa dibaca lewat media sosial atau akses lainnya kok. Tere Liye sendiri yang mengkonfrimasi lewat statusnya.

"Insya Allah, buku-buku baru atau tulisan-tulisan terbaru Tere Liye akan kami posting lewat media sosial page ini, dan atau akses lainnya yang memungkinkan pembaca bisa menikmatinya tanpa harus berurusan dengan ketidakadilan pajak," janji Tere Liye.

Kalo udah kayak gini, seharusnya pemerintah perlu bertindak. Udah semakin sedikit para penulis kenamaan Indonesia yang bisa menelurkan karya-karya berkualitas. Kalo dari pemerintah sendiri gak mewadahi, maka penulis-penulis ini bisa hilang. Padahal kan karya sastra adalah salah satu jendela ilmu. Kartini aja bisa berpendidikan karena baca buku sastra.

Buat temen-temen, jangan beli yang bajakan ya, dan kurangi budaya "minjem". Yuk kita beli dan baca buku untuk menambah wawasan. Ini sekaligus juga bentuk dukungan kamu terhadap penulis loh.

Tags :